Almond: Menjadi Berbeda dan Pergulatan Menuju Keintiman


[Catatan baca tertanggal 29 Januari 2025] Aku baru selesai membaca buku Almond karya Sohn Won-pyung. Awalnya, aku hanya membaca karena beberapa anggota BTS membaca buku ini dan kudengar, lagu Amygdala-nya Yoongi terinspirasi dari kisah ini. Setelah membacanya, I came to love it too. Selama membaca, ada banyak perasaan yang datang menghampiriku. Jika aku bisa menuliskan daftar perasaan yang muncul saat membaca buku ini, kurasa daftarnya akan cukup panjang. Jadi, aku hanya akan menuliskan beberapa saja. Saat membaca Almond, aku merasa:

1. kewalahan dan kalah dengan perasaan frustasi. Bagaimana caranya aku bisa membuat orang lain mengerti bahwa menjadi berbeda bukan berarti salah? Apa yang bisa kulakukan untuk menolong Yunjae? Kenapa aku merasa dia butuh pertolongan, padahal dia tidak merasa apa yang dilaluinya sebagai suatu masalah? Apa aku merasa lebih baik darinya? Apakah ini kesombongan?

2. takjub akan penulisan cerita ini karena narasinya terasa sangat manusiawi dan natural. Gaya ini sangat cocok dengan tokoh utama yang seakan-akan berusaha merunut perjalanan hidupnya: ingatan yang sedikit acak, terserah memori mana yang muncul terlebih dahulu, terasa seperti penceritaan spontan yang diselingi "by the way"; persis ketika seorang kawan sedang curhat. Karena itulah, kurasa buku ini sukses dengan premisnya yang secara eksplisit menyatakan, "Sebenarnya baik aku, kau, siapa pun tidak akan pernah tahu cerita ini akan berakhir sedih atau bahagia." Bagus.

3. sedih dan marah karena lagi-lagi dan terus-menerus anak bermasalah diberikan label negatif yang seringnya hanya memunculkan impuls untuk terus melanggengkan label itu karena itulah yang mereka tahu, itulah yang mengondisikan mereka untuk terus berperilaku begitu. Kenapa, sepertinya, masyarakat tidak punya cukup kesabaran dan waktu dalam mengayomi? Seberapa sering ini terjadi dalam realitas?

4. terenyuh dengan kisah persahabatan yang penuh lika-liku.

5. sedih dan kesepian karena aku menyadari, selama ini aku belum pernah merasakan apa yang Yunjae dan Gon rasakan. Untuk mencapai level itu, ternyata butuh banyak kesalingan dan perjuangan dua arah. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengakui, aku tidak punya hubungan akrab dengan siapapun (kecuali diriku sendiri?). Akrab di sini berarti intim. Intim berarti saling membuka diri. Sesulit itu, ya, mencoba membuka diri setelah sebelum-sebelumnya aku berhadapan dengan dinding? Sekarang aku lebih nyaman membuka diri, tapi seringkali orang yang kukenal lebih nyaman membuka diri ke orang lain yang tentunya bukan aku. Dulu, aku akan merasa cemburu dan marah. Sekarang, aku lebih legawa. People choose their people, so do I. Sayangnya, sama seperti Yunjae dan Gon, aku hampir selalu merasa berbeda dan ini membuatku kesulitan menemukan seseorang yang jenis berbedanya sama atau setidaknya mirip denganku. Terkadang aku takut ini hanya akal-akalanku saja supaya aku tidak perlu bertemu orang baru dan mengakrabkan diri dengan orang asing. Namun, setelah beberapa lama konseling, aku menyadari (dan menerima) bahwa aku memang berbeda. Bukan istimewa atau apalah, aku hanya berbeda dan jenis berbedaku—kebetulan—sulit dijembatani. Bukannya mustahil, hanya sulit.

Itulah. Poin nomor 5 membuatku berpikir kerasa dan bertanya tanpa henti. Kenapa keintiman sangat sulit dicapai? Kenapa keintiman lebih sering dan hampir selalu diasosiasikan dengan hubungan romantis dengan pasangan? Kenapa keintiman lebih sering diekspresikan dengan dan melalui seks, sementara keintiman tidak melulu soal hubungan badan? Kenapa pemahaman soal keintiman yang ada sangat dangkal?