Iman = Menari, Berdansa?

Waktu mengikuti Harmoni dalam Diri tahun 2024 lalu, salah satu pertanyaan pemantik dalam diskusi adalah: Apa arti iman bagimu? Di antara jawaban lainnya, aku menulis, "Berdansa. Menari." Saat itu, aku belum bisa membahasakan apa yang kumaksud. Hari ini—tanggal 9 Agustus 2025, aku menemukan pengalaman rasa yang kupikir cukup menjelaskannya. 


***


Sepulang kerja, aku mampir ke Jakarta Pusat; denyut nadi Jakarta yang sibuknya selalu merenggut rehat. Awalnya aku berencana mampir ke Agora Mall untuk menghadiri Art Fair. Sayangnya, kecemasanku sedang intens dan ini membuat ongkos menghadiri acara baru di tempat yang asing bagiku menjadi sangat mahal—padahal aku membeli tiketnya dengan semangat pada pukul 6 pagi, sebangunnya aku dari tidur. Akhirnya aku memutuskan untuk ke mal Grand Indonesia (GI); tempat lautan manusia mengombak dan seolah tawaf, mengitari bundaran Hotel Indonesia (HI). Kemudian aku membeli segelas minuman yang seharusnya berperisa alpukat karamel, tetapi kecemasanku membuatku ceroboh. Minuman yang datang justru kopi alpukat. Damn


Setelah menertawakan diriku, aku pergi meninggalkan kafe dan melaju ke Gramedia. Gramedia di GI menyediakan tempat duduk di sisi bangunannya yang paling dekat dengan jendela. Di luar, bundaran HI dan patung Selamat Datang terlihat jelas, selalu menjadi pusat lampu-lampu di sekitarnya. Aku duduk dan mengambil buku dari dalam book sleeve yang kubawa. "Heaven"-nya Mieko Kawakami menyambutku. 


Buku ini kubaca karena Kawakami dalam wawancaranya dengan The Guardian, mengakui bahwa Kafka adalah comfort read-nya, "Kafka, because his works contain the truth that despair is neither something to be detested and shunned nor a sudden misfortune, but a natural condition for human life." Setuju. Kafka juga comfort read-ku. Ketika membaca karyanya, aku merasa bisa berjalan beriringan dengan sisi kelam kemanusiaan. Kuharap pembaca lainnya (tidak) memahami seberapa banyak karya Kafka dan seberapa sering pembacaan ulang perlu dilakukan untuk bisa bilang, "Kafka membuatku merasa nyaman." 


Selain karena Kafka, aku membaca “Heaven” karena judulnya sama persis dengan lagu Kim Namjoon dalam album "Right Place, Wrong Person". Dengan kemiripan ini, ada asumsi menyembul dari benakku: mungkin buku tersebut juga bercerita tentang kebahagiaan yang dirampas. Sempat aku berpikir, bagaimana kebahagiaan seperti itu layak disebut Heaven—surga? Kebahagiaan yang dirampas, kan, jelas kebahagiaan yang tidak utuh, kebahagiaan yang tergelincir dari genggaman kita (memangnya kebahagiaan itu harus utuh?). Bisa, ya, kita seceroboh itu? Kita yang ceroboh atau perampasnya yang sangat lihai?


Apakah sama sepertiku ketika memesan minuman, kecerobohan itu juga datang dari kecemasan? Kecemasanlah yang merampas kebahagiaan? Tapi, apa penyebab kecemasan itu? Sebagaimanapun aku memikirkannya, aku hanya bisa sampai pada kesimpulan bahwa dunia memang mencemaskan dan kondisi ini melemahkan kebahagiaan sedemikian rupa, hingga terkadang aku malah ceroboh melepasnya sepenuhnya—kenapa aku berpikir harus memusnahkan kecemasan secara total untuk bisa bahagia? Diam-diam, aku mengakui mungkin manusia memang membutuhkan Tuhan karena hadir-Nya bisa menjinakkan kecemasan; setidaknya itulah yang sering kudengar dari penyembah-Nya.


Aku terbiasa mendengarkan musik ketika membaca, jadi aku menyetel lagu teratas dari daftar lagu yang paling sering kuputar. "Maa Kaali Mahakali" karya Vikram Montrose, Antara Nandy, Ankita Nandy, dan Meggha Bali menggebu di telingaku. Sebenarnya, ini adalah lagu pemujaan dewi Kaali dan Durga—keduanya pengejawantahan energi feminin Shakti. Mungkin karena membaca kuhitung sebagai nikmat berharga yang bisa kunikmati dengan khidmat di dunia jahanam ini, aku langsung tunduk merasa bersyukur. 


Tanpa sadar, kaki dan tanganku bergerak teratur mengikuti irama. Kepalaku juga turut mengangguk. Lagu itu mengingatkanku akan kehadiran Tuhan yang, sejujurnya, saat ini sedang aku hindari. Kemarin malamnya, aku bercanda dengan rekan kerjaku, "Please, IF there is a God out there—tolong buat ponselku nyala lagi (karena ia mati setelah tak sengaja jatuh dari saku)." Tentu saja, melihat perangaiku yang selengean, mereka menanggapi, "Eh, tapi, lu betulan percaya Tuhan ngga, sih?" Aku cuma tertawa. Ajaibnya, ponselku langsung menyala. Sepertinya, Tuhan memang punya cara unik untuk menjawab ciptaan-Nya.


(Bukannya aku tak percaya akan adanya Tuhan. Aku percaya. Hanya saja, kenapa manusia gemar merias Tuhan untuk tampil sebagai sosok yang mereka ciptakan sendiri? Sudahlah mereka membuat Tuhan berwajah banyak, mereka juga menggunakan setiap wajah palsu itu sebagai senjata terhadap sesama ciptaan-Nya. Buat apa? Toh, mereka punya versi Tuhan full make-up masing-masing, kan?)


Lagu pemujaan asal India memang tidak pernah gagal membuatku kembali ingin menyembah Tuhan dengan segenap ketulusan dan kesadaranku. Tubuhku dibuatnya begitu asyik berdendang, menjadi satu dengan puja-pujaan. Ini dia. Ini yang kumaksud dengan iman berarti berdansa dan menari. Ah, ada perasaan yang menyelinap masuk ke dalam relungku. Perasaan yang pulang layaknya orang asing itu adalah kerinduan akan Tuhan. Perasaan nostalgik yang—jika kurujuk ke seri komik Kowloon Generic Romance—berarti cinta. Sebelum sempat aku melarikan diri, ingatan masa lalu menyergap dan menempatkanku pada masa ketika mencintai-Nya terasa begitu mudah. 


Waktu SMA, aku senang merasa dekat dengan-Nya. Aku rajin beribadah, termasuk yang sunnah. Aku memulai ini ketika kelas 10, namun mulai melemah di kelas 11 dan kembali menguat di kelas 12. Di tahun terakhir masa abu-abuku, aku bahkan sering tahajud pukul 4 pagi, kemudian belajar sebagai langkah mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi. Aku juga suka baca Alquran, dilengkapi dengan pembacaan tafsir dan pencatatan hal-hal menarik dari ayat tertentu. Saking menggembirakannya baca Alquran, aku bisa menamatkan 2 juz dalam satu hari—tidak banyak-banyak amat, sih, tapi lumayanlah. Sebagai komitmen, aku bahkan tidak mendengarkan musik selama hampir 2 tahun. Sepanjang durasi itu, aku hanya mendengarkan nasyid. Ini berlangsung hingga semester 2 perkuliahan.


Suatu sore, aku mendirikan salat asar di masjid sekolah. Aku memilih sisi kiri yang tak langsung terlihat ketika jemaah masuk. Tak jauh dariku, satu geng hits berkumpul untuk salat. Mereka membawa serta riasan wajah dan parfum. Sambil mengobrol santai, mereka merapikan riasan dan mengatur hijab agar terlihat bagus. Persis ketika aku berzikir, salah satu dari mereka berkomentar, "Lihat, deh. Ibadahnya pasti khusyuk banget," (of course ini hasil parafrase).


Aku baru menangkap alasan di balik ujaran itu beberapa saat kemudian. Dia mengatakannya karena sembari berzikir dengan jejariku, tubuhku ikut bergerak teratur. Ke depan, ke belakang. Lalu ke kanan dan ke kiri, mengikuti pergantian ucapan zikirku pada saat itu. Herannya, aku tidak sadar melakukannya. Di situlah, aku menyadari bahwa iman bersemayam dalam tubuh dan menggerakkannya mengikuti nyanyian jiwa. Ketika iman merasa nyaman dalam tubuh dan ketika tubuh merasa nyaman dalam iman, keduanya bersinergi dan berinteraksi dengan prinsip kesalingan. Hubungan positif ini pun menumbuhkan sense of belonging. Apakah ini yang membuat para sufi terus menari dan menari dan menari dan menari?


Melihat ke belakang, aku jelas jauh dari kata sempurna. Hanya karena seseorang merasa nyaman beribadah, bukan berarti secara otomatis ia menjadi hamba yang bisa membuat makhluk lain merasa nyaman. Pada kenyataannya, rasa nyaman yang kurasakan membutakanku dari konteks sosial. Aku tidak suka diriku yang dekat Tuhan saat itu. Dia cenderung congkak dan sombong, seringnya merasa paling benar. Tak jarang pula dia merasa superior. Apa pula motivasinya membagikan unggahan rohani ke grup-grup sekolah kala itu? Apa yang membuatnya berani merendahkan orang-orang yang tak salat? Kenapa juga dia sering menyuruh orang melakukan kebaikan, memangnya yang dia lakukan selalu baik? Kenapa caraku mengundang orang lain ke dalam kebaikan justru antagonistis, seolah-olah ajakanku muncul karena aku ingin memerangi mereka? Akhirnya aku pun menyadari: versi diriku yang kuanggap paling dekat dengan Tuhan ternyata beracun. Keekstreman pola pikir menjerumuskanku dalam penjara kebodohan.


Yap. Memangnya aku pernah tidak tersesat? Memangnya iman merupakan satu jalan lurus yang pasti? Memangnya imanku-lah yang paripurna? Memangnya jalanku adalah jalan yang paling benar? Memangnya hanya ada satu jalan menuju-Nya dan kerajaan-Nya? Jika ada banyak jalan menuju Roma, bukankah hal yang bijak untuk percaya bahwa Dia pun sama? Apakah "satu jalan lurus" mengindikasikan kebenaran? Apa banyaknya jalan menandakan kualitas duniawi yang "tidak level" soal perkara iman? Aku meyakini, sekalipun jalan menuju-Nya hanya ada satu, jalan itu tidaklah lurus. Tidak sama sekali. Alih-alih, jalan itu bisa saja sirkular dan tak ada habisnya. Mula dan akhir tidak bisa ditentukan dengan pasti. Setiap hamba bergerak dalam putarannya masing-masing. Lurus, kah? Lingkaran, kah? Bentuk lintasan apapun, semuanya tetap sama: sebuah tari yang diiringi detak jantung sendiri.