Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

#CeritaHariIni: Peternakan dan Ketahanan Pangan

Di media sosial, banyak beredar meme yang berbunyi, “Kuliah haha-hihi, tiba-tiba skripsi.” Yang aku pahami dari meme ini adalah betapa cepatnya waktu berlalu karena menurutku, tidak mungkin kuliah hanya haha-hihi. Kalau sudah jadi mahasiswa/i tingkat akhir yang katanya “tiba-tiba skripsi” itu, biasanya ada sindrom yang menyerang: sindrom kilas balik, apalagi pandemi ini memang memaksa setiap orang mengingat-ingat masa lalu. Salah satu hal yang paling kuingat dari masa awal perkuliahan adalah teman-teman Fakultas Peternakan (Fapet) yang rajin menjual produk dari ternak di kampus. Produk yang paling umum dijumpai adalah susu Fapet. Rasa susunya memang enak, apalagi kalau dingin. Perisanya juga lumayan beragam. Selama berteman dengan anak Fapet, aku hanya mengenal susu dan yoghurt. Tapi, setelah mengobrol via ponsel dengan seorang teman akhir Agustus lalu, aku baru tahu ternyata Fapet juga memproduksi makanan beku. Temanku itu mengunjungi kantin Fapet beberapa waktu lalu di masa pandemi i...

Franz Kafka’s “A Hybrid”: Mengenali dan Menerima Diri Sendiri melalui Pengasingan

Selama hidupnya, Franz Kafka dapat dikatakan bergelut dengan dualitas identitas. Sebagai seorang Yahudi yang lahir di Praha namun tinggal dan hidup di Jerman, Kafka merasa terasingkan. Dia biasa bicara dalam bahasa Jerman, tapi dia tidak suka dengan caranya berbicara sebab aksen Cekonya masih terdengar. Di sisi lain, kerinduannya terhadap Tanah Yang Dijanjikan mendorongnya untuk mempelajari Yudaisme, bahasa Yiddish, dan bahasa Ibrani. Lika-liku identitas ini dapat ditemukan dalam karya-karyanya, terutama dalam bentuk pengasingan diri baik dari lingkungan maupun dari diri sendiri. Pengasingan dari diri sendiri atau, lebih tepatnya, melihat diri sendiri sebagai orang asing inilah yang dapat ditemukan dalam A Hybrid. Fiksi mini ini berkisah tentang narator ‘ I ’ yang tak bernama, yang oleh ayahnya diberikan “warisan” seekor hewan aneh. A Hybrid dibuka dengan, “ I have the strangest animal, half-kitten, half-lamb. It was inherited from my father, but has only developed in my lifetime.” S...

Serba-Serbi Anak Bekasi

Gambar
“Jangan dah , jangan berenti di Bekasi. Orang-orangnya barbar, anjir !” kata seorang pekerja yang entah bekerja di mana kepada teman-temannya, di sebuah kereta yang berangkat dari Bandung dengan pemberhentian terakhir Gambir pada tahun 2019 lalu. Mereka kedengarannya sedang mencari tempat menginap untuk istirahat. Aku yang Anak Bekasi ini duduk di bangku depan mereka. Aku mendengarkan diam-diam. Itu pertama kalinya aku tahu dan sadar bahwa (ada) orang Indonesia (yang) ternyata benar-benar berpikir Anak Bekasi itu barbar, sama halnya dengan warganet Indonesia yang masih sering merundung Anak Bekasi karena berbagai alasan. Misalnya, Bekasi yang panas dan gerah. “Seperti di neraka,” “Di Bekasi mataharinya ada dua,” dan “Bekasi panas karena ada di planet luar dekat matahari. Makanya itu orang Bekasi alien!” kata mereka. Anak Bekasi juga tak jarang diledek karena tidak bisa bicara menggunakan bahasa Sunda, padahal wilayahnya termasuk Jawa Barat. Di sini, aku mau berbagi momen kepikiranku te...