Naik Transportasi Umum dan Perubahan Hidup yang Mengejutkan
Sejak bepergian menggunakan kendaraan umum, aku sering ditanya, "Kenapa naik kendaraan umum? Bukannya lebih capek? Motornya ke mana emang? Apa karena trauma habis jatuh kemarin?" Ada juga yang mengira aku sedang berhemat. Sebenarnya, aku mulai mencoba naik kendaraan umum pada bulan Mei 2024, sekitar dua minggu setelah sesi tatap muka dengan psikologku.
Manajemen Energi
Selama lima bulan pertama tahun 2024, salah satu fokus konselingku adalah pengolahan energi. Ini tidaklah mudah karena aku perlu mengusahakan banyak hal yang menunjangnya: makanan, tidur, fisik, beban pikiran, dan lingkungan. Selama lima bulan itu pula, hanya ada satu pertanyaan yang memeras otakku begitu keras: "Bagaimana caranya aku punya cukup energi untuk menjalani hari-hariku?" Kondisi ini dipicu beberapa hal yang terjadi di saat bersamaan dan karenanya, tidak ada satu solusi pasti yang bisa menjadi jalan keluar.
Kebuntuan itu bercampur dengan kepekatan kecemasan. Rasanya seperti otakku direndam dalam oli dan oli itu menggantikan darahku, mengalir ke seluruh tubuhku. Rasanya tubuhku berat dan kaku, sangat lengket. Otakku juga bukan mesin, jadi oli jelas tidak akan membantu. Toh, oli itu terlalu kental untuk menjadi pelumas dan memang bukan pelumas yang otak butuhkan ketika lelah. Yang dibutuhkannya adalah istirahat. Sayangnya, aku tidak punya privilese untuk mengambil jeda dari pekerjaan, sekalipun jeda itu merupakan rekomendasi tertulis dari psikologku. Jadilah, selama lima bulan yang panjang, otakku tidak bekerja dengan baik dan seringkali menyerah. Otakku seperti kebas, terlalu lelah bekerja dan kini mengalami koma. Dampaknya? Aku tidak bisa berpikir jernih. Pikiran rasional digantikan impuls emosional. Tubuhku kehilangan komando (selesu apapun, terserah tubuhku ia ingin bergerak seperti apa). Kondisiku pun memburuk di bulan April dan melihat ini, psikologku bilang, "Kalau Silvy mau ke psikiater, bilang, ya. Nanti akan saya siapkan suratnya," (lol). I love how softly she said it, tidak terdengar seperti rekomendasi genting. Padahal aku bisa melihat kekhawatiran terlukis jelas di wajahnya.
Alih-alih segera ke psikiater, aku justru mengatur jadwal tatap muka dengan psikologku untuk melakukan asesmen, all set pada tanggal 5 Mei 2024. Setelah itu, aku—yang datang sesi sebanyak dua hingga empat kali sebulan sejak Februari—menghilang. Aku bertemu lagi dengan psikologku di akhir bulan Mei. Psikologku menyambut, "Silvy ke mana aja? Saya tungguin juga." Beliau tersenyum. Aku memberitahunya aku capek. Aku bahkan tidak punya cukup energi untuk konseling. Aku sangat, sangat lelah. Semuanya terasa tidak berguna. Mendengar itu, psikologku bilang, "Kelihatannya Silvy tidak berproses, padahal Silvy sudah banyak berproses. Hanya saja, Silvy menghadapi banyak hal, ada banyak yang harus dikerjakan. Jadi, Silvy bingung harus mulai dari mana." Memang benar, tapi—seperti yang sudah kukatakan sebelumnya—aku tidak menyerah. Aku terus melaju.
Akhirnya, aku melaporkan apa saja yang sedang dan sudah aku lakukan untuk mengatasi keadaanku.
Naik Motor Membuatku Terjebak dalam Lingkaran Neraka
Aku menceritakan pengalamanku berangkat dan pulang kerja naik motor. Aku merasa capek banget setiap kali naik motor. Bukan cuma karena jalanannya macet, tapi aku benar-benar tidak bisa menikmati perjalananku. Terkadang, aku cuma mau menikmati lagu kesukaanku, tapi orang-orang sering mengklakson. Like, let me enjoy my journey home! Heran, kenapa harus mengklakson? Padahal aku nyetir sudah minggir ke kiri.
Kalau naik motor, aku juga harus selalu fokus, sekalipun aku sangat mengantuk (sebagai orang yang pernah mengidap insomnia, aku tahu dampak buruk dari melawan rasa kantuk dan memaksakan diri untuk tetap aktif). Belum lagi rasanya seperti bergerak secara otomatis, macam robot. Aku tidak perlu benar-benar memperhatikan jalan untuk bisa sampai di rumah. Keadaan ini bikin overthinking-ku memuncak. Ujung-ujungnya aku makin stres.
Aku yakin berangkat dan pulang naik motor menguras banyak energiku. Karena energiku berkurang banyak, aku jadi capek setibanya di rumah. Bukannya segera melakukan hal yang aku suka dan produktif, aku justru menghabiskan waktuku untuk recharge. Waktu selesai recharge, jam malah menunjukkan tengah malam! Akhirnya aku tidur menjelang pagi, istirahatku kurang. Paginya aku bangun dalam keadaan lelah dengan tingkat energi yang rendah. Lingkaran neraka ini terus berulang.
Naik Kendaraan Umum Memberikan Lebih Banyak Kesempatan Me-Time
Sebetulnya, aku tidak menyangka bahwa naik kendaraan umum ternyata membawa lebih banyak pengaruh baik bagiku. Benar, naik kendaraan umum memang membutuhkan waktu lebih lama untuk tiba di tujuan. Namun, aku tidak menghitung waktu berdasarkan kecepatan (“Tapi naik motor, kan, lebih cepet sampe di rumah. Emang enak lama di jalan gitu?”). Aku menilainya dengan pertanyaan, “Apa yang bisa aku lakukan dalam waktu X?”
(Membicarakan waktu seringkali membuatku memikirkan Lakoff dan Johnson yang mengatakan bahwa cara kita memandang waktu banyak dipengaruhi Barat dan kapitalismenya. Contohnya, “time is money” muncul karena industrialisasi.)
Aku butuh waktu maksimal satu jam untuk tiba di rumah dengan mengendarai motor, tapi aku hanya bisa fokus menyetir selama satu jam itu. Ini sama saja dengan membuang-buang waktu! Sementara itu, aku butuh waktu setidaknya dua jam untuk tiba di rumah dengan transportasi umum. Meskipun lebih lama, aku bisa menikmati waktuku selama perjalanan. Aku merasa lebih santai dan rileks. Aku merasa inilah yang disebut slow-living: aku tidak perlu cemas akan kehabisan waktu di perjalanan kota Jakarta yang tidak menentu. Aku bisa menikmati waktu sendiri (re: me-time) yang menyenangkan dengan membaca, menulis, dan mengerjakan proyek. Aku juga bisa beristirahat dan tidur sejenak jika mengantuk, tanpa merasa khawatir akan membahayakan orang lain. Alhasil, aku merasa accomplished dan recharged. Melihat ini sebagai progress yang baik, psikologku menanggapi, "Saya bahkan tidak terpikir merekomendasikan naik kendaraan umum karena itu bukan hal yang klien saya biasa lakukan. But it works buat Silvy, ya. Lagi-lagi, memang Silvy yang paham apa yang terbaik untuk Silvy."
(Geulbaewoo dalam buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah menuliskan bahwa untuk merasa bahagia dan menyukai diri sendiri, kita harus lebih sering melakukan hal yang kita sukai. Inilah yang disebut kebahagiaan kecil. Hal yang kita lakukan sederhana, tapi kita sangat menyukainya hingga kita merasa bahagia. Tulisan ini membuatku menyadari betapa aku tidak bahagia ketika naik motor. Aku lebih bahagia naik kendaraan umum.)
Naik Kendaraan Umum Memberikan Lebih Banyak Kesempatan Berolahraga
Aku memberitahu psikologku bahwa aku sedang mencoba berolahraga lagi. Ini adalah langkah yang bagus, mengingat aku sempat merasa frustasi karena sepertinya berolahraga tidak terlalu membantuku (berdasarkan catatan harianku sepanjang tahun 2023). Selain itu, aku juga merasa berolahraga tak lain hanyalah sebuah hukuman (aku tidak bisa benar-benar menikmatinya). Awalnya, aku berpikir pemicunya adalah statusnya sebagai suatu “keharusan” dari psikologku (“rekomendasi” sebenarnya, tapi jika aku tidak berolahraga, aku harus ke psikiater. Jadi, sama saja, kan? Jika aku ingin recover, aku harus berolahraga).
Setelah kupikirkan lebih jauh, sepertinya aku merasa seperti itu karena komentar dari beberapa orang, “Emangnya ngga bakal tambah kurus? Badannya udah kerempeng kayak gitu juga,” atau “Emang olahraganya ngapain, sih? Paling cuma sebentar, ngga bakal ada efeknya.” Komentar seperti ini tanpa sadar menumbuhkan pandangan dalam diriku bahwa berolahraga = menyakiti diri sendiri (dengan menjadi lebih kurus) dan bahwa berolahraga tidak ada gunanya karena aku tidak ke gym. Bisa-bisanya aku termakan komentar orang lain, lol. Untungnya, sekarang aku memahami bahwa olahraga punya banyak fungsi dan tujuan, tergantung kebutuhan perseorangan. Olahraga yang sederhana tidak sia-sia karena semua yang baik bagi tubuh dimulai dari hal kecil. Semua yang baik bagi tubuh merupakan investasi jangka panjang, jadi hasilnya memang tidak langsung terlihat. Yang kecil dan sederhana itu akan memberikan hasil signifikan nantinya.
Setelah naik kendaraan umum, aku menyadari aku jadi lebih sering berjalan kaki—salah satu bentuk olahraga paling sederhana. Pengalaman ini juga yang mengajarkanku regulating my body = regulating my emotions. Aku akan terus kesulitan mengolah emosiku jika aku tidak melakukan apa-apa secara fisik untuk menunjangnya. Aku yakin inilah alasan psikologku memintaku berolahraga sebelum akhirnya merekomendarikanku ke psikiater. Katanya, “Menurut saya, (stabilitas emosi) Silvy ini perlu dibantu secara fisik.” I'm actually so proud of myself karena bisa sampai di tahap aku rutin berjalan kaki, rajin yoga sederhana, dan terkadang berolahraga mengikuti instruktur di YouTube (lol). “Ternyata inilah rasanya stabil (meski belum 100%) secara emosional,” pikirku. Stabilitas ini juga memungkinkanku untuk detach, membebaskan diri dari situasi yang menguras energiku. Saat ini aku sudah lebih baik dalam menilai situasi dan bereaksi, walaupun aku masih harus check-in dengan diri sendiri, “How does this serve me? Doesn’t serve me at all? Detach, let go.”
(Kenapa orang-orang sering bilang, “Kasian jalan kaki, nanti capek”?)
Naik Kendaraan Umum Memberikan Lebih Banyak Kesempatan Menjadi Bagian dari Masyarakat tanpa Harus Berpartisipasi Aktif
I hate most people, itu yang kubilang ke psikologku. Ini bukan hal yang mengejutkan, apalagi psikologku sudah pernah menganalisis kebiasaanku saat berinteraksi dengan orang lain. Beliau bilang, “Silvy cenderung melihat orang lain sebagai objek observasi untuk dianalisis.” Mendengar itu, aku menyengir. Ketahuan juga, ternyata (lol).
Kebiasaan itu membuatku hyper-aware baik dengan kehadiran orang lain maupun pikiranku sendiri. Aku tidak pernah sepenuhnya present in the moment dan carefree selama bersosialisasi karena aku sibuk menulis mental note tentang objek observasiku. Bagusnya, aku bisa mengingat banyak hal tentang orang lain. Jeleknya, ini menghilangkan apa yang menyenangkan dari interaksi antarmanusia, sehingga berinteraksi dengan orang lain seringnya hanya menguras energiku. Akibatnya, aku menganggap berinteraksi itu tidak penting, malah cenderung merugikan.
Kebiasaan itu jugalah yang menyebabkanku merasa kesepian dan terlalu sendiri. Pada masa awal-awal konseling, aku menangisi ini (aku ingat, trigger-nya adalah Seventeen, lol). Psikologku menanggapi, “Kalau Silvy mau punya orang-orang yang mendukung dan membersamai Silvy, Silvy harus membiarkan mereka membantu Silvy. You have to let them in.” I think I’m getting better at this karena sekarang aku tahu kapan, kepada siapa, dan bagaimana caranya meminta tolong. Aku juga sering berlatih mengomunikasikan kebutuhanku supaya orang terdekatku bisa lebih mudah membantuku. Aku lebih terbuka saat menghadapi relasi manusia, walaupun tak bisa kupungkiri, aku masih sering misuh. Aku tidak merasa kesepian dulu, juga merasa aku punya orang-orang yang mendukungku.
Sayangnya, support system dan orang terdekatku hanyalah lingkaran yang sangat kecil jika dibandingkan dengan masyarakat. Aku masih payah dalam handling mereka. I still hate most people, afterall. Keharusan melihat manusia lain, begitu banyak manusia di negara terpadat ketiga di dunia ini, menguras banyak energi. Rasanya lebih baik aku lenyap dari bumi karena setidaknya bumi bisa kehilangan satu bebannya. Rasanya lebih baik aku menjadi spesies apapun itu asal bukan homo sapiens karena segelintir manusia sangatlah bodoh dan egois, membuatku malu mengidentifikasikan diri sebagai manusia. Perasaan ini membuatku frustasi karena, ya sudah pasti, aku tidak bisa memilih sebagai apa aku dilahirkan.
Lagi-lagi, tidak aku sangka ternyata naik kendaraan umum membantuku pelan-pelan mengatasi perasaan dan pandanganku soal manusia (apakah ini termasuk exposure therapy?). Saat naik kendaraan umum, aku berada dalam dan bersama masyarakat. Ada banyak orang di sana, tapi aku tidak terlalu merasa tertekan. Aku mengamati tanpa menganalisis mereka. Aku hanya mengakui dengan pasrah bahwa mereka ada. Aku menerima mereka dan diriku sendiri sebagai manusia. Aku bisa bersama mereka, tanpa harus berpartisipasi aktif. Aku tidak perlu mengobrol, tidak perlu menjelaskan diriku untuk bisa diterima. Aku ada, mereka ada. Kami kebetulan berbagi ruang dan waktu. “Not bad,” pikirku. Ternyata, manusia tidak terlalu menyebalkan saat di kendaraan umum. Bukannya kehabisan energi, aku justru menyerap energi dari mereka. “Inilah orang-orang yang masih terus bergerak maju, memilih hidup walaupun lelah. Mereka keren juga,” catatku.
Namun, aku tahu, ada kemungkinan sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dalam kendaraan umum. Itu sebabnya aku bilang ke psikologku, “Sejauh ini, pengalamanku naik kendaraan umum menyenangkan. Entah ke depannya bagaimana. Mungkin akan ada kejadian buruk.” Psikologku tidak menyambut baik dugaanku yang pesimistis. Of course.
***
Pengaruh baik lain yang kudapatkan dari commuting adalah: aku bisa merasa baik-baik saja (atau setidaknya merasakan emosi kuat tertentu dalam batas wajar) tanpa konseling. Alhasil, aku hanya book dua sesi konseling di bulan Juli dan Agustus, separuh dari yang sudah-sudah sejak bulan Februari.
Di saat-saat seperti ini, aku merasa sangat bersyukur. Aku merasa ada gunanya juga aku membayar pajak karena pajak itu digunakan pemerintah untuk sesuatu yang menguntungkan masyarakat luas. Aku merasa bersemangat membayar pajak. Namun, menyadari bahwa sebagian besar pajak itu justru habis dikorupsi pejabat, aku menghela napas panjang. Sejak naik kendaraan umum, aku lebih sering menghaturkan doa tentang pemerintah. Doaku biasanya berbunyi, “Ya Allah, ampunilah hamba karena hamba tidak bisa menjalankan anjuran-Mu untuk memaafkan hambamu yang lain. Sampai mati hamba tidak ikhlas memaafkaan pejabat yang terus-menerus menyulitkan masyarakat.”
Aku sering iri dengan rakyat Jakarta yang punya Jaklingko dan Transjakarta. Aku yang tinggal di Bekasi ini masih harus naik kendaraan umum tidak layak. Bekasi pernah punya Bus Patriot, tapi beroperasi hanya sebentar karena, katanya, tidak ada biaya. Kenapa bisa sampai tidak ada? Pajak rakyat ke mana? Pajak dari perusahaan di kavling industri ke mana? Ke mana lagi kalau bukan kantong pribadi pejabat? Ke mana?
(Ya, taraf kesehatan mental dan kesejahteraan hidup bergantung pada pemerintahan negara. Gila, ya?)