Kebahagiaan adalah Anak yang Terlantar
Saat aku harus melarikan diri dari rumah selama beberapa hari, aku menginap di sebuah tempat dengan penghangat air di kamar mandinya. Setiap kali aku menyalakan pancuran, rintik air hangat bergantian menghinggapi tubuhku. Air hangat akhirnya mengguyur kepalaku dan aku memejamkan mata, menikmatinya. Air hangat itu terasa seperti pelukan. “Inilah kebahagiaan,” gumamku.
Aku berharap aku bisa mandi air hangat setiap hari. Aku berharap aku bisa mandi air hangat dengan mudah, tanpa harus merebus dari panci terlebih dahulu. Aku berharap aku bisa mandi air hangat semudah memutar tuas penghangat air otomatis. Aku berharap aku bisa mandi air hangat dalam bak berendam dan menikmati waktu dengan santai sambil mendengarkan musik. Aku berharap aku bisa mandi air hangat dalam bak berendam di rumah besar dengan banyak jendela. Meskipun terdengar baik, harapan-harapan ini justru mengerdilkan kebahagiaanku. Usianya begitu pendek—kenapa sudah mati saja?
Aku menyadari kebahagiaanku saat itu terasa sangat singkat karena ia habis dibakar kecenderungan perfeksionis, sebuah keyakinan bahwa harus ada kesempurnaan atau kondisi ideal untuk bisa bahagia. Aku juga menyadari ternyata aku punya kebiasaan menunda bahagia. “Aku mau bahagia. Supaya bahagia, aku perlu ___,” atau “Aku harus punya ___ dulu, baru aku akan bahagia,” kurang lebih begitu.
Bahagia yang sederhana menjadi sulit karena ia dipaksakan bersanding dengan keserakahan. Sejak kapan aku melihat kebahagiaan hanya ada di masa yang jauh di depan? Padahal, bahagia sebetulnya adalah keadaan dan perasaan yang sangat mudah dicapai, utamanya karena memang sudah ada dalam diriku.
“Kenapa tidak ada yang ingin menjemput kebahagiaan?” itu yang kupikirkan. Aku membayangkan kebahagiaan adalah anak yang terlantar. Dalam perjalanan hidup ini, aku mungkin sudah mengabaikan begitu banyak anak terlantar yang siap dijemput. Apakah anak-anak terlantar itu harus sempurna untuk menemukan rumahnya? Tidak. Setiap anak yang terlantar berharga. Apakah aku harus sempurna untuk menjemputnya? Tidak. Baik aku maupun anak terlantar itu tidak perlu sempurna untuk saling menyambut. Hanya perlu saling menerima dan memahami: kehidupan tidak akan mulus, tetapi saling hadir untuk satu sama lain akan selalu menguatkan.
Kebahagiaan adalah anak yang terlantar. Jika kebahagiaan ada dalam diriku; maka anak itu ada dalam diriku. Dan, kebahagiaan dimulai dengan menerimanya pulang sebagaimana adanya, dalam kehangatan.