What if Dazai were wrong? What if we had never been human (to begin with)?

[Catatan ini ditulis pada bulan Januari dan diperbaharui setelah sesi konseling pada tanggal 17 Februari 2025]

Osamu Dazai menulis No Longer Human yang menceritakan tentang Yozo Oba, seorang pria yang menjalani kehidupannya dengan berbagai macam topeng sesuai tuntutan masyarakat atas dirinya. Karena pengalaman hidupnya yang traumatis, termasuk perlakuan tidak manusiawi dan merusak tubuh yang dilakukan banyak pihak terhadapnya, Yozo merasa dia bukanlah manusia. Di sini, judul No Longer Human mengimplikasikan dua hal, yakni bahwa (1) adanya suatu masa di mana Yozo adalah manusia dan (2) masa itu dan ke-’manusia’-annya terhenti karena pengalaman traumatis tersebut. Ini kurang-lebih menggambarkan proses dehumanisasi.

Pada mulanya, tulisan ini terinspirasi dari karya Dazai di atas. Namun, tulisan ini tidak mencerminkan pola yang sama: proses dehumanisasi berkepanjangan menyebabkan trauma hingga humanness tergerus habis. Tulisan ini membahas identifikasi diri sebagai bukan-manusia. Bagaimana jika kita memang bukan manusia?

***

[Sebelum konseling, aku berpikir manusia mendahului homo sapiens. Namun, ketika aku membincangkan hal ini dengan psikologku, aku menyadari bahwa homo sapiens mendahului manusia.]

Sejak kenal Kafka, aku merasa aku lebih memahami diriku sendiri. Berkat karyanya The Cares of a Family Man, aku mengenal Odradek. Sejak membaca cerita ini, aku mulai mengidentifikasi diri sebagai Odradek. Setiap kali karyaku dipublikasikan, aku selalu menulis "mengidentifikasi diri sebagai Odradek" dalam bioku (ah, memangnya seberapa banyak yang baca tulisan-tulisanku? Lol). 

Sialnya, tubuhku terlanjur seperti ini. Rupaku pun begini. Aku tidak mengerti kenapa hanya karena aku terlihat seperti manusia, aku harus menjadi manusia? Manusia itu siapa dan apa? Jika manusia sudah manusia, kenapa masih harus "menjadi"? "Jadilah manusia" dan "be human"... Kenapa menjadi jika sudah benar-benar manusia? Kualitas apa yang membuat manusia 'manusia'? Sekali lagi, 'manusia' itu siapa dan apa?

‘Manusia’ adalah hal yang konkret sekaligus abstrak. ‘Manusia’ bersifat konkret karena tubuhnya. ‘Manusia’ bersifat abstrak karena ya, ‘manusia’ itu siapa dan apa? ‘Manusia’ juga digerakkan oleh hal yang abstrak: jiwa dan kesadaran. Di samping itu, ‘manusia’ (harus) menempati banyak konsep yang sama abstraknya.

***

Bagiku, ‘homo sapiens’, ‘manusia’, dan ‘orang’ adalah tiga hal yang berbeda. Homo sapiens adalah sejatinya ‘manusia’, bagian dari kingdom animalia dengan segala kebinatangan dan ketergantungannya pada alam. Jika ‘manusia’ memeluk ke-homo sapiens-annya, mereka akan mampu menghadapi dan menerima diri dengan lebih jujur dan terbuka. Tanpa mementingkan kehormatan. Tanpa ke-aku-an. Tanpa obsesi ketokohan. Mereka akan melihat betapa kerdilnya mereka di alam semesta yang raksasa. Mereka—mungkin—akan lebih rendah hati dan wawas diri, bukannya arogan membuat kerusakan di sana-sini.

‘Manusia’ adalah konstruksi sosial—I think. Padanya melekat beribu-ibu tuntutan, ekspektasi sosial, huru-hara pekerjaan, dan semua kerumitan bermasyarakat. Bukankah ‘manusia’ hanya label arbitrer untuk merujuk apapun itu yang termasuk homo sapiens? Sayangnya, ‘manusia’ yang merasa sangat luhur karena kesadaran dan kecerdasannya itu menghardik dan memutilasi ke-homo sapiens-an dari dirinya. Mereka mati-matian membunuh kebinatangannya, memangkas apa-apa yang natural dan menyebutnya ‘peradaban’.

‘Orang’ muncul ketika ‘manusia’ mengupayakan hubungan bermakna dengan 'orang' lain. ‘Orang’-lah yang membuat ‘manusia’ menjadi makhluk sosial karena mereka membutuhkan ‘orang’ lain untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka. ‘Orang’ disematkan pada mereka yang memiliki relasi dengan ‘orang’ lain dan karenanya juga mulai dinilai berdasarkan asosiasi tersebut. Akan tetapi, ‘manusia’ mengenakan banyak sekali topeng. Oleh karena itu, sulit bagi mereka untuk mencapai hubungan memuaskan yang autentik. Sulit bagi mereka untuk level-up menjadi ‘orang’. Eksistensi mereka berhenti di ‘manusia’ dengan keadaannya yang tidak lagi natural dan sangat kesepian.

Aku tidak sedang mencoba berfilsafat atau apalah. Aku hanya sedang mencerna kebingunganku: bagaimana aku bisa menjadi 'manusia', sementara aku Odradek? Untuk menjadi 'manusia', aku harus menirukan mereka (kenapa harus, ya?). Aku harus mengikuti setiap hal yang mereka anggap 'normal'. Tapi, apa itu 'normal'? Apakah aku harus menjadi 'normal'?

***

Karena aku mengidentifikasikan diri sebagai bukan-manusia, aku merasa kesulitan menjalani keseharianku. Aku merasa kian jauh dari diriku yang autentik—benda mati. Karena aku terlanjur terlahir homo sapiens dengan tubuh seperti ini, aku merasa sangat lelah menjadi (being) dalam keseharianku. Aku harus masking, masking, dan masking. Aku harus berpura-pura fit in di antara ‘manusia’. Karena inilah, aku merasa ongkos emosional untuk eksis terlalu tinggi bagiku. The emotional cost is too much. Pada akhirnya, inilah yang membuatku merasa tidak ada jalan lain untuk menjadi diriku yang autentik, selain kematian. Ini jugalah yang membuatku semakin berduka ketika merasa hidup atau bahagia. The more I feel alive, the more intense the grief I feel from not dying—from not being dead, a dead thing, an Odradek