#15: Kue Bolu
Ingatkah kau saat kaumemanggang kue bersama Ibumu?
Kepadanya kubilang, terima kasih telah melahirkan pelawak terbaik
yang mengisi hari-hariku dengan tawa. Ibumu tersenyum dan di sampingnya,
sambil memegangi bolu, kautersipu.
Katamu, perasaanmu selembut kue bolu dan sesegar perisa lemon kue itu.
Dan, ya, akulah piring yang kemudian kosong ketika habis kue itu
dan akulah yang kau banting pecah saat tak bersisa lagi rasa itu.
Remah-remah di meja itulah kenangan manis yang disemuti,
yang berserakan tanpa arti.
Kutatap Ibumu kini dan kukatakan padanya,
"Mungkin sebaiknya ia menjadi koki
yang pandai memasak berbagai hidangan dengan beragam rasa.
Tawa memang menyenangkan, tapi tak mengenyangkan,"
lalu tersenyum dan pergi dari rumahmu.
Hari ini, aku menyantap leluconmu yang basi,
yang kuambil dari dalam kulkas sambil meminum air
yang menetes dari langit-langit mata,
dan gelas yang kaulukis dua tahun lalu retak dalam genggaman.
Tisu-tisu basah sejak dalam kemasan,
adakah merembes kesedihanku ke dalamnya?
2021, Agustus 24.