Pos-strukturalisme dan "I Don't Understand, but I Luv U"-nya Seventeen: I want to be accepted and loved, even without being understood.

Waktu kuliah, dosenku ada yang bilang, "Silvy, sebaiknya ganti pendekatan, ya. Yang kamu gunakan ini pos-strukturalis, terlalu kompleks. Pos-strukturalis selalu open-ended. Tidak ada akhir." Pada saat itu, aku hanya mengiyakan meskipun aku tidak mengerti kenapa pendekatan itu menjadi sebuah masalah. Sekarang, aku bisa bilang mungkin memang sangat sulit untuk melakukan penelitian—sesederhana apapun itu—dengan pendekatan pos-strukturalis di kultur intelektual negara ini. Penelitian harus selalu punya kesimpulan yang memuaskan, kalau bisa malah mudah ditebak atau cocok dengan hipotesisnya (padahal penelitian tidak bekerja seperti itu. Ya, kan?). 

Setelah mempelajari pos-strukturalis sedikit demi sedikit, aku menyadari bahwa sejak kecil, dengan lensa inilah aku selalu melihat dan berusaha memahami “dunia”. Waktu kecil, aku sering bertanya, "Kenapa? Kenapa? Kenapa?" Tapi, orang dewasa di sekitarku tidak bisa menjawabnya. Jika mereka menjawab, jawabannya terdengar seperti pengaturan bawaan. Aku tidak pernah puas dengan jawaban-jawaban itu. Bertahun-tahun setelahnya, aku menemukan bahwa inilah salah satu hal yang membuatku punya kondisi dan kecenderungan mental tertentu. Kata psikologku, "Inilah salah satu luka Silvy." Bertahun-tahun setelahnya juga aku menemukan bahwa aku akan terus merasa tersiksa karena, mengutip psikologku, "Silvy berpikir dengan cara yang sangat berbeda dari kebanyakan orang Indonesia. Ini mungkin akan terus challenging bagi Silvy."

Parahnya, jawaban yang berasal dari budaya dan norma sosial seringkali menerbitkan beribu-ribu ekspetasi dan label yang mengkotak-kotakkan manusia. Aku tidak mengerti kenapa setiap orang seperti harus masuk ke kotak tertentu dan bukannya menjadi kotak bagi diri sendiri karena setiap orang terlahir unik. Aku jadi kesulitan menerima bahwa aku ini memang diriku sendiri. Aku tidak suka orang-orang punya ekspektasi terhadapku, apalagi sampai menyusun banyak asumsi tentangku, lalu memperlakukanku berdasarkan asumsi itu (oh ya, memperlakukan orang lain berdasarkan asumsi semata termasuk bentuk diskriminasi, lho). Iya, yang tidak aku sukai ini bukan sesuatu yang bisa aku kontrol. Itu sebabnya aku sering merasa frustasi ketika bersosialisasi. Aku lebih suka punya banyak ruang untuk diriku sendiri. Aku bilang ke psikologku, "I hate most people. Is that okay?" Beliau menanggapi, "Ya, it's okay. Toh, Silvy tahu Silvy tidak membenci semua orang. Silvy tahu Silvy bisa menjadi diri Silvy dengan orang yang tepat." Jadi, aku tidak perlu memaksakan diri menyukai orang lain, juga tidak perlu berusaha keras untuk disukai mereka. I can just be me and it's nothing bad.

Namun, tentu saja living as myself di tempat yang hanya mengerti dan menerima kotak tidaklah mudah. Aku sering merasa stagnan ketika berelasi dengan orang lain. Aku sering merasa marah karena aku terus dipaksa menjelaskan soal diriku, ditanya-tanya soal pilihan hidupku. Aku tidak pernah merasa perlu mendengarkan penjelasan orang lain soal diri mereka karena aku punya kapasitas dan kapabilitas untuk menerima mereka beserta segala perubahan yang mereka alami. Aku tidak perlu memahami mereka sepenuhnya untuk bisa menerima dan menyayangi mereka. Aku bilang ke psikologku, "Aku ingin punya seseorang yang juga bisa menerima dan menyayangiku seperti itu. I want to be accepted and be loved even without being understood," dan psikologku terlihat bingung. Baginya, untuk bisa dicintai, kita harus merasa dipahami terlebih dahulu. Aku menjawab, "But why do people love God so much? They can't understand Him and what He's doing with our lives, tapi mereka bisa menerima-Nya begitu saja? Bisa mencintai-Nya seperti itu? Kenapa manusia tidak bisa menerapkan cinta yang sama ke sesamanya?" Psikologku terdiam. Itulah. Kenapa cinta tanpa syarat hanya berlaku untuk Tuhan? Bukankah agama mengajarkan baik kepada-Nya dan baik kepada seluruh ciptaan-Nya?

(Ah, inikah alasan kenapa Carats merasa lagu “I Don’t Understand, but I Luv U”-nya Seventeen sangat mengena?)

Namun, tentu saja living as myself di tempat yang hanya mengerti dan menerima kotak tidaklah mudah. Tambah sulit karena Indonesia menganut kultur kolektivis di mana identifikasi dan pemaknaan diri bergerak dari luar ke dalam. Aku sering merasa kesulitan menerima diriku sendiri karena masyarakat dan norma menentangku. Aku tidak bisa menempatkan diriku dalam kotak-kotak dengan label yang pasti, yang mengunciku pada satu kategori. Psikologku bilang, "Benar, ini sangat sulit bagi Silvy. Alternatif yang bisa kita ambil saat ini adalah melihat diri sebagai sesuatu yang dinamis." Sejujurnya, masyarakat membuatku sangat lelah. Aku tidak seharusnya merasa hidupku sangat sulit sampai rasanya ingin menguliti diri sendiri hanya untuk membuktikan, "Aku juga seperti kalian! Sama-sama manusia! Aku hanya berbeda. Itu saja."

Kembali ke pos-strukturalis. Aku suka pendekatan ini. Aku suka lensa ini. Aku suka sekali keyakinan bahwa semua di dunia ini dinamis dan senantiasa berubah. Aku suka sekali pandangan yang menyilakanku bertanya banyak hal soal cara "dunia" ini bekerja. Aku suka sekali punya otoritas atas diriku sendiri.

Baiklah. Serumit apapun, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk terus mempelajari pos-strukturalisme. Semoga bisa. Semoga kuat, lol.