Bunuh diri adalah pilihan yang valid: sebuah pernyataan dan sekumpulan pertanyaan.
[Ditulis atas rekomendasi psikolog berdasarkan hasil konseling tanggal 30 Juni 2024, “Coba Silvy tuliskan pandangan Silvy, rasanya akan menarik.”]
"Kayaknya selama konseling aku cuma nunggu Kak X bilang aku boleh eutanasia," kataku ke psikologku. Beliau sontak menggeleng tidak setuju sambil berdeham, "Heh?!" karena tugasnya sebagai psikolog adalah membantuku untuk tetap hidup. Percakapan ini muncul karena aku sempat bilang aku mau mati. Aku menjelaskan:
Bagiku, tujuan hidupku adalah mati dan memang inilah keinginanku sejak kecil (selama aku masih hidup, selama itu juga kehidupanku sia-sia).
Aku ingin mati bukan karena aku takut hidup.
Aku tahu kebanyakan orang berpikir, “Penyebab orang ingin mati adalah karena ia takut hidup, takut akan masa depan, dan takut akan ketidakpastian.” Karena inilah asumsi khalayak, aku mulai bertanya ke diriku sendiri, "Apa benar aku ingin mati karena aku takut hidup? Apakah karena ini juga aku penuh kecemasan?"
Berdasarkan hasil asesmen, psikologku bilang aku punya banyak sekali energi, tapi aku juga punya banyak rasa cemas. Energi yang banyak itu tertahan hingga akhirnya aku tidak produktif.
Saat mendengar itu, aku berpikir, "Ah, cemasku banyak. Pantas saja." Apakah rasa cemas ini adalah rasa takut akan hidup? Apakah keduanya sama? Serupa? Berbeda? Aku tidak tahu pasti, yang jelas keduanya terasa sama di tubuhku. Lebih tepatnya, keduanya tersimpan di bagian tubuh yang sama. Berarti cemas = takut hidup, cemas = lelah hidup, dan takut-lelah hidup = ingin mati? Tidak. Aku bisa dengan percaya diri mengatakan tidak. Logikaku tidak memprosesnya seperti itu.
Bagiku, aku cemas dan lelah hidup, tapi aku tidak takut hidup. Lelah menandakan perlunya istirahat, jeda sesaat. Rasa takut berarti stagnan, pemicu kehidupan yang diam di tempat, “Kenapa hidupku gini-gini terus?” Aku tidak takut. Hidupku tidak stagnan. Aku banyak mencoba banyak hal, melakukan beragam kegiatan, dan terus mencoba membuat diriku bahagia. Semua ini juga semakin jelas karena aku menulis catatan harian. Aku merekam perasaan-perasaanku. Aku cemas dan memang ada banyak hal yang aku takutkan, tapi aku tidak takut akan kehidupan. Karena itu, aku tetap bisa melaju. Aku menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan. Aku memulai lagi dan lagi, pun menyelesaikan semuanya. Tidak selalu sempurna, tapi aku melakukannya. Lagi dan lagi. Aku tetap melaju. Aku tidak takut hidup. Itulah intinya.
Aku ingin mati bukan karena aku tidak punya tujuan hidup atau purpose, bukan karena aku tidak melihat makna dalam kehidupan, juga bukan karena aku tidak punya value.
Purpose, menurut Ashish Goel dalam bukunya “Drawing on Courage: a Stanford d.school guide”, adalah hal bermakna yang datang dari luar diri. Purpose ini semacam kontribusi ke lingkungan atau hal bermanfaat bagi orang lain, seperti visi yang menginspirasi atau misi sosial. Sementara itu, value bersifat internal dan termasuk di dalamnya adalah pendirian, sikap, juga kepercayaan.
(Aku bersyukur karena selama masa hidupku yang singkat ini, aku mengenal banyak orang yang secara terbuka memperjuangkan purpose dan value mereka, but I can’t help asking: “Kenapa banyak orang Indonesia yang kelihatannya lost? Apakah karena mereka tidak mengenali dan tidak mengetahui values mereka? Apakah ini dipicu oleh budaya kolektivis yang kini memburuk dengan fear of missing out, kebanyakan hanya ikut-ikutan, tanpa tahu apakah ada irisan diri mereka dalam hal yang mereka lakukan? Apakah ini juga karena—kelihatannya—value yang paling melekat bagi banyak individu adalah agama? Agama yang mengindikasikan adanya Tuhan sebetulnya terlalu abstrak untuk mewujud dan apakah karena ini, banyak orang Indonesia tidak memiliki purpose, terlebih purpose yang berbahan bakar value mereka? Kenapa kebanyakan yang punya purpose linear dengan value mereka justru orang-orang sampah yang gemar korupsi atau meraup profit tanpa ampun [‘bagiku, kekayaan penting dan aku mau lebih banyak uang’]?”)
Dalam catatan harianku tahun 2022 lalu, sebuah entri yang kutulis ketika job-hunting berbunyi, "I have been suicidal since I was 8." Apakah aku menulis itu karena sulit mencari pekerjaan? Tidak. Aku sudah dapat tawaran menjadi pengajar tetap bahkan sebelum lulus kuliah. Aku juga telah mendapatkan tawaran dari beberapa tempat mengajar. Apakah aku menuliskannya karena aku merasa insecure dengan pekerjaanku? Nope.
"Cuma jadi guru," begitu orang-orang biasanya bilang. Namun, menjadi guru adalah mimpiku sejak kecil. I've always wanted to be a teacher. Aku tidak menjadi guru karena itulah pekerjaan yang paling mudah didapat oleh lulusan Sastra Inggris. Aku memilih menjadi guru karena aku suka dan senang melakukannya. Menjadi guru adalah purpose bagiku. Aku melihat nilai dan makna dalam profesi ini, juga dalam setiap hal yang aku lakukan untuk mengajar dengan baik. Aku melihat begitu banyak nilai dan makna dalam profesi ini sampai aku juga menjadikannya sebagai “tabungan akhirat”. Dengan begitu, ini pun mendukung purpose-ku yang lain: to die.
Ketika menulis "I have been suicidal since I was 8," aku juga tidak bisa mengabaikan waktu yang terus bergulir dan rasanya kian cepat. Waktu, dunia, dan seisinya (termasuk di dalamnya orang-orang, society) menuntutku untuk terus bergerak, untuk terus maju. It feels like we’re being peer-pressured (society-pressured) into living. Kenapa? Kenapa aku harus terus bergerak? Kenapa aku harus terus maju? Kenapa aku masih harus menjalani hari-hariku ketika aku sudah merasa cukup dengan kehidupanku? Aku merasa content dengan kehidupanku. Aku tidak menginginkan lebih, juga tidak membutuhkannya. Jadi, untuk apa aku terus bergerak, terus maju seperti ini? Kenapa aku merasa sebegitu terpaksanya menjalani kehidupanku, semua semata-mata karena bunuh diri dianggap tabu oleh masyarakat? Lagi pula, memangnya siapa masyarakat itu sampai mereka gencar sekali menyuruh orang lain hidup? Irikah mereka dengan orang-orang yang bunuh diri? Marahkah mereka kepada orang-orang yang bunuh diri karena mereka sendiri terlalu pengecut untuk bunuh diri? Kenapa? Kenapa terus menekankan penting dan indahnya kehidupan agar lebih banyak orang ingin hidup? Kalau memang kehidupan penting dan indah, rasanya tidak perlu menekankannya terus-menerus? Mungkinkah ini hanya sebuah upaya masyarakat meyakinkan diri mereka bahwa kehidupan penting dan indah? Bukankah mereka hanya sedang menyangkal kenyataan bahwa hidup tidak lagi liveable?
Masyarakat menyuruh orang lain hidup seolah-olah mereka siap turut memikul tanggung jawab perseorangan, padahal secara kolektif masyarakat telah gagal menciptakan kehidupan yang ramah bagi semua orang. Iya, semua, bukan hanya segelintir. Kehidupan sejahtera bagi semua, termasuk yang bukan manusia. Aku tahu kemampuanku sebagai manusia sangat terbatas. Kemungkinanku masuk ke dalam dan mengubah sistem sangatlah kecil—bukannya tidak bisa, aku paham, hanya saja kecil; membangun sistem tandingan yang sama kuatnya membutuhkan waktu, sedangkan sistem yang buruk justru makin kuat dalam waktu singkat karena kekuasaan. Aku juga memahami bahwa kapasitasku untuk membantu orang lain tidaklah besar. Meskipun membantu, tidak ada jaminan bahwa apa yang aku lakukan berdampak signifikan. Ini tidak berarti aku tidak melakukan apa-apa. Aku mencoba banyak hal, juga terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, kerja individu tidak cukup untuk membentuk kehidupan yang sejahtera bagi semua. Kerja kolektif juga dibutuhkan. Bakunin dalam bukunya “God and the State” bilang ada tiga jalan keluar dari situasi ini: escapism yang memberikan rasa lega singkat; propaganda teologis, semacam obat penenang; dan revolusi sosial.
Escapism sedang marak di Indonesia. Mabuk-mabukan, judi online, konser dan festival musik, ceramah keagamaan, tren media sosial, hang out demi konten, dan lain sebagainya.
Propaganda teologis bukan hal baru di Indonesia, sekarang justru makin banyak kelompok ekstremis. Banyak politikus yang menggandeng tokoh, institusi ataupun organisasi keagamaan untuk melancarkan agenda mereka. Kroni-kroni ini pun meninabobokan masyarakat dengan ucapan-ucapan tentang Tuhan dan janji-Nya untuk membantu hamba-hamba-Nya. Inilah yang akhirnya membatu dan membentuk keyakinan kolektif, “Ini semua jalan Tuhan,” atau “Ini takdir.” Mungkin karena sebagian besar penduduk Indonesia bersuku Jawa, banyak orang Indonesia juga gemar menyanyikan lagu ninabobo, “Gusti Alloh mboten sare,” dan “Nrimo ing pandum.” Pasrah, pasrah, pasrah. Aneh. Padahal penganut agama meyakini Tuhan menciptakan manusia sebagai kepanjangan tangan-tangan-Nya, sebagai khalifah. Bagaimana bisa membawa kebaikan atau menjadi khalifah jika pasrah melulu tanpa perjuangan?
Revolusi sosial. Entah bagaimana ini bisa kembali menyala di Indonesia. Pasalnya, kekuasaan di Indonesia sedang gencar-gencarnya memperbudak dan membodohi masyarakat. Gejala yang Bakunin bicarakan sedang berlangsung, “Seluruh pemerintah menganggap kebodohan ini sebagai salah satu syarat penting dari kekuatan mereka sendiri. (Masyarakat) Dibebani oleh tugas sehari-hari, waktu senggang untuk bersantai-santai dan menjalin hubungan intelektual serta membaca dirampas, singkatnya semua sarana dan bagian yang baik dari rangsangan-rangsangan yang mengembangkan pikiran manusia, orang-orang yang umumnya menerima tradisi keagamaan tanpa kritisisme dan sekadar ikut-ikutan.” Buktinya? UKT yang mahal agar hanya yang kaya yang bisa sekolah, kemudian yang kaya itu akan turut menyumbang ke kekayaan pemerintah. Sistem pendidikan yang bobrok, tradisi intelektual yang cacat. Perguruan tinggi yang orientasinya terus mengekor industri neoliberal guna memasok tenaga kerja, bukan pekerja intelektual. So now… bagaimana caranya mewujudkan revolusi sosial? Bagaimana mewujudkan kehidupan yang layak dan sejahtera bagi semua?
Aku tidak tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, tapi aku mengetahui bahwa kebisaanku sangat terbatas—aku tidak akan berhenti memperjuangkan purpose dan value-ku, tapi aku tahu aku bukan manusia super. Aku juga tidak memiliki kekuasaan atas kehidupan orang lain. Oleh karena itu, aku memahami when someone finds this life unlivable and chooses to take their own life.
Aku menyayangi diriku, jadi aku tidak akan membiarkan diriku menjalankan kehidupan yang menderita. Aku akan terus mengupayakan kebahagiaanku, tentu saja. Namun, jika bunuh diri membuatku bahagia, tidak seorang pun yang berhak—ataupun berkewajiban—merampas kebahagiaan itu dariku. Tidak seorang pun berhak meniadakan pilihan itu karena tidak seorang pun memiliki otoritas atas kehidupanku, selain diriku sendiri. Itu sebabnya, I acknowledge suicide as a valid option.
"Eh, tapi kamu belum ketemu Seventeen? Kamu belum beli buku yang di wl kamu! Kamu juga belum ke Praha untuk ketemu Kafka!" Banyak yang berfokus pada kebahagiaan hedonis, kebahagiaan yang tujuannya adalah memaksimalkan pleasure dan meminimalisir pain. Valid. Namun, itu bukanlah kebahagiaan yang aku perjuangkan. Kebahagiaan yang menjadi tujuanku adalah eudaimonic.
Aku ingin mati bukan karena aku kesepian.
Sebelum memulai konseling dengan psikolog, aku sering merasa kesepian. Aku merasa, “Ah, kenapa aku tidak punya teman? Kenapa tidak ada yang memilihku?” Setelah konseling, aku menyadari bahwa aku berharga, sekalipun aku tidak memiliki siapa-siapa di sisiku. Aku tidak bilang aku tidak butuh orang lain. What I’m trying to say is: people choose their people. Orang-orang memilih dengan siapa mereka ingin berbagi, berteman, dan berelasi. Jika mereka tidak memilihku, itu bukan masalah besar. Sama seperti mereka, aku juga memiliki preferensi. Aku juga memilih.
Karena aku bisa mengenali diriku lebih baik, aku juga bisa mengenali orang-orang pilihanku dengan baik. Tidak semua dari mereka adalah sahabatku. Beberapa di antaranya adalah teman nongkrong sambil baca buku, teman yapping dan bertukar cerita. Beberapa adalah rekan menjalankan proyek. Beberapa lainnya punya visi dan misi yang sama denganku dan kami saling membantu untuk mewujudkannya. Mengutip Dr. Jehangir dari film “Dear Zindagi”, ada banyak soul mates dalam kehidupan ini dan setiap satunya menemani kita untuk pengalaman hidup yang berbeda. Aku tidak kesepian karena aku tahu siapa yang bisa dan perlu aku hubungi untuk merasakan pengalaman-pengalaman baru. Aku sudah senang punya mereka dan sangat bahagia karena bisa memiliki mereka sebagai pendampingku. Aku juga sangat berterima kasih karena mereka berusaha memahamiku. Bagiku, ini sudah lebih dari cukup. Bagaimana jika kami putus hubungan nantinya? Bukan masalah. New encouters will follow.
Aku tidak bisa bilang bahwa keluargaku sempurna, tidak pernah memiliki masalah. I can’t say that, tapi aku bisa mengatakan bahwa setelah konseling dengan psikolog, aku memiliki lebih banyak tools juga kecakapan dalam menghadapi masalah dalam keluargaku. Aku punya cukup pemaafan dan ruang untuk kesalahan keluargaku. Like me, they are human too. Aku mendapatkan cukup kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuaku. Aku mendapatkan cukup pelukan dari kedua orang tuaku untuk bisa tumbuh. Aku juga bisa mengomunikasikan kebutuhanku kepada mereka, sehingga mereka pun berkesempatan menjadi orang tua yang lebih baik. I’m content. Ini pun sudah lebih dari cukup.
(Aku tidak mengkhawatirkan mereka jika aku bunuh diri nanti. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi atau apa yang mereka rasakan, tapi aku meyakini mereka bisa memahami kenapa aku melakukannya. Afterall, merekalah tempatku bercerita.)
Aku juga tidak kesepian karena aku lebih sering bersama diriku sekarang. Aku bermain bersamanya, menikmati hal-hal yang kusukai, bepergian sesuka hati dengan kendaraan umum. Aku tahu apa yang aku suka, apa yang bisa memberikanku kebahagiaan. Aku juga lebih pandai menamai dan mengenali emosiku. Mengendalikannya? Hm, aku masih suka kepayahan. Namun, sekarang aku lebih sigap memberikan tubuhku apa yang dibutuhkannya untuk menunjang stabilitas emosiku. I’m also getting better at detaching myself, jadi stabilitas emosiku tidak mudah terganggu. I’ve made a lot of progress.
Jadi, aku ingin mati karena
itulah tujuan hidupku;
aku sudah merasa cukup dengan kehidupanku. Aku content dan aku bahagia;
dunia kian inhabitable atas kesalahan segelintir orang yang berkuasa dan there’s just so much I can do dan meskipun aku mengusahakan perubahan-perubahan kecil—dimulai dari diriku sendiri, I don’t think there’s enough time for revolution(s);
I just want it (I want it so much it starts to feel like a need).
Pertanyaan-pertanyaan lanjutan.
Apakah orang yang bunuh diri dosa atau tidak, apakah mereka akan masuk neraka atau tidak; hal-hal ini di luar jangkauanku, tidak bisa diterka apa jawaban pastinya. Kalau memang dosa, apakah itu dosa yang tidak bisa kita tebus nantinya? Apakah bunuh diri adalah dosa yang membatalkan iman? Kenapa bunuh diri menyebabkan orang terjebak dalam neraka selamanya? Apa yang membuat bunuh diri sebagai pembangkangan terhadap Tuhan? Bukankah tidak ada nyawa yang luput dari-Nya dan karena itu, bahkan orang bunuh diri pun mendapatkan kehendak-Nya untuk mati?
Kenapa bunuh diri dianggap buruk? Kenapa orang yang bunuh diri masih harus bergelut dengan stigma? Kenapa orang-orang selalu bilang, "Jangan bunuh diri. Pikirkan orang-orang yang menyayangimu, yang dekat denganmu. Mereka akan sedih"? Kenapa mereka menyalahkan orang yang bunuh diri? Kenapa mereka menganggap orang yang bunuh diri lemah, padahal mereka yang tidak mampu melepaskan? Kenapa mereka menggantungkan kebahagiaan mereka ke orang lain, sampai orang yang bunuh diri harus bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka? Kenapa mereka menganggap orang yang bunuh diri egois, padahal merekalah yang tidak bisa hidup sendiri? Kenapa mereka bilang, “Sayang banget,” atau “Kasihan,”? Kenapa mereka menyalahkan orang yang bunuh diri atas keputusannya, sementara hidup adalah milik masing-masing, begitu pula kebahagiaan?