Franz Kafka: A Chameleon
Sejak mengetahui bahwa Milan Kundera dalam bukunya mengkritik “penyajian” Kafka bagi para pembacanya, aku tidak bisa berhenti memikirkan “kepalsuan” Kafka. Menurut Kundera, Kafka ditampilkan sedemikian rupa hingga dia bukan lagi Kafka yang sebenar-benarnya, melainkan Kafka yang diciptakan oleh Max Brod dalam bidang yang disebutnya sebagai Kafkology. Aku sebetulnya tidak ingin percaya. Akan tetapi, semakin banyak aku membaca soal Kafka, semakin aku yakin bahwa Kafka yang kukenal bukanlah Kafka—tentu saja, aku tidak mengenalnya sebagaimana kata “mengenal” itu dipahami banyak orang. Tidak kusangka, dia yang telah kukenal selama kurang lebih empat tahun ini mengabur dalam hidupku dan redup begitu saja. Aku laksana seorang pengelana yang tinggal di dalam gua dan Kafka ialah lentera penerangnya.
Dalam
catatan hariannya yang bertanggal 9 Juli 1912, Kafka menulis,
“My dear Max, Here is my diary. As you will see, I faked a little
because it was not intended for me alone. I can’t help that; at any rate, such
faking is not in the least deliberate.”
Saat
membaca ini, aku bingung, “Jadi, Kafka sadar saat dia melebih-lebihkan
tulisannya? Dia memberitahu catatan hariannya ke Max?” Karena catatan harian
yang ditunjukkannya kepada Max mengenai Weimar, aku pikir tulisan itu lebih
tepat dikatakan sebagai catatan perjalanan. Tapi, tentu saja, aku tidak tahu
pasti. Itu hanya dugaanku. Bagaimanapun, itu tidak mengurangi kebingunganku
soal pertanyaan pertama.
Dalam
salah satu keterangan catatan harian Kafka, Brod mengungkapkan bahwa ia
menghapus bagian yang berisi keluhan Kafka soal salah seorang dosennya. Apakah
itu untuk menjaga nama baik dosen tersebut atau untuk melindungi citra Kafka?
Aku tidak tahu. Akan tetapi, sebagai pembaca, aku berharap bagian itu turut
disertakan.
Di
samping itu, “Surat untuk Ayah”-nya Kafka pun dianggap
hiperbolis. Aku membaca penilaian ini berulang kali dalam teks berbeda. Menurutku,
surat Kafka untuk Ayahnya berisi perasaan yang ia coba sampaikan dengan jujur
tanpa mengabaikan pertimbangan atas kedua pihak yang bersangkutan. Meskipun begitu,
ada kemungkinan bahwa perbedaan pendapat dipengaruhi oleh bahasa teksnya—misal,
bahasa Indonesia, Inggris, dan sebagainya.
Beberapa
waktu lalu, aku bertanya kepada seorang teman internet yang berkuliah di
jurusan bahasa Jerman soal penggunaan “I
am very fond of you” dalam terjemahan bahasa Inggris salah satu surat Kafka
kepada Oskar Pollak dari bahasa Jerman “Ich
habe Dich sehr lieb.” Menanggapinya, temanku menjawab, “That’s so dramatic.” Memang.
Dari
salah satu pengguna Tumblr, aku mengetahui bahwa liebe dipakai oleh dua orang yang saling mencintai, seperti
sepasang kekasih. Temanku pun setuju soal ini. Dia bilang, memang begitu
biasanya. Kemudian dia menambahkan, “He
was probably a queer. No straight person is that dramatic.” Lalu kami
sedikit membahas penghapusan hal-hal terkait seksualitas figur historis dari
sejarah. Sebetulnya, ada “teori” yang mengatakan bahwa Kafka merupakan seorang
homoseksual karena dia bermimpi mencium dada seorang laki-laki. Aku menemukan
ini pada tahun 2018 lalu. Karena penasaran, pada malam harinya aku bertanya
kepada beberapa teman laki-lakiku, apakah mereka mendapatkan mimpi basah
tentang laki-laki. Mereka menjawab tidak.
Ini
semua hanyalah dugaan, dugaan, dan dugaan. Semacam ide yang baru akan menjadi
absah jika ada bukti-bukti valid yang mendukungnya. Karena kerepotan dengan
segala kerumitan dalam memahami Kafka dan tidak percaya dengan true colors, bagiku saat ini Kafka ialah
seekor bunglon yang menemaniku dalam gelapnya gua. Ia bebas berubah warna
menjadi apapun yang ia suka, menunjukkan sisi manapun yang ia pilih.
Bagaimanapun, aku tetap tidak bisa melihatnya. Aku hanya tahu ia bersamaku.
Tidak penting warna apa yang ia kenakan—apakah ia Kafka asli atau Kafka hasil
rekayasa Brod atau Kafka lainnya. Meski tak bisa kukenali sepenuhnya, ia
tetaplah Kafka yang selalu menemaniku.