#25 So they say.
“Kami inklusif, kok,” pasti adalah salah satu kebohongan paling marak di era ini. Terdengar ramah, manusiawi, terbuka, dan seperti menawarkan solusi di mana semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang sama. Idealnya begitu. Seharusnya begitu. Namun, “Kami inklusif, kok,” hanyalah sebatas slogan marketing, omong kosong yang perusahaan sampaikan ke pelanggan demi keuntungan. Banyak perusahaan seperti itu, termasuk perusahaan yang bergerak dalam pendidikan. Yap. “Kami inklusif, kok,” begitu kata perusahaan yang mengerdilkan pendidikan hanya menjadi sebatas komoditas. Jual-beli jam belajar. Jual-beli buku yang sebetulnya bekerja sebagai kungkungan dan bukannya jendela dunia. Jual-beli kepercayaan yang inti sejatinya adalah transaksi. Profit. Profit. Profit. “Kami inklusif, kok,” begitu kata perusahaan yang memerintah timnya untuk bekerja keras tanpa kenal waktu, tanpa waktu istirahat, dan pastinya tanpa kesetaraan jam kerja. Begitulah perusahaan pendidikan neoliberal. Tidak ada pendidikan. Tidak ada kemanusiaan. Hanya ada profit. Uang. Uang. Uang