Laporan kepada Akademi: Kontestasi Kemanusiaan Manusia

Franz Kafka, penulis Yahudi berbahasa Jerman asal Ceko, wafat 100 tahun lalu pada 3 Juni 1924. Karyanya yang multitafsir terus relevan dengan kehidupan manusia modern. Pantaslah hari wafatnya mendapatkan momen peringatan tersendiri. Di antara yang memperingatinya adalah Goethe-Institut Indonesien. Bulan Januari hingga Maret lalu, Goethe mengadakan pameran bertajuk “Komplett Kafka,” menampilkan ilustrasi karya komikus dan ilustrator Austria, Nicolas Mahler. Di bulan Maret, Goethe juga mengadakan kegiatan tur perpustakaan dan ngobrol bareng seputar Kafka dengan komunitas Baca Bareng. Mengawali Mei, Goethe bekerja sama dengan Ibed S. Yuga dan Kalanari Theatre Movement untuk menampilkan alih-wahana teatrikal karya Kafka yang berjudul “Laporan kepada Akademi” (1917). Alih-wahana ini ditampilkan di Salihara Arts Center pada 1–2 Mei 2024.

Penjajahan dan Penjarahan Identitas: Siapakah yang Manusia?

“Laporan kepada Akademi” menceritakan tentang Rotpeter Si Kera. Dia bukan sembarang kera (ape). Peter adalah kera yang menguasai bahasa dan perilaku manusia. Kini dia ingin melaporkan kemanusiaannya (humanness) di hadapan akademi. Di sini, akademi secara satir merujuk pada segelintir orang yang paling kritis dan menentukan dalam mem(in)validasi eksistensinya sebagai makhluk hidup. 

Sebagaimana kebanyakan karya Kafka, “Laporan kepada Akademi” menyorot konflik identitas dan pemerolehan “izin” (permission) dari masyarakat untuk hidup—to just be. Akibatnya, muncul banyak tekanan untuk memantaskan diri agar bisa berasimilasi. Mungkin saja Kafka menulis cerita ini dengan menimbang identitasnya sebagai seorang Yahudi. Namun, sebagaimana Duncan Stuart tuliskan, karya-karya Kafka merupakan ekstensi dari dirinya sendiri hanya selama Kafka ditempatkan dalam konteks sosiohistoris tempatnya eksis. Artinya, akan lebih pas apabila “Laporan kepada Akademi” ditempatkan dalam konteks penjajahan Eropa atas Ghana di Afrika Barat. Ini juga berdasar pada pernyataan Peter dalam ceritanya, yakni, “Saya berasal dari Pantai Emas (Gold Coast).” 

Penjajahan Eropa terikat erat dengan Whiteness, yakni pandangan bahwa ras Kulit Putih dominan dan superior atas ras Kulit Berwarna. Penggambaran ras seperti ini bermula dari the Great Chain of Being yang menempatkan ras secara hierarkis, di mana orang kulit putih dianggap paling advanced, sementara orang kulit hitam dianggap inferior karena paling dekat dengan kera. Karena inilah, “monkey” atau “monyet” menjadi salah satu cercaan (slur) yang paling banyak rasis lontarkan kepada orang kulit hitam. Tidak hanya penjajahan dan segregasi ras, rasisme ini juga melegitimasi adanya human zoo yang dipopulerkan oleh Carl Hagenbeck, pemasok hewan liar eksotis asal Jerman. 

Rasisme di atas pada akhirnya menimbulkan kontestasi humanness dalam senar evolusi: Apakah kera adalah manusia? Apakah manusia adalah kera? Apakah orang kulit putih manusia? Apakah orang kulit hitam manusia? Apakah orang kulit putih bukan kera? Apakah benar orang kulit putih terpilih untuk membangun peradaban? Peradaban seperti apa? Apakah peradaban yang mendehumanisasi manusia lainnya dapat disebut sebagai peradaban? Apakah peradaban membunuh kebinatangan manusia? Apakah peradaban menghapuskan kera dalam diri manusia? Bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan ini, Black Central European Studies Network berpendapat bahwa “Laporan kepada Akademi” merupakan satir yang menyindir kemunafikan misi peradaban dan penyesuaian (performance) tingkah laku untuk berasimilasi. 

Alih-Wahana “Laporan kepada Akademi” berbahasa Indonesia: Supremasi Kulit Putih menjadi Supremasi Jawa

Alih-wahana “Laporan kepada Akademi” dimulai dengan monolog dari Andika Ananda, aktor pemeran Rotpeter. Dalam monolog ini, Andika menceritakan pengalaman pribadinya sebagai orang Rote yang diadopsi keluarga Jawa. Di lingkungannya tumbuh, Andika beberapa kali mendapat cercaan “monyet” dari teman sebayanya. Paralelisme ini dengan slur monkey” bagi orang kulit hitam menunjukkan bahwa etnisitas tetap menjadi isu utama. Meskipun begitu, alih-wahana ini tidak lagi menyindir supremasi kulit putih, melainkan supremasi Jawa di Indonesia. Di sini, Jawa yang beranalogi dengan bangsa kulit putih melambangkan superioritas dan peradaban. Segala yang datang dari Jawa dan bersifat ke-Jawa-an dianggap luhur, sehingga Jawa menjadi standar.

Supremasi Jawa dan Isu yang Membuntutinya

Untuk mempertahankan sekaligus membuktikan statusnya sebagai standar, Jawa mendapatkan yang terbaik. Sementara itu, yang bukan-Jawa seringkali mengalami marginalisasi menjadi masyarakat kelas dua. Hal ini mencekoki yang bukan-Jawa dengan keharusan berasimilasi demi mendapatkan akses yang setara dan kesempatan yang sama; demi “standar” yang ditetapkan berdasarkan supremasi Jawa.

Alih-wahana “Laporan kepada Akademi” menggambarkan kompleksitas isu ini melalui aktornya, yaitu Andika, Arif, dan Falentina. Walaupun memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda, ketiganya mengarah ke satu inti: pendidikan. Pada akhirnya, “Laporan kepada Akademi” memang menggugat kecerdasan yang manusia agung-agungkan itu. 

Andika dan Rotpeter: Pendidikan dan Kecerdasan sebagai Jalan Keluar

Kisah Andika yang tumpang-tindih dengan kisah Rotpeter mengaburkan garis batas antara realitas dan fiksi. Di satu sisi, Andika memerankan tokoh Rotpeter sebagaimana Kafka menuliskannya: ia adalah kera asal Pantai Emas. Di sisi lain, Andika tidak melepaskan atribut ke-Jawa-annya ketika pentas. Saat melaporkan perjalanannya mencapai kemanusiaan (humanness), Peter dalam alih-wahana ini mengenakan batik parang dan songkok. Dengan busana tersebut, ia menekankan bahwa ia bukan sembarang manusia; ia manusia Jawa. Selain itu, tempatnya melapor kepada akademi juga mengalami lokalisasi menjadi jamuan makan malam formal dengan meja bundar besar. Bahwa Peter menggunakan meja tersebut sebagai panggung merupakan bentuk transgression terhadap tata krama Jawa; suatu pelanggaran yang dimaklumi karena dia adalah kera (atau bukan?). Jika ia benar-benar manusia Jawa, ia tidak akan melakukannya. Benar, kan?

Ketika melapor, Peter menyatakan bahwa ia tidak mencari kemerdekaan. Ia hanya menginginkan jalan keluar. Ia mengupayakannya dengan mengimitasi tingkah laku manusia yang ada bersamanya ketika ia masih di kandang dalam kapal. Setelah mampu meniru, ia menyadari itu tidaklah cukup. Ia harus mengenyam pendidikan. “Ah, kita belajar saat dibutuhkan; kita belajar saat membutuhkan jalan keluar; kita belajar dengan sekeras-kerasnya,” katanya. Akan tetapi, pendidikan setara dengan orang Eropa yang ia selesaikan ternyata tidak menjamin statusnya sebagai manusia, tidak memberikannya jalan keluar yang pasti. Untuk bisa hidup sebagai dirinya, ia harus menanggalkan tabiat keranya. Jika tidak, akademisi akan mempermasalahkan dan menilai eksistensinya sebagai sebuah anomali. Dengan kata lain, Peter harus terus membuktikan dirinya cukup manusia. Dari sini, muncul beberapa pertanyaan kunci:

  1. Apakah benar kecerdasan membedakan manusia dari kera (dan binatang lainnya)?

  2. Apakah kecerdasan membatalkan tabiat kera dalam manusia?

  3. Apakah kecerdasan secara serta-merta memanusiakan manusia?

  4. Kecerdasan seperti apa yang meninggikan manusia dalam strata kehidupan?

  5. Apakah benar kecerdasan membuat manusia superior dibanding makhluk lainnya?

  6. Apakah kecerdasan tidak bisa menjadikan makhluk lainnya superior dibanding manusia?

  7. Apakah kecerdasan memantaskan manusia menjadi hakim eksistensi makhluk lainnya?

  8. Jika manusia bisa cerdas karena pendidikan, apakah pendidikan yang mengategorikan manusia secara diskriminatif memberikan jalan keluar dalam peradaban? 

Pertanyaan-pertanyaan di atas disajikan dalam bentuk penceritaan pengalaman Andika dalam monolognya dan Rotpeter dalam laporannya kepada akademi. Sama seperti Rotpeter, Andika selama masa sekolahnya juga harus terus membuktikan diri sebagai “produk” asimilasi. Ini menyiratkan bahwa yang berbeda harus menyamakan diri dengan sekitarnya. Tidak ada penerimaan tanpa syarat. Yang ada hanyalah toleransi sebagai bentuk perlawanan, “Silakan eksis selama kamu tidak menyalahi standar yang berlaku.” Namun, siapakah yang menentukan standar tersebut? Apakah kecerdasan manusia sebegitu kakunya hingga tidak dapat mengubah standar yang seharusnya dinamis mengikuti zaman? Apakah kecerdasan menghalangi manusia menerima yang berbeda?

Arif dan Falentina: Menyoroti Kesenjangan Pendidikan di Indonesia

Arif merupakan seorang Tuli yang aktif di bidang seni. Dalam alih-wahana “Laporan kepada Akademi”, Arif berperan sebagai Rotpeter. Meskipun tampil dalam waktu bersamaan dengan Andika, Peter versi Arif menceritakan kisahnya menggunakan bahasa isyarat. Ia khususnya menggambarkan kemelut dan gejolak batin Peter yang berusaha mencari jalan keluar ketika masih dalam kapal. Peter banyak mengekspresikan perasaan takut, frustasi, kesendirian, dan terisolasi. Perasaan-perasaan ini muncul karena Peter tidak dapat berkomunikasi maupun memahami-dipahami oleh mereka yang ada di sekitarnya. Singkatnya, terdapat language barrier di antara mereka. Hal ini sejalan dengan pengalaman pribadi Arif.

Arif membagikan kisah pribadinya mengenai kesenjangan dalam dunia pendidikan Indonesia dan pergolakannya berasimilasi dengan masyarakat dengar. Ini menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia sebenarnya belum inklusif, terus memaksakan komunitas difabel untuk legowo dalam menghadapi kesulitan sehari-hari, padahal akses yang mudah dan terbuka adalah hak dasar manusia. Apa yang menyebabkan pendidikan Indonesia memperlakukan komunitas difabel sebagai masyarakat kelas dua? Apa yang memperlambat perkembangan pendidikan Indonesia yang lebih inklusif?

Sementara itu, kisah Falentina menilik akses terbatas ke pendidikan berkualitas di wilayah luar Jawa. Memilih meninggalkan Nusa Tenggara Timur, Falentina mengenyam pendidikan lanjutan di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) Yogyakarta. Ia meyakini bahwa bersekolah di Jawa akan memberikannya kesempatan lebih banyak dan mengenalkannya ke orang-orang yang beragam. Keragaman sudah tertanam dalam benaknya, akan tetapi Jawa berbeda dari yang dibayangkannya. Tidak sedikit yang menganggapnya asing, terutama karena perawakannya yang ke-Timur-an, begitu ujarnya. Karena perbedaan fisiknya, ia sempat merasa insecure hingga ia me-rebonding rambutnya di salon. Sekarang ia mungkin merasa lebih nyaman dengan rambut lurusnya. Akan tetapi, ini berawal dari perasaan negatif yang muncul karena adanya tekanan untuk berasimilasi dengan mengubah penampilan. 

Kenapa sekolah yang seharusnya memanusiakan manusia justru memaksa seorang individu mengubah, bahkan menghapuskan bagian dari dirinya? Bukankah ini penjagalan yang tidak manusiawi? Lantas, apa yang melegitimasi hal ini?

Pendidikan, Yogyakarta sebagai Kota Pelajar, dan Rekam Jejak Rasisme

Tidak ada kebetulan dalam pemilihan Yogyakarta dalam lokalisasi alih-wahana “Laporan kepada Akademi”. Yogyakarta bisa jadi dipilih karena Kalanari Theatre Movement lahir di sana. Namun, Yogyakarta adalah pilihan yang sesuai dengan tema cerita Kafka tersebut. Yogyakarta dikenal sebagai Kota Pelajar, label yang mengisyaratkannya sebagai rumah bagi para akademisi. Pemilihan lokasi spesifik seperti ini juga memungkinkan adanya refleksi mengenai pendidikan di Indonesia, “Jika pendidikan di Jawa yang seharusnya bagus saja hanya mencapai level ini, apakah pendidikan itu worth it untuk dipertahankan?” 

Tak berhenti di situ, pemilihan Yogyakarta pun selaras dengan kontestasi kemanusiaan (humanness) berdasarkan ras. Benar bahwa alih-wahana ini menyediakan cerita personal dari aktornya yang relevan dengan isu rasisme terhadap orang Indonesia Timur. Namun, rasisme ini bukanlah hal baru. Sentimennya muncul sudah sejak lama. Salah satu manifestasinya adalah kasus Asrama Papua tahun 2016 dan berlanjut hingga 2020. Menanggapi hal ini, gubernur Papua pada saat itu Lukas Enembe mengatakan, “Kami bukan bangsa monyet. Kami adalah manusia Papua yang punya harga diri dan martabat sama dengan suku bangsa lain.” Menggarisbawahi pesan yang sama, slogan penutup alih-wahana “Laporan kepada Akademi” berseru, “Aku bukan monyet!” dan “Manusia adalah primata,” (jadi tidak perlu menghujat orang lain monyet atau kera lainnya karena manusia tidak pernah berhenti menjadi kera hanya karena mereka punya kecerdasan).

Peringatan Kematian Kafka yang ke-100 adalah Perayaan Keberagaman

Secara keseluruhan, pertunjukan teater alih-wahana “Laporan kepada Akademi” adalah pertunjukan yang memuaskan. Lokalisasi yang ada tidak menghilangkan esensi Kafka dari ceritanya. Sebaliknya, hal ini justru mendekatkan audiens dengan isu sosiopolitik yang seringkali masyarakat hindari dengan dalih, “Itu isu sensitif.” Semoga ini memantik refleksi kritis atas asimilasi dan marginalisasi yang ada dalam masyarakat. Sebagai peringatan kematian Kafka yang ke-100, alih-wahana ini merupakan hadiah yang ciamik; mempelajari ulang kemanusiaan, merayakan keberagaman, dan menghidupkan kembali kecintaan terhadap Kafka.