#CeritaHariIni: Peternakan dan Ketahanan Pangan

Di media sosial, banyak beredar meme yang berbunyi, “Kuliah haha-hihi, tiba-tiba skripsi.” Yang aku pahami dari meme ini adalah betapa cepatnya waktu berlalu karena menurutku, tidak mungkin kuliah hanya haha-hihi. Kalau sudah jadi mahasiswa/i tingkat akhir yang katanya “tiba-tiba skripsi” itu, biasanya ada sindrom yang menyerang: sindrom kilas balik, apalagi pandemi ini memang memaksa setiap orang mengingat-ingat masa lalu. Salah satu hal yang paling kuingat dari masa awal perkuliahan adalah teman-teman Fakultas Peternakan (Fapet) yang rajin menjual produk dari ternak di kampus.

Produk yang paling umum dijumpai adalah susu Fapet. Rasa susunya memang enak, apalagi kalau dingin. Perisanya juga lumayan beragam. Selama berteman dengan anak Fapet, aku hanya mengenal susu dan yoghurt. Tapi, setelah mengobrol via ponsel dengan seorang teman akhir Agustus lalu, aku baru tahu ternyata Fapet juga memproduksi makanan beku. Temanku itu mengunjungi kantin Fapet beberapa waktu lalu di masa pandemi ini, tapi kantinnya tutup. Mengetahui itu, aku kepikiran, apakah menurun drastisnya hasil penjualan produk-produk itu berpengaruh terhadap fakultas mereka? Adakah yang mengurus ternak-ternak di sana? Bagaimana nasib para peternak dan ternak mereka? Di tengah pandemi yang memaksa hampir semua sektor bergantung pada teknologi dan internet ini, bagaimana mereka bisa bertahan? Apakah sudah ada integrasi dan optimalisasi penggunaan teknologi untuk sektor peternakan? Apakah hal ini justru luput dari proses (terpaksa) cepat pembangunan? 

Aku ketemu chickin.id yang bergerak di bawah PT. Sinergi Ketahanan Pangan. Tapi, seperti namanya, Chickin hanya berfokus pada ayam, which is bagian dari ternak. Ayamnya pun jenis tertentu. Waktu buka laman webnya, hal pertama that made me go, “Shit, that’s cool!” adalah jumlah listrik yang berhasil dihemat berkat pengelolaan daring ala Chickin. Ini keren, sih, soalnya di tengah pesatnya digitalisasi, terobosan yang bisa sekaligus menghemat listrik itu penting banget. Terlebih, di negara hompimpa ini, nyaris seluruh sumber listriknya adalah bahan bakar kotor dan sumber daya terbatas. Selain laman web, Chickin juga punya aplikasi which means aksesnya lebih mudah. Wilayah distribusinya memang masih hanya di Jawa, tapi sudah lumayan luas. Setidaknya, begitu menurutku. Meskipun belum menjawab semua pertanyaan yang aku ajukan, aku rasa Chickin sudah menjadi contoh dan bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Jujur, perkembangan zaman, modernisasi serta digitalisasi yang pesat seringkali membuatku memikirkan ketahanan pangan. Pandemi ini makin keras menghamtan, berusaha membangkitkan kesadaran orang-orang dan membangunkan mereka dari mimpi panjang. Penggundulan hutan, pemangkasan sumber makanan, dan pencemaran lingkungan terus terjadi. Adakah yang akan tersisa nantinya? Bagaimana jika sumber pangan hanya tersedia di wilayah atau daerah tertentu saja? Bagaimana distribusinya? Memang sulit sekali rasanya menumbuhkan harapan saat dunia tampaknya menggelap, tapi all things like Chickin bisa menjadi sependar cahaya. Ngga tau deh, pokoknya perkembangan zaman itu harus diiringi dengan sedemikian banyak dan menyeluruh upgrade teknologi pangan yang bisa menjamin ketersediaan pangan dalam jangka panjang. Kalau mungkin, ya, tolonglah, selamanya. Overthinking adalah kunci hidup tak nyaman sekarang, tapi terjamin kemudian.