Tubuh adalah Sekotak Bento dan Aku Masih Mempelajari Daftar Menunya

[Ditulis berdasarkan hasil konseling tanggal 8 dan 20 September 2025.]


What is 'a body' to you? (14 September 2025)

“Apa yang Silvy maksud dengan tubuh? Tubuh itu apa dan batas-batasnya di mana? Apa yang Silvy maksud dengan luka pada tubuh? Apakah sebatas sentuhan (tidak sengaja) atau terpaan angin yang kuat pada tubuh juga termasuk luka?”


Saat mendengar pertanyaan itu, aku bingung bagaimana seharusnya aku menjawab. Ketika membicarakan tubuh, aku tidak bisa memisahkannya dari pengalaman queer-ku. Kenyataannya, pengalaman ketubuhan queer berbeda dari pengalaman cishet. Aku diam, menimbang kami sedang membincangkan sentuhan dalam konteks intimasi. Setelah beberapa lama, aku berujar, “Hm, pertanyaan yang membingungkan. Aku rasa karena aku queer, pertanyaan itu sulit untuk kujawab,” aku menjeda, “Begini … di komunitas queer, membicarakan seks, kepuasan seksual dan sentuhan-sentuhan apa saja yang bikin nikmat itu lebih sering dan wajar terjadi. Tapi, di komunitas kami, pleasure mungkin didapat dengan cara yang unik, bahkan bisa juga melibatkan praktik-praktik yang tidak umum. Karena itulah, batasan-batasannya lebih ambigu dan bergantung pada kesepakatan bersama. Apa yang dianggap luka menurut cisheteronormativitas belum tentu luka bagi tubuh queer-ku—begitu juga sebaliknya.”


Sebagian besar jawabanku di atas berkaitan dengan seks karena bahan terapiku saat itu kebetulan memuat salah satu adegan intim dari drama Jepang dan memang menggiring ke seks. Meskipun begitu, intimasi tidak melulu soal seks. Intimasi juga mencakup percakapan mendalam dan sentuhan non-seksual yang menumbuhkan rasa aman dan keberpemilikan (sense of belonging). Di antara keduanya, sentuhan nonseksual-lah yang berhubungan dengan tubuh. Dan, bagiku batasan yang fleksibel juga berlaku di sini. 


Sentuhan nonseksual—dan konsensual!—lebih sering terjadi dalam hubungan queer. Hubungan yang dimaksud adalah hubungan selain dengan pasangan, seperti pertemanan. Dalam hubungan cishet, sentuhan seringnya bersifat eksklusif hanya untuk pasangan. Tidak boleh berpegangan tangan dengan orang lain, kecuali dengan anggota keluarga. Tidak boleh mengusap kepala, kecuali dengan anggota keluarga. Tidak boleh berpelukan, kecuali dengan anggota keluarga—itu pun jika keluarganya hangat, kan? Apabila sentuhan-sentuhan nonseksual itu dilakukan dengan orang lain yang sesama jenis, akan timbul prasangka bahwa mereka “belok”. Apabila sentuhan-sentuhan nonseksual itu dilakukan dengan orang lain berlawan jenis, akan timbul prasangka bahwa mereka selingkuh atau murahan. Mau diapakan juga, sentuhan-sentuhan nonseksual dalam hubungan cishet lebih mungkin dianggap pelanggaran karena kuatnya batasan gender.


(Aku bertanya-tanya. Apakah pembatasan sentuhan yang kaku ini tidak membuat kita kesepian? Apakah pembatasan ini salah satu penyebab kenapa laki-laki terobsesi dengan sentuhan seksual? Apakah mereka tidak bisa mengatasi kebutuhan akan sentuhan itu dengan teman sebaya mereka? Kenapa mereka seolah-olah tidak bisa memperbanyak opsi mereka? Kenapa sentuhan nonseksual antarperempuan, misalnya, lebih lumrah? Kenapa sentuhan antarmereka jarang terkesan seksual? Apakah ini karena masyarakat menuntut perempuan untuk menekan seksualitas mereka? Apakah ini membuat intimasi antara laki-laki dan perempuan seringkali tidak memuaskan? Apakah ini kesalahan patriarki atau kesalahan pola asuh yang kering kerontang, tanpa ekspresi emosional—atau keduanya? Ataukah ada kemungkinan lain?)


Semakin dalam kutelaah perihal batasan tubuh bersama psikologku, semakin aku melihat bahwa ini bukan cuma tentang sentuhan. Tubuh merasakan setiap waktu. Ia mengirimkan sinyal-sinyal yang pada dasarnya bertujuan untuk menyelamatkanku. Apakah semua sinyal itu akurat? Tidak juga. Yang pasti, setiap sinyal layak dan perlu kuperhatikan. 


Sinyal dari tubuh tidak selalu muncul karena sentuhan, ketika atau sehabis bersentuhan. Sinyal bisa muncul dalam bentuk sensasi-sensasi melalui stimulus yang terproses oleh indra lainnya pada tubuh. Contohnya, aku mungkin tidak bersentuhan dengan ikan Arapaima, tapi aku bisa merasakan sensasi tidak nyaman ketika melihatnya. Orang lain mungkin mendapatkan sensasi sejenis waktu berpapasan dengan kecoa, tikus atau ular. Dari indra pendengaran, tubuhku bisa tenang karena lagu tertentu atau suara beberapa orang bisa menguras energiku. Selagi mendengarkan tubuhku dan memahami pesan yang ia sampaikan, kesadaran demi kesadaran menghantamku, “Ah, ternyata aku tidak nyaman dengan orang-orang tertentu,” “Oh, ternyata aku adalah ancaman bagi si A. Pantas saja aku merasa tertekan untuk mengerdilkan diriku,” “Ternyata aku tidak suka hang out dengan si B, pantas saja aku merasa lelah setiap bertemu dengannya,” “Ternyata merayakan ulang tahun adalah hal yang privat bagiku karena ‘merayakannya’ dengan orang lain membuatku tidak nyaman,” begitulah kira-kira.


Aku menyimpulkan bahwa tubuh memang punya batasan dan batasannya perlu jelas. Ternyata ada banyak konteks untuk menentukan batasan itu dan di beberapa konteks, batasannya bisa dinegosiasikan. Ada pula konteks-konteks tertentu yang bisa melanggar batasan tubuhku walaupun tanpa sentuhan. Ternyata, batasan-batasan ini sebagian besarnya dipengaruhi oleh hubungan (relationship), jadi aku juga perlu punya batasan yang jelas di relasi-relasi yang kupunya. Rumit!


***


Oh, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari psikologku:

  1. Tubuh bagi Silvy adalah sekotak bento dan aku masih mempelajari menunya. Tubuhku bisa mewujud hidangan apapun, tergantung kepada siapa aku menyajikannya. Entah kenapa, definisi inilah yang paling masuk akal bagiku sekarang.

  2. Batasan-batasan tubuhku bergantung pada batasan hubungan yang kupunya dengan diriku dan orang lain. Batasan dalam hubunganku ditentukan berdasarkan jenis dan tingkatan intimasinya. Bagaimana cara memastikannya? Ini salah satu alat yang kugunakan:


Sumber templat dan contoh pengisian: https://www.overbpd.com/blog/circle-of-intimacy 

Bagaimana mengukur kadar intimasi dalam hubungan? Ini salah satu referensi yang kupunya, Timmerman dalam A concept analysis of intimacy (1991):

  1. syarat pertama: A dan B harus saling percaya

  2. syarat kedua: A dan B harus merasakan kedekatan emosional dengan satu sama lain

  3. syarat ketiga: A dan B harus bisa membuka diri kepada satu sama lain dan mengomunikasikan perasaan dan pikiran mereka

  4. syarat keempat: A dan B harus punya hubungan timbal balik atau kesalingan dalam hubungan mereka 


  1. Saat ini, luka pada tubuhku bisa terjadi jika

    1. tidak konsensual

    2. tidak ada proses negosiasi, mungkin berdampak pada rasa aman dan nikmat ketika tubuh berinteraksi dengan tubuh lainnya

    3. tidak memberikan kenikmatan 

    4. tidak memberikan dan memungkinkan terjadinya intimasi berbasis keterbukaan


Ini adalah bagian dari perjalanan panjangku dengan tubuhku. Melelahkan, ujar batinku sambil tertawa getir mengakui kekalahan.