BANÁN #4: "By gaining global 'sympathy,' we will enhance Japan's brand power and strengthen Japan's soft power by increasing the number of foreigners who have a love for Japan (Japan fans)."

[Pemantik: 

Saat menonton 10 Dance, aku mempertanyakan bagaimana bisa Jepang “meminjam” produk budaya Kuba dan menampilkan sebagaimana bisa disaksikan dalam film tersebut? Aku terheran-heran, kenapa Jepang begitu sering meminjam tanpa konsekuensi ataupun accountability? Apakah peminjaman itu termasuk appropriation? Apakah peminjaman itu punya konteks sosiopolitis atau historis tertentu? Seberapa banyak dari peminjaman itu yang termasuk representasi? Representasi seperti apakah yang diniatkan oleh Jepang? Atau, seperti Haruki Murakami dalam perbincangannya dengan Mieko Kawakami, kebanyakan creator Jepang cenderung bernalar dangkal yang melakukan sesuatu out of habit? Namun, kenapa habit itu seolah tidak pernah ditantang dan ditentang status quo-nya?]


***


Mencuci piring bisa jadi hal yang menenangkan untuk dilakukan. Sensasi sejuknya air menyentuh kulit. Perasaan lega melihat yang kotor dan berserakan menjadi bersih dan tertata. Benar, mencuci piring bisa jadi hal yang menenangkan. Tapi tidak siang itu. Ketika mencuci piring, aku mendengarkan buku audio Teaching to Transgress (2018) karya bell hooks. Memasuki bab ke-11, hooks mengutip Adrienne Rich, “This is the oppressor’s language, yet I need it to talk to you.” Tanganku berhenti sejenak. This. Is. The. Oppressor’s. Language. Yet. I. Need. It. To. Talk. To. You. Larik puisi Rich tentang bahasa Inggris sebagai bahasa penindas, bahasa yang para penjajah paksakan pada koloninya. Aku setuju. Bahasa Inggris adalah bahasa penjajah.


Aku kembali mencuci piring. Namun, mindfulness tidak lagi menyinggahi kepalaku. Pikiranku justru mengembara ke berbagai negara. Pelan-pelan aku mendaftar bahasa-bahasa penjajah: Inggris, Prancis, Belanda, Jerman, Spanyol, Portugis, Belgia, dan . . . Jepang. Kenapa mengakui bahasa Jepang sebagai bahasa penjajah terasa sedikit asing? Ini membuatku sadar, selama aku belajar bahasa Jepang, tidak seorang pun dari sensei-ku yang mengakui bahwa bahasa Jepang adalah bahasa penjajah. Yang terjadi justru sebaliknya, sensei-ku sering mengelu-elukan bahasa Jepang sebagai bahasa penyelamat yang ke depannya bisa membantuku mendapatkan kehidupan lebih baik, contohnya lewat pekerjaan. Sensei-ku juga tak jarang menyinggung betapa pentingnya konformitas dan tunduk pada budaya yang tersirat dalam penggunaan bahasa. Hal ini menyadarkanku bahwa sebagai bahasa penjajah, bahasa Jepang adalah bahasa yang menuntut kepatuhan. Kenapa “Japanese is a language of the oppressors” tidak sepopuler versinya bahasa Inggrisnya?


Apakah “keterasingan” Jepang dalam diskursus penjajahan disebabkan Eurosentrisme dan rasialisasi (racialization) diskursus tersebut; menempatkan Jepang ke nomor sekian sebagai penjajah dalam strata warna, seolah-olah menyiratkan bahwa dibandingkan penjajah kulit putih, Jepang “tidak separah itu”? Apakah penjajahan Jepang tidak dianggap signifikan karena teritorinya “tidak sebesar” penjajah lainnya? Apakah ada tolok ukurnya? Ataukah status penjajah itu dengan cepat terlupakan karena Amerika Serikat (AS) mengebom Hiroshima dan mendorong Jepang menuju kekalahannya pada Perang Dunia 2 (PD2), yang kemudian memosisikan AS sebagai agresor dan Jepang sebagai korban? Ataukah Jepang tengah menuai kesuksesan dari taktik soft-power-nya? Atau, inikah buntut dari gencarnya promosi Jepang sebagai destinasi liburan? Ada berbagai kemungkinan yang mendasari pergeseran citra Jepang menjadi negara ramah tak berbahaya. Akan tetapi, tidak seharusnya citra tersebut menjadi alasan untuk melupakan kolonialisme dan kejahatan perang Jepang. Masa ini memang sudah berlalu, tetapi jejak-jejaknya masih terasa hingga sekarang.


Sejarah menunjukkan Jepang berpartisipasi aktif dalam penjajahan dan menduduki sejumlah koloni di Asia. Namun, setelah kalah pada PD2, Jepang mengubah target capaian dan strateginya. Untuk memulai lembaran baru, tentunya Jepang perlu bersih-bersih. 


Secara internal, Jepang perlu menguatkan identitas nasional pasca-perang untuk menanamkan semangat nasionalisme. Of course, Jepang menggambarkan perannya dalam perang dan penjajahan sebagai hal positif yang perlu dibanggakan. Tidak berhenti di situ, setiap hal “keren” yang Jepang lakukan pastinya melibatkan pengorbanan. Jadi, Jepang juga menempatkan dirinya sebagai korban. Sentimen ini menciptakan pesona Jepang sebagai negara yang cinta damai. 


Menariknya, pandangan pasifis Jepang cukup lumrah, bahkan dalam studi kolonialisme Jepang. Singkatnya, beberapa penulis bilang Jepang punya hubungan yang kompleks dengan koloninya. Mungkin Jepang berstatus penjajah, tapi kontrol yang mereka punya terbatas. Malah ada agen-agen lokal yang memberikan celah dan turut berperan melanggengkan kekuasaan Jepang. Tidak sesederhana dikotomi penjajah-terjajah. Oke. Pertanyaannya: apakah peran agen-agen itu menegasikan power exertion Jepang? Apakah eksistensi agen-agen itu berarti Jepang “boleh” menjajah karena toh warga lokal bersedia bekerja sama? Kenapa pola yang sama tidak diterapkan juga dalam diskusi mengenai penjajahan kulit putih atas kulit hitam, misalnya dalam sejarah perbudakan? Bukankah budak-budak pada awalnya dijual oleh para pemangku jabatan di desa? 


Akhirnya aku menyadari perbedaan perlakuan dan tone terhadap penjajahan Jepang. Jika membicarakan penjajah kulit putih, kebanyakan paper tidak akan ragu menentang penjajahan mereka. Akan ada banyak pelabelan yang menyiratkan tugas reparasi dan bentuk konkret tanggung jawab. Namun, ketika membahas Jepang, diskusinya bergeser menjadi: siapa saja partisipan yang terlibat dalam proses penjajahan itu? Apakah benar hanya Jepang? Dan, koloni mana yang dibahas: koloni formal atau informal? Uniknya, yang belakangan ini disebutkan secara eksplisit, padahal bukan hanya Jepang yang punya koloni informal. Penjajah lainnya pun punya. Lantas, kenapa hanya dalam diskursus penjajahan Jepang saja pembedaan itu muncul secara gamblang? Seolah-olah koloni informal tidak signifikan dan apa yang terjadi di sana tidak penting. Padahal, Jepang keji ke semua koloninya. Apa perlu sebegitu permisifnya dengan Jepang? Apakah karena mereka penjajah kulit kuning? Kenapa pula studi kolonialisme berkiblat ke kulit putih? Walaupun terkesan tidak berdasar, pertimbangan “ras” (baca: warna kulit) dalam menempatkan penjajah pernah dibahas Michael Keevak dalam How Did East Asians Become Yellow? Keevak menuliskan:


The Chinese were yellow, it was sometimes said, not we Japanese, who are far superior to the Chinese and on a par with the Western imperial powers. Many in the West agreed, even though the Japanese could not escape the stigma of being, after all, ‘colored’ people, maybe not as yellow as the Chinese but certainly not white.” 


Yap. Barat—kulit putih—adalah pusat penjajahan dan Jepang adalah satu-satunya bangsa Asia yang “setara” (on par) dengan kekuasaan penjajahan mereka. Terus, kenapa Jepang tidak diperlakukan sebagaimana penjajah kulit putih?


Untuk mempertahankan dominasi dan menyebarkan pengaruhnya, Jepang mengubah strategi pasca-kekalahan mereka di PD2. Jepang menargetkan international presence dan perkembangan (atau stabilitas) ekonomi yang tidak menitikberatkan pada invasi dan militerisme. Well, setidaknya ada dua cara yang Jepang tempuh:

  1. Industralisasi dan manufaktur → Jepang menguatkan industrinya dan meningkatkan ekspor hasil manufaktur. Berhasil, lalu stagnan.

  2. Soft power → ekspansi pengaruh Jepang secara global, upaya membuat sebanyak-banyaknya orang menjadi “Japan fans”

  • 2007, membangun persepsi positif internasional terhadap Jepang lewat pidato Menteri Luar Negeri Taro Aso pada Session of the Diet 

  • 2011, pengukuhan Cool Japan sebagai strategi mempertahankan global presence/influence (https://www.cao.go.jp/cool_japan/

  • 2018, pembaharuan dan pendalaman strategi Cool Japan

  • 2024, peluncuran New Cool Japan 

Teori soft power Joseph Nye: “Jika budaya dan ideologi sebuah negara menarik, yang lain akan dengan senang hati mengikutinya.” 


Dan, Cool Japan berjalan dengan sangat baik dan rapi. Persiapannya matang, dukungannya pun bukan main. Semua perangkat bekerja sama dengan teratur. Tenang. Pelan-pelan, tapi pasti. “Kekuatan propaganda halus penjajah ini memang tidak diragukan lagi,” itulah yang kupikirkan waktu membaca detail rancangan pada laman Cabinet Office. Perfectly-tailored untuk kebutuhan Jepang. Permainan psikologis tanpa celah, disusun step-by-step. Inilah sihir yang menyebabkan amnesia kolektif soal penjajahan Jepang. Siapa sangka, bahkan Tiongkok kini punya perspektif yang cenderung positif terhadap Jepang si musuh bebuyutan. Begitu pula Korea Selatan. 




Indeed, Cool Japan merupakan strategi komprehensif dengan sasaran yang pasti. Cool Japan bukan cuma tentang anime dan manga, tapi semua pintu yang berpotensi mengundang penggemar. Destinasi wisata, sastra, ninja, J-Pop, makanan, mitos, gim. Semuanya




Hasilnya, muncullah asosiasi-asosiasi baru dan positif tentang Jepang: sumber hiburan, penyedia gim yang menantang dan memuaskan imajinasi, destinasi wisata yang indah, user experience yang menyenangkan, penyedia barang-barang lucu dan estetik, trend-setter untuk figur dan collectibles. Ini semua menumpuk dan menyembunyikan Jepang sebagai penjajah. Maka, no wonder, dinamika-dinamika yang seharusnya politis justru lepas dari konteksnya dan masuk ke jangkauan konsumen hanya sebagai entertainment. Tidak lebih. “Jepang tidak mungkin punya niatan seperti Barat. Media mereka juga memisahkan fiksi dari real-life,” kira-kira itulah komentar yang mungkin muncul. Hal itu perlu dipertanyakan, sebab semua yang Jepang produksi dan distribusikan terikat dengan Nihon-Gatari-Sho 日本語り抄.


Untuk menutup tulisan ini, aku menyimpulkan bahwa ya, Jepang dengan sengaja memoles citranya. Melalui Cool Japan, Jepang menggaet foreign nationals untuk memihak dan menyukai Jepang. Aku sudah menduga ini, tetapi aku tidak expect Jepang menyusun siasatnya dengan sangat terstruktur dan bertahap. Harus aku akui, permainan mereka apik. Maka, adalah hal wajar jika kian banyak yang lupa bahwa Jepang merupakan penjajah dan bahasa Jepang is the language of the oppressors. Sekarang, pertanyaanku:

  • Apa yang akan aku lakukan dengan informasi ini?

  • Bagaimana permainan Nihon-Gatari-Sho 日本語り抄 muncul dalam media Jepang?

  • Jika Nihon-Gatari-Sho 日本語り抄 memuat guidelines saat menarasikan budaya Jepang, bagaimana ini bekerja ketika dihadapkan dengan budaya lain? (setelah ini, hopefully aku bisa punya jawaban buat pertanyaan pemantik yang kudapat saat menonton 10 Dance. Lol!)


Referensi

Cabinet Office. (n.d). Cool Japan Strategy. Government of Japan. https://www.cao.go.jp/cool_japan/english/index-e.html 


Gates Jr, H. L. (2018). Reconsidering race: Social science perspectives on racial categories in the age of genomics. Oxford University Press. 


Shafie, T. From Imperial to Cool: How Japan’s Image Rebrand Expands its Soft Power. https://www.ajhssr.com/wp-content/uploads/2024/06/ZJ24806339348.pdf 


Wilson, S. (2005). Bridging the gaps: New views of Japanese colonialism, 1931–1945. Japanese Studies, 25(3), 287–299. https://doi.org/10.1080/10371390500342790