The Weight of Intelligence
Aku sedang bergelut dengan intelejensiku sendiri, dengan anggapan orang-orang bahwa aku "pintar". Sekitar dua tahun lalu, aku sempat menuliskan ini di blog. "Pintar" adalah adjektiva yang mulai sering kudengar di masa kuliah. Entah siapa yang memulainya, entah rumor dari mana; label itu terus-menerus menodaiku dengan ekspektasi.
Sejujurnya, aku rasa aku tidak pintar. Lagi pula, "pintar" itu apa? Apa yang membuat seseorang "pintar"? Apa standarnya? Siapa yang menetapkannya?
Biasanya, ketika membicarakan "pintar", kebanyakan orang akan secara otomatis mengasosiasikannya dengan IQ. Bukannya tidak boleh, tapi IQ tidak senantiasa tetap. Ia bisa berubah. Aku sering mempertanyakan apakah IQ memang menjamin intelejensi seseorang? Kalau bisa berubah, apakah IQ adalah pengukur intelejensi yang memadai? Apa pentingnya seseorang punya IQ "di atas rata-rata" (siapa pula yang menetapkan rata-ratanya)?
***
Ketika SMP dulu, semua murid harus ujian psikotes. Saat hasilnya keluar, IQ-ku sama dengan juara kelas saat itu. Aku masih ingat angkanya dengan sangat jelas: 134. Alasan aku mengingatnya hingga kini adalah karena aku menyadari kontras di antara kami. Dia juara kelas, aku ranking 3 dari bawah. Saat yang lain menyorakinya "genius", aku diam-diam memasukkan hasil psikotesku ke dalam tas. Aku tidak ingin jadi party pooper. Mana bisa aku yang peringkat 3 dari bawah punya IQ sama dengan juara kelas? Ini sama saja aku merendahkannya.
Sejak saat itu, aku mulai berpikir
1. bahwa IQ hanya salah satu faktor dari intelejensi
2. penilaian sekolah bukan pengukur intelejensi yang akurat
3. apakah kita bisa memercayai hasil psikotes?
Tidak ada "pintar" dalam kamusku (kecuali, jika kau merujuk kitab "Kehidupan Ideal" yang disusun orang-orang tua dalam keluargaku; ini pun sudah lama kutinggalkan). Selama ini, yang ada bagiku adalah "bisa". Aku bisa melakukan A. Dia bisa melakukan A dan B. Bersama-sama, kami bisa melakukan C. Dan seterusnya. Aku hanya ingin "bisa". Setiap kali membicarakannya, aku selalu teringat akan kutipan yang katanya milik Einstein ini: "Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid."
Sejak pertama kali membaca kutipan itu, aku bertanya-tanya: apakah intelejensi soal kebisaan? Bagaimana caranya agar setiap orang mengenali "bisa"nya dan mendalami kebisaannya? Bagaimana caranya agar setiap orang bisa memeroleh (acquire) "bisa"nya? Apakah "bisa" inilah yang dimaksud dengan "potensi diri"?
(Aku berusaha tidak menyinggung sekolah dan sistem pendidikan sama sekali di sini. Akan tetapi, rasanya mustahil. Jadi, begini . . .
Sekolah dan sistem pendidikan itu harusnya membantu meneguhkan otonomi individu, menunjang potensi diri, dan meningkatkan kebisaan setiap individu. Dengan begitu, setiap orang bisa menjadi genius. Seharusnya [ini adalah ekspektasi, perlu dipertegas] sekolah dan sistem pendidikan tidak menyamakan "bisa" setiap individu yang memang berbeda dari sananya. Ini sama saja menjadikan semua orang bodoh. Dengan kata lain, sekolah dan sistem pendidikan gagal.)
Jadi, itu dia . . . Aku hanya ingin "bisa" dan "bisa"ku sangat terbatas (jelaslah, aku belum pintar alias aku masih bodoh). Bagaimana jika yang "bisa" tidak selalu "pintar" dan yang "pintar" tidak selalu "bisa"? Siapa pula yang membangun gagasan bahwa "pintar" berarti "serbabisa"? Kenapa “pintar” sepertinya datang dengan seperangkat ekspektasi yang berat, melamar kehidupan dengan penderitaan dan arus keharusan memenuhi ekspektasi tersebut?