Fiksi Mini #2: Pesawat Terbang

Pesawat Terbang

Aku bicara dengan Pesawat Terbang, yang menyampaikan padaku, bahwa rindu itu membutuhkan jarak dan sesal ialah muara bagi mereka yang menyiakan waktu kala rindu seharusnya ditebus. Sepulang dari pertemuan kami, aku melewati tanah gersang yang lapang, di atasnya berbaris nisan-nisan kelabu, lusuh dan berdebu.

Kadang, matinya seseorang membuatmu merindu. Akan tetapi, Pesawat Terbang sepertiku, atau yang lainnya, yang dimiliki dunia ini, tidaklah mampu membawamu menuntaskan rindu itu. Lihat, di langit itu tersimpan danau yang mengalir, yang hulunya berisikan teriakan kepedihan akibat rasa sepi. Yang mati adalah mereka yang siap pergi, namun tak siap dilupakan. Kamu, jika rindu, itulah hal baik, karena ingat masihlah berbunga dalam kepalamu. Begitu katanya.

Aku bertanya padanya, "Pesawat, pernahkah awakmu membawa seseorang yang merindukanku?" Lalu balingnya berputar, seolah terkekeh, kemudian ia menjawab, "Aku tidak bisa memberitahumu. Baginya, yang merindukanmu, rindu itu sendiri adalah rahasia. Dia yang merindukanmu merupakan pemilik hati yang patah, yang membutuhkanmu untuk menyambungnya kembali. Tapi, dia lupa, aku tidak bisa mempertemukan dua manusia dalam keadaan mabuk cinta, kecuali restu telah berkumandang dari mereka yang mati."

Aku mengerutkan kening, "Apa urusanku dengan yang mati?" Pesawat Terbang meneguk sedikit oli dari cangkir yang disediakan teknisi, lantas membalas pertanyaanku, "Mereka yang mati adalah yang kamu hutangi rindu. Untuk apa kamu mendahulukan yang patah hati, sementara di bumi, terlelap seseorang yang merasa sepi, karena rindumu terhadapnya belum juga dibayarkan? Yang mati itu memilikimu lebih dahulu, dibanding olehnya yang patah hati."