Serba-Serbi Anak Bekasi
“Jangan dah, jangan berenti di Bekasi. Orang-orangnya barbar, anjir!” kata seorang pekerja yang entah bekerja di mana kepada teman-temannya, di sebuah kereta yang berangkat dari Bandung dengan pemberhentian terakhir Gambir pada tahun 2019 lalu. Mereka kedengarannya sedang mencari tempat menginap untuk istirahat. Aku yang Anak Bekasi ini duduk di bangku depan mereka. Aku mendengarkan diam-diam. Itu pertama kalinya aku tahu dan sadar bahwa (ada) orang Indonesia (yang) ternyata benar-benar berpikir Anak Bekasi itu barbar, sama halnya dengan warganet Indonesia yang masih sering merundung Anak Bekasi karena berbagai alasan. Misalnya, Bekasi yang panas dan gerah. “Seperti di neraka,” “Di Bekasi mataharinya ada dua,” dan “Bekasi panas karena ada di planet luar dekat matahari. Makanya itu orang Bekasi alien!” kata mereka. Anak Bekasi juga tak jarang diledek karena tidak bisa bicara menggunakan bahasa Sunda, padahal wilayahnya termasuk Jawa Barat. Di sini, aku mau berbagi momen kepikiranku tentang Bekasi.
Belakangan ini aku sering mikir: candaan bahwa Anak Bekasi adalah alien bisa jadi metaforis. Mungkin, Anak Bekasi adalah alien dalam arti mereka tidak tahu benar siapa mereka, meskipun secara garis keturunan mereka bisa jadi berasal dari suku tertentu. Mungkin, kebanyakan Anak Bekasi merasa cukup dengan mengidentifikasi diri mereka sebagai Anak Bekasi. Entah ada berapa banyak Anak Bekasi yang berkuliah di Jawa Barat, yang ketika ditanya, “Siapa di sini yang orang Sunda?” tidak angkat tangan dan ketika ditanya, “Siapa di sini yang bukan orang Sunda?” juga tidak angkat tangan. Bahkan, ketika aku mengatakan, “Iya, gua Anak Bekasi,” raut wajah kawan bicaraku seperti mengatakan, “Masuk akal,” seolah-olah apapun itu yang ada pada diriku dapat dirangkum dengan: aku Anak Bekasi. Namun, apa itu Anak Bekasi? Bekasi, kan, sebuah wilayah kabupaten dan kota. Siapa yang Bekasi dan bagaimana standar ke-Bekasi-an itu? Apakah stereotip-stereotip dan candaan yang beredar itu mendefinisikan Anak Bekasi?
Banyak orang bilang, Anak Bekasi itu ngegas, kasar, cablak, dan senang marah-marah. Penilaian semacam ini muncul karena Anak Bekasi bicara dengan nada dan intonasi tinggi. Biasanya, jika dituduh sedang ngegas, Anak Bekasi merespon dengan, “Lah? Kagak dahal, emang begini ngomongnya.” Aku sempat kepikiran, salah satu hal yang mungkin menyebabkan penilaian ini adalah pola penekanan suku kata Anak Bekasi yang lebih DUM DUM. Jika didekatkan dengan pola metrical feet dalam puisi bahasa Inggris, kebanyakan pola penekanan Anak Bekasi adalah spondee, seperti dalam ujaran, “Gi dah!” dan molossus, misalnya “Ngapasi!” Karena diteken terus, Anak Bekasi kalau ngomong kedengarannya ngegas.
Sumber gambar: Agirrezabal, M., Astigarraga, A., Arrieta, B., & Hulden, M. (2013). ZeuScansion: a tool for scansion of English poetry. FSMNLP.
Selain itu, Anak Bekasi juga sering dibilang tidak tahu sopan-santun. Sebetulnya, khususnya dalam kajian linguistik, apa yang dianggap sopan dan santun bergantung pada beberapa faktor, salah satunya adalah kedekatan atau jarak (distance) antara penutur dan petutur. Aku kepikiran, mungkin karena banyak Anak Bekasi yang memberi sedikit sekali jarak dengan kawan-lawan bicaranya, baik jarak horizontal maupun vertikal, Anak Bekasi kerap dicap tidak tahu sopan-santun dan kasar. Namun, tentu saja, ketika belum saling kenal atau baru saja kenal, Anak Bekasi akan menjaga jarak. Hanya saja, kebanyakan konten yang tersebar di internet menunjukkan interaksi antara mereka yang memang sudah kenal lama dan dekat bukan main.
Anggapan Anak Bekasi tidak sopan-santun dan kasar juga berhubungan dengan keterbukaan dan keterusterangan atau kelangsungan (directness) saat berbicara. Semakin terbuka dan terus terang, jarak yang diberikan pun semakin sedikit. Dosen mata kuliah pragmatik aku pernah bilang bahwa salah satu strategi kesantunan orang Indonesia adalah dengan indirectness atau bicara secara tidak langsung dan menjaga jarak (distance) dengan kawan-lawan bicara. Strategi kesantunan ini, katanya, termasuk kearifan lokal. Ketika mendengar itu, aku kepikiran, “Jangan-jangan karena orang Bekasi kalo ngomong blak-blakan, kita jadi dicap barbar?!”
Anak Bekasi juga harus menghadapi cèng-cèngan, “Coba ngomong pakè basa Sunda!” serta “Dih, sok bet asik lu ngomong kèk orang Jakarta!” dan lain-lain yang sejenis. Yang aku tangkap, orang Jakarta dalam cèng-cèngan itu merujuk ke Anak Betawi karena dialek atau bahasa yang digunakan mirip. Baik Bekasi maupun Jakarta sebenarnya terletak di Jawa bagian barat yang dahulunya merupakan bagian dari daratan dan masyarakat bahasa Sunda. Kata Pak Muhadjir dalam bukunya Bahasa Betawi: Sejarah dan Perkembangannya (1999), itulah gambaran singkat cikal bakal penduduk Betawi. Setelah itu, berbagai macam suku pendatang yang telah meninggalkan identitas asal mereka membentuk kaum Betawi atau Anak Betawi sebagai masyarakat “asli” Jakarta sekaligus etnis baru. Mereka tersebar di wilayah yang luas, yang ditandai dengan penggunaan bahasa Melayu Betawi atau bahasa Betawi. Wilayah ini meliputi DKI Jakarta, Bogor, Tangerang, sedikit Karawang, dan Bekasi. Wilayah Bekasinya ada Pondok Gede, Jati Asih, Bekasi Barat, Bekasi Selatan, Bekasi Utara, Bekasi Timur, Bantar Gedang, Setu, Tambun, Cibitung, Cikarang, Sukatani, Tambelang, Pabayuran, Cabang Bungin, Muara Gembong, Taruna Jaya, dan Babelan. Pada saat buku Pak Muhadjir ini terbit, setiap daerah yang disebutkan itu masih kecamatan di kabupaten Bekasi. Hasilnya pun berdasarkan sensus penduduk tahun 1971 dan 1985.
Sudah panjang lebar begini, terus apa? Anak Bekasi memang dari Bekasi, tetapi identifikasi yang lebih spesifik, misalnya apakah Anak Bekasi seharusnya Sunda atau Betawi atau bagaimana dengan pendatang dari berbagai penjuru negeri, itu terserah masing-masing individu. Seorang kawan asal Nusa Tenggara Timur pernah bilang, “Jadi, aku bisa simpulkan kalau Bekasi itu semacam melting pot atau kuali peleburan.” Apakah Bekasi adalah kuali peleburan atau mangkuk salad (salad bowl)?
Sebenarnya, Anak Bekasi santai saja menanggapi semua omongan ini. Justru, rasanya, nyaris setiap kali aku melihat akun Twitter yang berhubungan dengan Bekasi, mereka seperti menjawab pertanyaan, “Hari ini kita mau coba menuhin stereotip yang mana, nih?” Jadi, unggahan mereka kerap kali memenuhi stereotip tentang Anak Bekasi, walaupun di saat yang bersamaan juga menertawai dan membercandainya. Syukurlah, Anak Bekasi (masih) banyak yang skuy-selon-kalem-antepin.
Jujur saja, setelah mencuri dengar perbincangan di kereta itu, aku pikir, orang Indonesia terlampau mudah percaya stereotip dan prasangka-prasangka tak berdasar. Parahnya lagi, mereka juga enggan mencari tahu apakah memang benar semua itu. Tapi, ya, jangankan untuk mengenal dan memahami kawan sebangsa-senegara yang latar belakangnya berbeda, kebanyakan orang Indonesia saja tidak mengenal diri mereka sendiri dengan baik. Nanan~