MILCH #1: “Biarin aja. Dia cuma cari perhatian.” dan Perhatian sebagai Kebutuhan Dasar Manusia
Bagi orang-orang yang baru mengenal Silvy dan belum cukup mengenal diri mereka sendiri, aku dengan cerita-cerita tentang terapiku cenderung terlihat sebagai pencari perhatian; terutama ketika aku menangis di ruang publik, membagikan anything tentang kematian, dan membagikan cara coping. Pandangan ini begitu menjamur di lingkunganku, juga pada orang-orang yang kutemui di berbagai situasi sosial lainnya. Setiap kali disebut attention seeker, hanya ada satu hal yang melintas di kepalaku: menarik. Bukannya mengenai sisi emosionalku, komentar itu justru bikin aku penasaran. Kok komentar itu dan sejenisnya bisa lumrah, ya? Kenapa?
Padahal, perhatian adalah kebutuhan dasar manusia dalam semua hubungannya. Perhatian adalah salah satu hal yang membuat kita merasa dicintai. Perhatian mengisi tangki cinta kita. Perhatian yang memadai adalah bare minimum. Nah, masalahnya:
Perhatian seringkali cuma dianggap penting dalam hubungan romantis. Sebegitu pentingnya, sampai pertanyaan “Dia perhatian?” sangat mudah terlontar dalam percakapan soal pacar. Kenapa sedikit sekali yang bertanya “Orang tua kamu perhatian?” atau “Teman kamu perhatian?” atau “Sahabat kamu memperhatikanmu?” Menariknya lagi, semisal ada yang bertanya tentang perhatian orang tua, yang menjawab justru menyebutkan bentuk-bentuk kontrol. Contoh: “Iya, mereka perhatian. Orang tua aku marah kalo aku pulang malam,” atau “Iya, orang aku perlu izin buat main ke sini.”
Dampaknya? Kita percaya perhatian itu hanya bisa, pantas, dan seharusnya kita dapatkan dari pasangan. Perhatian yang kita dapatkan dari orang lain tidak legal. Karena tidak legal, ada sanksinya: condemnation. Yang mencari perhatian di luar hubungan dengan pasangan dianggap mengganggu, kesepian atau punya self-esteem yang rendah. Karena itu, “Makanya cari pacar!” terdengar paten untuk mengatasi defisit perhatian. Pokoknya, perhatian itu harus eksklusif dari pasangan.
Yang aneh: banyak yang yakin punya pasangan adalah solusi dari kurangnya perhatian, tapi banyak pasangan gagal memenuhinya. Apabila perhatian harus datang secara eksklusif dari pasangan, tapi pasangan itu tidak bisa memberikannya . . . terus, apa? Terima less than bare minimum? Selingkuh? Putus dan cari yang baru? Komunikasi dan perbaiki?
Pendapatku, perhatian tidak harus secara eksklusif datang dari pasangan. Terlebih, jika pasangan memiliki kapasitas yang tak mencukupi dalam memberikan perhatian. Misalnya, A membutuhkan 70% perhatian, tapi pasangannya hanya bisa memenuhi 50%. Bagaimanapun, kebutuhan perhatian itu belum terpenuhi. Solusinya bisa jadi memenuhi kebutuhan itu dengan self-compassion dan self-validation. Namun, jika diri memiliki kapasitas yang juga tak mencukupi, perlu dipertimbangkan apakah ada cukup waktu untuk menambah kapasitasnya atau perlu mendapatkan 20% itu dari orang lain. Misalnya: pada kondisi terbaiknya, A memiliki 90% kapasitas untuk perhatian dan dia berikan kepada orang lain seperti ini:
20% untuk keluarganya
20% untuk pasangannya
20% untuk teman-temannya
15% untuk pekerjaannya
15% untuk peliharannya
Artinya, A memiliki 0% perhatian tersisa untuk dirinya sendiri. Berarti, A perlu mendapatkan 20% dari orang lain. Mungkin A bisa mendapatkan 10% dari teman-temannya dan 10% dari keluarganya. Mungkin 20% sekaligus dari peliharaannya.
Namun, dari angka permisalan ini, bisa dilihat adanya perbedaan kapasitas. A bisa memberikan 20% perhatiannya untuk teman-temannya, tapi mereka hanya bisa memberikan 10%. Apakah ini ideal? Apakah ini berterima? Apakah ini cukup bagi A? Apakah ini hanya sementara? Ataukan ini sudah berulang kali terjadi? Apakah berkompromi dibutuhkan? Itulah yang A perlu telusuri lebih jauh. Terlebih, karena perhatian yang memadai adalah bare minimum.
Dengan mengakui bahwa kita membutuhkan perhatian dari banyak orang—bukan hanya 1 dan itu adalah pasangan, kita tidak lagi memusatkan pemenuhan kebutuhan itu ke pasangan. Dengan begitu, kita juga mendistribusikan tanggung jawab pemenuhannya ke hubungan-hubungan kita lainnya. Hal ini memungkinkan kita memiliki hubungan yang lebih sehat bukan saja dengan orang lain, tetapi juga attention seeking. Dibanding buru-buru mengecap attention seeking negatif atau sebagai kekurangan yang menyulitkan, kita bisa merespons dengan compassion.
Masalah lainnya:
Tidak ada cukup role model yang bisa mencontohkan bagaimana cara sehat untuk memenuhi kebutuhan itu.
Tidak ada cukup role model yang bisa mencontohkan bagaimana cara sehat untuk meminta pemenuhan kebutuhan itu.
Sejak bekerja intens dengan anak-anak, aku menyadari betapa perhatian adalah kebutuhan yang sangat penting bagi perkembangan dan betapa minimnya pemenuhan kebutuhan itu. Bagi anak, orang tua adalah dunia pertama mereka. Dan, apa yang terjadi ketika dunia itu gagal memenuhi kebutuhannya? Anak tidak pernah punya role model dalam memenuhi kebutuhan mereka akan perhatian dan buntut panjangnya, mereka pun tidak bisa memenuhi kebutuhan orang lain.
Jika sampai muncul keharusan meminta kebutuhan tersebut dipenuhi, bagaimana sebaiknya meminta agar kebutuhan itu bisa dipenuhi? Apakah ada cara yang “benar”? Sebetulnya, dibandingkan “benar”, aku lebih suka bilang ‘titik paling tenang’. Anak mungkin akan mulai mencari perhatian dengan tenang, misalnya memanggil atau menepuk. Ketika tidak didengarkan, anak mulai meninggikan suara atau memukul. Ini kemudian bereskalasi hingga anak berteriak, meraung-raung, dan menangis. Intinya, semakin ekstrem orang tua mengabaikan (neglect) anak mereka, semakin ekstrem pula cara anak mendapatkan perhatian.
Berarti, apakah attention seeking hanya perkara orang tua yang gagal memenuhi kebutuhan anak? Aku rasa tidak juga. Tidak selalu begitu. Pada kenyataannya, anak adalah individu tersendiri. Meskipun “bersumber” dari orang tua, anak bukan kepanjangan dari mereka. Apa yang orang tua lakukan sangat mungkin meninggalkan bekas luka bagi anak, tapi seberapa banyak dan seberapa sering bekas itu kembali basah dan sakit?
Aku menuliskan soal orang tua, anak, dan perhatian bukan untuk menetapkan hubugan sebab-akibat; but untuk menunjukkan bahwa bagaimana orang tua memenuhi kebutuhan perhatian anak adalah pengalaman dan gambaran pertama mereka terkait itu. Dan, unlearning that takes time. Butuh waktu yang panjang. Sangat panjang, kecuali contoh atau alternatif lain muncul lebih awal.
Dari pemaparan di atas, kesimpulannya:
Menurutku, perhatian adalah kebutuhan dasar manusia.
Menurutku, attention seeking diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar itu.
Menurutku, attention seeking bukan hal yang serta-merta negatif.
Jadi, “Biarin aja. Dia cuma cari perhatian,” dengan nada mencemooh dan merendahkan itu malah menunjukkan betapa sempit pemahaman si pembicara terkait perhatian. Betapa mereka belum menyadari bahwa perhatian adalah kebutuhan dasar. Betapa mereka belum terbuka bahwa mereka pun butuh perhatian. Aku justru bersimpati dengan mereka. Mungkin, pada suatu masa dalam kehidupan mereka, reaksi itulah yang mereka dapatkan ketika mereka mencari perhatian untuk memenuhi kebutuhan mereka.
“Tunggu. Berarti, kamu memang mencari perhatian dengan semua drama menangis dan cerita terapimu itu?”
Nope. Aku menangis—even di publik—dan membagikan ceritaku karena tiga alasan:
Aku menangis karena aku ingin mengekspresikan diriku (dan self-expressions always attract attention anyways). Menangis punya banyak fungsi, mengekspresikan diri hanya salah satunya. Apa maksudnya menangis untuk mengekspresikan diri? Well, menangis adalah tugas pertama dari terapisku. Beliau bilang, “Terima air matanya. Terima juga semua dramanya. Ngga apa-apa, nangis aja dulu.” Aku lebih sering menangis karena lelah dan tubuhku butuh pelepasan untuk rileks. Semakin aku menahan tangisku, semakin tubuhku terasa berat. Semakin berat tubuhku, semakin intens death drive-ku. Ibaratnya, death drive itu bilang, “Kan. Capek? Badan kamu aja menyerah. Mending istirahat selamanya. Ya, kan?” Siapa yang ribet ketika itu terjadi? Aku. Jadi, lebih baik aku memperlakukan diriku dengan baik dan memenuhi kebutuhannya sebelum tubuhku bereaksi dengan ekstrem.
Kalau aku menangis untuk cari perhatian, aku akan cari perhatian itu. Aku akan minta peluk, akan minta makanan tertentu, atau minta ditemani ke mana. If not, aku memang hanya butuh menangis. Lagipula, menangis dianggap memalukan dan menyulitkan karena masyarakat terlalu lama dipantati patriarki dan terlatih sok kuat, sok bukan manusia yang tidak perasa. Saking mengakarnya patriarki itu, sekarang banyak banget orang yang gagap menangani tangis. Baik tangis dirinya sendiri, maupun orang lain. Patriarki itu menggerus kapasitas untuk take care of others dan be taken care of by others. All that shit and for what?
Aku berharap lewat cerita-ceritaku, akan ada lebih banyak orang yang melihat diri mereka sendiri dengan lensa humanis. Sebaiknya tidak mengkhianati diri terus-menerus. Manusia terlahir perasa dengan reaksi yang melimpah, dengan segudang keajaiban dan keanehannya. Hidup sudah sulit dan menghinakan. Kita terlampau sering merasa tidak berdaya. Kewalahan adalah hal yang wajar. Itulah. Terima semua keanehan menjadi homo sapiens dan perlakukan diri dengan hormat, juga kasih sayang. Extend that to others.
FUCK PATRIARCHY FOR REPRESSED EMOTIONS. FUCK CAPITALISM FOR RUINING HUMAN CONNECTION AND OUR BEAUTIFUL RELATIONSHIP WITH MOTHER EARTH. Itulah. Lewat cerita-cerita terapiku, aku mau bilang: kehidupan yang kita punya saat ini banyak melawan apa yang secara natural kita butuhkan. Jadi, kalau menjadi manusia terasa sulit, ya… selamat datang di manipulasi kompeni!