Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2024

Naik Transportasi Umum dan Perubahan Hidup yang Mengejutkan

Sejak bepergian menggunakan kendaraan umum, aku sering ditanya, "Kenapa naik kendaraan umum? Bukannya lebih capek? Motornya ke mana emang? Apa karena trauma habis jatuh kemarin?" Ada juga yang mengira aku sedang berhemat. Sebenarnya, aku mulai mencoba naik kendaraan umum pada bulan Mei 2024, sekitar dua minggu setelah sesi tatap muka dengan psikologku. Manajemen Energi Selama lima bulan pertama tahun 2024, salah satu fokus konselingku adalah pengolahan energi. Ini tidaklah mudah karena aku perlu mengusahakan banyak hal yang menunjangnya: makanan, tidur, fisik, beban pikiran, dan lingkungan. Selama lima bulan itu pula, hanya ada satu pertanyaan yang memeras otakku begitu keras: "Bagaimana caranya aku punya cukup energi untuk menjalani hari-hariku?" Kondisi ini dipicu beberapa hal yang terjadi di saat bersamaan dan karenanya, tidak ada satu solusi pasti yang bisa menjadi jalan keluar. Kebuntuan itu bercampur dengan kepekatan kecemasan. Rasanya seperti otakku direndam ...

Pos-strukturalisme dan "I Don't Understand, but I Luv U"-nya Seventeen: I want to be accepted and loved, even without being understood.

Waktu kuliah, dosenku ada yang bilang, "Silvy, sebaiknya ganti pendekatan, ya. Yang kamu gunakan ini pos-strukturalis, terlalu kompleks. Pos-strukturalis selalu open-ended . Tidak ada akhir." Pada saat itu, aku hanya mengiyakan meskipun aku tidak mengerti kenapa pendekatan itu menjadi sebuah masalah. Sekarang, aku bisa bilang mungkin memang sangat sulit untuk melakukan penelitian—sesederhana apapun itu—dengan pendekatan pos-strukturalis di kultur intelektual negara ini. Penelitian harus selalu punya kesimpulan yang memuaskan, kalau bisa malah mudah ditebak atau cocok dengan hipotesisnya (padahal penelitian tidak bekerja seperti itu. Ya, kan?).  Setelah mempelajari pos-strukturalis sedikit demi sedikit, aku menyadari bahwa sejak kecil, dengan lensa inilah aku selalu melihat dan berusaha memahami “dunia”. Waktu kecil, aku sering bertanya, "Kenapa? Kenapa? Kenapa?" Tapi, orang dewasa di sekitarku tidak bisa menjawabnya. Jika mereka menjawab, jawabannya terdengar sepert...

Bunuh diri adalah pilihan yang valid: sebuah pernyataan dan sekumpulan pertanyaan.

[Ditulis atas rekomendasi psikolog berdasarkan hasil konseling tanggal 30 Juni 2024, “Coba Silvy tuliskan pandangan Silvy, rasanya akan menarik.”] "Kayaknya selama konseling aku cuma nunggu Kak X bilang aku boleh eutanasia," kataku ke psikologku. Beliau sontak menggeleng tidak setuju sambil berdeham, "Heh?!" karena tugasnya sebagai psikolog adalah membantuku untuk tetap hidup. Percakapan ini muncul karena aku sempat bilang aku mau mati. Aku menjelaskan: Bagiku, tujuan hidupku adalah mati dan memang inilah keinginanku sejak kecil (selama aku masih hidup, selama itu juga kehidupanku sia-sia). Aku ingin mati bukan karena aku takut hidup. Aku tahu kebanyakan orang berpikir, “Penyebab orang ingin mati adalah karena ia takut hidup, takut akan masa depan, dan takut akan ketidakpastian.” Karena inilah asumsi khalayak, aku mulai bertanya ke diriku sendiri, "Apa benar aku ingin mati karena aku takut hidup? Apakah karena ini juga aku penuh kecemasan?"  Berdasarkan ha...