Franz Kafka’s “A Hybrid”: Mengenali dan Menerima Diri Sendiri melalui Pengasingan

Selama hidupnya, Franz Kafka dapat dikatakan bergelut dengan dualitas identitas. Sebagai seorang Yahudi yang lahir di Praha namun tinggal dan hidup di Jerman, Kafka merasa terasingkan. Dia biasa bicara dalam bahasa Jerman, tapi dia tidak suka dengan caranya berbicara sebab aksen Cekonya masih terdengar. Di sisi lain, kerinduannya terhadap Tanah Yang Dijanjikan mendorongnya untuk mempelajari Yudaisme, bahasa Yiddish, dan bahasa Ibrani. Lika-liku identitas ini dapat ditemukan dalam karya-karyanya, terutama dalam bentuk pengasingan diri baik dari lingkungan maupun dari diri sendiri. Pengasingan dari diri sendiri atau, lebih tepatnya, melihat diri sendiri sebagai orang asing inilah yang dapat ditemukan dalam A Hybrid. Fiksi mini ini berkisah tentang narator ‘I’ yang tak bernama, yang oleh ayahnya diberikan “warisan” seekor hewan aneh.

A Hybrid dibuka dengan, “I have the strangest animal, half-kitten, half-lamb. It was inherited from my father, but has only developed in my lifetime.” Seperti biasa, cerita-cerita Kafka dimulai dengan hook yang begitu berkesan. Menurutku, hal yang membuat pembuka ini sangat menarik adalah fakta bahwa meskipun hewan tersebut adalah warisan—yang memberikan kesan bahwa sang ayah telah menyimpannya untuk narator—hewan tersebut baru tumbuh ketika ‘I’ lahir. Di kepalaku, hewan ini mewujud sebagai embrio yang dibungkus, kemudian baru akan “dilahirkan” bersamaan dengan lahirnya narator—mungkin seperti Kepompong Udara dalam 1Q84-nya Murakami Haruki. Dengan demikian, walaupun ditampilkan sebagai entitas lain yang hidup secara terpisah dari pemiliknya, sebetulnya hibrida ini melekat dengan si narator. Karena diwarisi dari ayahnya, aku memaknainya sebagai satu set berisikan beragam kepribadian dan keunikan karakteristik fisik yang meskipun kerap berduel, tetapi tetap dapat hidup saling berdampingan, “and each obviously accepted the other’s existence as a god-given fact.” Di sini, sesuatu yang berasal dari dalam (inner), digambarkan sebagai sesuatu di luar (outer).

Pada awalnya, ide melihat diri sendiri sebagai entitas asing yang menjengkelkan sekaligus aneh terasa begitu “apa banget”. Bagaimana bisa memahami diri sendiri, jika melihat diri sebagai diri sendiri tidak bisa? Namun, bukankah ada kutipan yang mengatakan bahwa lebih mudah bagi kita untuk melihat kekurangan dan kesalahan dalam diri orang lain dibanding dalam diri sendiri? Oleh sebab itu, melihat diri sendiri sebagai orang asing patut dicoba guna mengenali diri sendiri dengan lebih jujur. Aku biasa mengandaikannya begini: aku adalah aku tapi aku seperti lelehan lilin berwarna-warni yang suatu waktu padat sehingga terlihat begitu kokoh dan tampaknya tak dapat diubah, tetapi di waktu lain mungkin berbentuk cair sehingga dapat dibentuk lagi. Alih-alih sebagai suatu konstan, diri laksana sebuah spektrum warna. Dengan alasan inilah, melihat diri sendiri sebagai orang asing memberikan kesempatan bagi kita untuk mengenali ulang diri tanpa penghakiman dan rasa takut. Karena alasan ini pula, kita dapat mengkritik diri sendiri tanpa merasa kerdil.

Dengan cara Kafka ini, proses mengenali diri menjadi menggelikan dan terkadang begitu tak terduga. Cara ini sebetulnya berselimut self-hatred, tapi apabila diolah dengan baik dapat menjadi hal yang positif. Kita yang tidak dapat mengolahnya dengan baik sangat rentan terhadap kehancuran. Pasalnya, melihat keanehan dan kekurangan diri sebagai orang lain dapat memperkuat desakan self-hatred dan menjebak kita dalam kepedihan, hingga ingin rasanya memangkas diri demi kesempurnaan semu.

Baik mengenali diri melalui pengasingan maupun memahami sekaligus menerima kemajemukan identitas sebagaimana yang dilakukan Kafka adalah proses yang tak mudah dan penuh ranjau. Meskipun begitu, hasilnya sangat berharga. Pada akhirnya, tidak ada yang dapat dilakukan terhadap dan kepada diri sendiri, selain menerima. Inilah yang kupahami dari penutup A Hybrid, “Perhaps the butcher’s knife would be a release for the creature; but since it is part of my inheritance I must deny it that,” yakni bahwa sekalipun kita penuh kekurangan, begitu aneh dan menggelikan, kita tetaplah bagian dari sebuah sejarah panjang keturunan dan bagian besar dari keutuhan kehidupan yang berhak atas penghargaan dan kasih sayang. Tidak ada jalan lain, selain menerima tanpa syarat.