Menyelami Kedalaman Jiwa bersama Gamaliél Tapiheru melalui EP Q1
Q1 adalah karya Gamaliél Tapiheru yang pertama sebagai solois, setelah hiatus dari GAC
sejak tahun 2019 lalu. Melalui EP ini, aku melihat sisi lain Gamaliél
sebagai individu, lain dari citra yang dia tampilkan di
layar kaca. Q1, layaknya kendaraan, mengantarkanku dengan aman dan nyaman menuju ke kedalaman jiwaku sendiri. Setelah
mendengarkan, aku menyadari bahwa Gamaliél adalah seniman dan musisi
yang mengagumkan. Aku kembali terpukau ketika memperhatikan
betul-betul kata demi kata dalam setiap lagunya. Gamaliél ternyata penulis yang
berbakat dan peka. Kombinasi kegemilangannya sebagai musisi dan penulis ini
melahirkan karya yang sangat hebat.
Berbicara soal karya musisi yang
dirilis selama pandemi, yang terilhami kontemplasi, refleksi diri, dan proses
penyembuhan diri, jika Amerika Serikat punya Taylor Swift dengan albumnya folklore, Indonesia punya Gamaliél Tapiheru dengan EP-nya Q1. Aku menyandingkan keduanya bukan tanpa alasan. Gamaliél berhasil
membawakan kisah perenungan dan penyembuhan diri yang sama menyentuh dan
mengakarnya dengan Taylor Swift. Karya mereka melantunkan lebih dari sekadar
pengalaman. Menurutku, yang membuat lagu-lagu Gamaliél dalam EP Q1-nya
ini spesial dan luar biasa adalah kedalaman berlapis-lapis yang memohon untuk diselami.
Gamaliél bilang, EP ini adalah perjalanan spiritual baginya.[1] Spiritual dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki
arti, "berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin)."
Segala sesuatu yang bersumber dari jiwa, roh, dan batin selalu indah dan
Gamaliél dengan kegeniusan serta suara angelic-nya
berhasil mengekspresikan keindahan itu. Q1 ini terdiri dari empat lagu,
yaitu / forever more /, / ethereal /, / unfindable /, dan / adjacent /. Setiap
lagunya mengajak pendengar menyelami sisi yang berbeda dari kedalaman jiwa
manusia. Keempat lagu ini ibarat undakan tangga yang menuntun manusia mencapai
tingkatan spiritual tertingginya, semacam maqam
dalam ajaran sufi.
/ forever more / mengisahkan luka masa lalu dan
proses panjang pemaafan serta penerimaan diri yang penuh lika-liku, yang penuh
penolakan pada awalnya. Pendengar diminta berkaca untuk melihat ke dalam diri
sendiri dan mendengarkan jiwanya berbicara. Jiwa itu datang sebagai kanak-kanak
yang rewel minta didengarkan. Jiwa itu datang penuh luka yang menjerit minta
disembuhkan. Luka adalah teman hidup yang jika diabaikan akan menusuk
dari belakang dan menikam hingga mati. Kedalaman jiwa yang diselami di sini
penuh kepahitan, tetapi begitulah hidup. Sebagaimana liriknya bilang, “Through the pain is how we learn,” dan
inilah satu-satunya hal yang kita tahu pasti tentang bagaimana caranya
menjalani kehidupan.
Salah satu pesan yang aku
tangkap dari lagu ini adalah ”Bagaimana kamu akan bertumbuh dan berkembang
sebagai manusia, jika kamu tidak menyembuhkan luka masa lalumu? Bagaimana ada
kenikmatan dalam menjalani hari ini, jika kamu masih membiarkan masa lalu menyakitimu?
Bagaimana akan ada masa depan, jika masa lalu telah mengandaskan masa kinimu? Bagaimana bisa kamu bisa menjalani hidup, jika jiwamu sekarat? Terima dan cintai dirimu sendiri. Gandenglah dirimu mengarungi ruang dan waktu.
“Hold my hands. Hold my hands. I love
you. Into the grave. Forevermore, I
pray.”
/ ethereal / mengisahkan eksplorasi diri ke kedalaman jiwa untuk menemukan siapa kita sebenarnya di tengah arus kencang dan buru-buru dunia. Setelah
mendengarkan lagu ini, aku tersadar: ketika kita membicarakan “diri”, kita
sebenarnya membicarakan sesuatu yang abstrak, yang banyak, yang senantiasa
berubah mengikuti arus kehidupan. Meskipun selalu berubah, “diri” tidak pernah
sirna. Ia abadi. Karena ini, aku meyakini bahwa diri adalah jiwa, bukan fisik.
Kita seringkali menghakimi diri sendiri karena kita menganggapnya rusak. Tapi,
bagaimana jika kita tidak rusak? Kenyataannya, kita hanya sedang bertumbuh dan
berkembang, seperti broken bough dalam
lagu ini. Meskipun dibilang broken,
ia sebetulnya masih terus mengarungi arus kehidupan, mengikuti ke manapun water itu membawanya. Kehidupan selalu
berubah, sebagaimana the weather seems
irregular. Kita menjalani hidup hingga kita sampai ke sana (there), ke tujuan kita masing-masing.
Tak bisa dipungkiri, kita
butuh teman perjalanan. Kita butuh teman yang mengajak kita beranjak. Kita butuh seseorang untuk menemani, seseorang yang bisa bisa kita
andalkan, yang menguatkan. Teman itu bisa kita temukan dalam lagu ini melalui “I” dan suara Gamaliél. Kita tidak akan
pernah sendirian, sebagaimana bunyi lirik ini: “Wherever you might be, I’ll be there.” Inilah janji yang menjadi
tambatan ketika arus begitu menghanyutkan. / ethereal / melantunkan kisah
eksplorasi diri dan jalinan jiwa atau ikatan batin yang pasti di tengah
kehidupan yang penuh ketidakpastian. Pesan yang digaungkannya adalah kesabaran,
kekuatan, dan kesetiaan: “Ethereally, we are gon' be forever.”
/ unfindable / melisankan pembebasan jiwa. Di dunia modern dan era digital, manusia lebih mudah masuk ke jeratan duniawi, semua hal semu yang seolah-olah mendefinisikan eksistensi manusia. Karena jangkauan internet yang luas dan publikasi yang masif, manusia jadi lebih mudah menyerap nilai-nilai dan standar-standar palsu. Siapa yang menentukan standar itu? Jika tidak memenuhi standar yang sebetulnya tidak ada itu, kita menganggap diri kita gagal. Selalu saja ada tuntutan, ada persaingan, ada standar kesuksesan yang memenjarakan dan memberatkan pundak serta kepala kita. Semuanya buru-buru. Semuanya harus produktif. Harus begini, harus begitu. Siapakah yang menentukan kesukesan kita? Siapakah yang berhak mendefinisikan kesuksesan itu? Manakah kebenaran? Adakah ia di antara suara-suara bising kehidupan? Adakah ia di antara suara-suara sumbang dari luar diri? Apakah kebenaran itu bersumber dari luar atau dalam diri? Bisakah kita menemukan kebenaran itu? Jika sudah terpuruk, apakah mungkin meraih ketinggian dan menemukan kebenaran? Adakah yang bisa membebaskan jiwa dari belenggunya? Ya, ada. Jawabannya adalah cinta. Aku rasa, itulah yang ingin disampaikan dalam / unfindable /.
Dunia penuh dengan banyak hal semu yang menjerat manusia dan mengurung mereka dalam keterpurukan, padahal kehidupan adalah tentang proses dan penghargaan terhadap hal-hal kecil. Pembebasan jiwa yang ditawarkan dalam lagu ini adalah cinta dan keyakinan terhadap cinta itu sendiri. Selama kita mencintai dan dicintai, selama kita yakin akan cinta itu, kita akan terus bertumbuh dan berproses. Kita akan terus melaju. Kita akan selalu punya kekuatan. Cintalah penerang dan penuntun di tengah kehidupan yang penuh kemelut ini. Karena cinta ini, kebenaran yang unfindable pun akan bisa diraih. Mungkinkah cinta itulah kebenarannya?
/ adjacent / menggambarkan penyembuhan dan penyelamatan diri yang penuh emosi. Kisah ini dilantunkan dengan kelembutan dan keakraban yang menenangkan dan menguatkan, sekalipun yang diangkat adalah kisah kebersamaan dan pertalian dua jiwa yang asing. Di satu sisi, dua individu dalam kisah ini rapuh dan terbuka. Begitu terbuka hingga rasanya semua rahasia sudah tersingkap. Di sisi lain, kisah mereka menyimpan kedalaman bertumpuk dan misteri yang tak akan pernah terungkap. Pendengar diajak menjelajahi lautan emosi yang pasang-surut dengan ombaknya yang bergerak teratur, tapi menghentak keras bebatuan di tepi pantai.
Membuka diri tidaklah
mudah. Selalu ada rasa takut dan ragu, tapi juga selalu ada gairah untuk go for it, keinginan kuat untuk mengerti
dan dimengerti. Lagu ini melisankan ketakutan dan kesediaan membuka diri demi menggenapkan dan mengaktualisasi diri sambil membersamai dan dibersamai orang lain.
Kebersamaan itulah yang pada akhirnya memandu ke penyembuhan dan penyelamatan
diri: “Maybe we could be adjacent. Maybe
we should adjacent. So we’ll get through.”
Alunan musik setiap lagu
dalam Q1 sangat lembut. Ada kehalussan rasa di setiap dentingnya. Melodinya menghanyutkan dan menciptakan
atmosfer unik. Setiap lagu membangun momen spesial dalam ingatan. Tidak ada
satu hal pun dalam mahakarya ini yang membuatnya menjemukan, membosankan, dan
memekakkan telinga. Q1 membuat pendengarnya ketagihan dan terlalu nyaman,
sehingga mereka sulit berpindah (move on).
Tidak mengherankan jika EP ini tidak hanya personal bagi Gamaliél, tapi
juga bagi pendengarnya.
Aku bisa merasakan setiap
kata dalam Q1 dipilih Gamaliél dengan serius, dengan penuh pertimbangan.
Majas dan diksi puitis tersebar di semua lagunya. Setiap kata membentuk
rantai yang mengikat karyanya dalam satu tema, satu pesan besar, dan satu
puncak tempat semua teriakan jiwa lepas. Setiap kata itu pun mengalirkan makna
yang dalam dan membasuh jiwa dalam proses penyucian diri. Gamaliél melalui Q1
menyuarakan cinta yang universal, spiritual, bahkan divine. Kedalamannya menyentuh, menguatkan, dan mengobati. Di saat
yang bersamaan, kedalaman itu menenggelamkan dan meleburkan jiwa dalam keutuhan
dan kemurnian cinta. Seperti kata Rumi:
Lose yourself,
Lose yourself in this love.
When you lose yourself in
this love,
you will find everything.
Lose yourself,
Lose yourself.
Do not fear this loss.
For you will rise from the
earth
and
embrace the endless heavens.
Sudah jelas, Q1 adalah karya berkualitas yang digarap dengan totalitas. Q1, tanpa diragukan lagi, adalah perjalanan spiritual yang harus ditapaki dan dinikmati banyak orang. Semoga makin banyak yang jatuh cinta dengan karya Gamaliél Tapiheru. Semoga makin banyak yang menyadari betapa kerennya musisi tanah air yang satu ini dan mengapresiasinya tanpa henti.
