#26 Sepanjang Jalan Neoliberal
Namamu, Dik, jelas nyata dalam benakku
saat kutukar-tambah masa depan kita ke pabrik
Inginnya segera halal, tapi bahkan seribu kaki lipan
takkan mampu menopang beratnya beban pada punggungku
Bukan aku berdalih, bukan juga ingkar janji
hanya saja paceklik ini sangat mencekik,
sulit bagiku bahkan untuk sekadar berbagi
napas denganmu
Enggan berhutang, tak ingin jual badan
meski permintaan tinggi, maaf…
dengan gajiku, bahagiamu kuhargai sangat rendah
Rusak nian masa depanmu bersamaku
dan kian retak aku dihantam kenyataan:
mahalkah reparasi ekspektasi?
Adakah cinta kita serupa aplikasi berbayar?
terlambatkah untuk membatalkan langganan
yang tak mampu kubayarkan ini?
Larut malam membakarku di ranjang,
keraguan ialah bara apinya;
sanggupkah kita saling mencintai
sepanjang jalan neoliberal ini?