PERSIAPAN SBMPTNKU HANYA SEBATAS MELIHAT JARUM JAM YANG BERGERAK LEBIH CEPAT. LALU, APA?
PERSIAPAN SBMPTNKU HANYA SEBATAS MELIHAT JARUM JAM YANG BERGERAK LEBIH CEPAT. LALU, APA?
Silvy Rianingrum
Silvy Rianingrum
![]() |
| source: Google. |
Berapa hari lagi sebelum akhirnya SBMPTN benar-benar datang? Sepertinya, aku sudah berhenti menghitung sejak satu minggu lalu. Hari-hariku begini saja, tidak ada kesibukan di tempat les beruangan dingin, tidak ada tumpukan buku tebal khusus SBMPTN, tidak ada kesempatan untuk bimbingan tambahan, tidak ada kumpulan soal yang secara khusus kusukai, hanya ada aku yang memandangi jarum jam yang bergerak lebih cepat. Di era digital ini, banyak orang yang membagikan kegiatan belajarnya melalui sosial media, terkadang dilengkapi dengan keterangan yang berbunyi: pencitraan. Oh, yaampun, teman-teman! Betapa hal itu membuat orang-orang sepertiku panik bukan kepayang! Aku belum belajar! Oh, Tuhan, bagaimana, bagaimana? Lalu, hanya ada embusan napas dan mata yang tetap fokus melihati jarum jam yang bergerak lebih cepat. Entahlah, teman-teman, tapi bagiku, proses belajar adalah privasi. Tidak seorang pun perlu tahu apakah kau terbangun pukul dua malam untuk mengerjakan soal, atau kau terjaga semalaman untuk membaca buku rangkuman, atau kau membayar sebuah web untuk belajar daring, dan sebagainya. Itu sebabnya teman-teman sekalian jarang menemukan pos yang berbau pelajaran di akun sosial mediaku. Mungkin, lebih sering menemukan aku mengulas buku atau film, atau artikel, atau video dari YouTube, atau kicauan konyol dari Twitter, dan lain sebagainya yang bersifat sampah bagi sebagian orang.
Sejujurnya, aku takut. Takut sekali. Tapi, aku redam semua itu dengan melihati jarum jam yang bergerak lebih cepat. Begitu saja, begitu terus sampai bunyinya menjadi sebuah mahakarya alam semesta bagiku. Seandainya, sekali saja keberuntungan berpihak kepadaku. Maksudku, benar-benar keberuntungan. Kau tahu? Misalnya saja keberuntungan akan memberikanku PTN yang aku cita-citakan secara cuma-cuma. Sudahlah, itu hanya khayalan manis. Kau bisa bilang aku naif jika aku mengatakan bahwa aku tidak ingin berkuliah di perguruan tinggi ternama dan bergengsi, menuntaskan pendidikan strata 1 di sana, menginspirasi banyak orang dengan memamerkan almamater—memamerkan—, dan mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi yang dielu-elukan sejak SMA. Tapi, aku bahkan—dengan pasti—akan memanggil diriku sendiri munafik jika mengatakan aku tidak ingin belajar mencintai dengan tulus dan secara penuh. Kau tahu, layaknya remaja lainnya, aku juga senang jatuh cinta. Hanya saja, bukan dengan remaja laki-laki yang gemar berkata kotor atau seseorang yang tampan. Aku lebih suka jatuh cinta dengan karakter fiksi dan penulis yang sudah mati. Jadi, itu alasan mengapa aku menghabiskan waktu untuk melihati jarum jam yang bergerak lebih cepat. Kau sudah membacanya. Benar. Tapi yang belum kau ketahui sebelumnya adalah: aku memandangi jarum jam itu karena aku butuh lebih banyak waktu untuk jatuh cinta, bukan untuk mempersiapkan diri. Maaf. Maaf sekali jika terdengar gila. Akan tetapi, aku lebih suka belajar secara bebas melalui buku-buku yang kubaca, alih-alih dari lembaga pendidikan dengan sistemnya yang payah dan pengelompokkan manusia berdasarkan klasifikasi yang tak jelas. Walaupun aku lebih suka Plato, tapi cara belajar Aristoteles sepertinya lebih menyegarkan dan membebaskan. Yang lebih asyik lagi, cara Socrates! Dia berjalan-jalan dan menanyai orang-orang dengan pertanyaan spontan—contohnya, apa itu keadilan?—dan berpikir. Kepercayaan dirinya benar-benar tinggi. Selain itu, Socrates tidak menyukai demokrasi. Katanya, hanya karena sesuatu memiliki suara terbanyak (atau mayoritas), bukan berarti benar. Mengenai jatuh cintaku ini, tolong jangan dianggap anomali. Ini normal.
Ah, perihal penyusunan strategi sebab penilaian SBMPTN yang diperbaharui. Aku tidak berharap kau akan mengikutiku, tapi tetap saja, menurutku kau harus mempertimbangkannya. Jawaban benar akan dinilai dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda dan hal itu didasari pada seberapa banyak orang yang bisa mengerjakannya. Apakah aku memilih mengisi penuh atau mengosongkannya saja? Kebanyakan orang akan mengisi penuh dengan strategi nembak. Toh, tidak ada ruginya, tidak ada pengurangan nilai. Tapi, aku lebih memilih untuk mengosongkannya demi keadilan. Aku tidak mau nembak jawaban dengan menggantungkan segala perhitungannya pada keberuntungan (oke, jadi si keberuntungan ini benar-benar membuatmu optimis, benar?). Sebaiknya, jujur saja dengan kemampuanku sendiri. Maksudku, kasihan mereka yang sudah belajar mati-matian tapi tak jadi lolos karena kebanyakan pengikut tesnya mengandalkan keberuntungan. Biar adil, agar tidak memengaruhi penilaian yang masih tak jelas dan tak transparan itu, aku memilih mengosongkan. Tapi, ingatlah: orang berubah. Mungkin, di menit terakhir pelaksanaan ujian, aku akan mengisi semuanya. Siapa tahu?
Rasanya akan sangat hebat jika ada banyak orang yang setuju untuk mengajukan permintaan ke tim penilai, tim penyelenggara, bahkan kementrian pendidikan itu sendiri untuk lebih transparan, lebih pengertian, lebih mendengar. Mungkin, untuk bentuk protesnya, kita bisa berjalan di sepanjang jalan ibu kota sambil menyerukan segala yang ingin kita ubah, sambil mengenakan pakaian tertentu. Ide menggunakan topeng juga bagus. Rasa-rasanya, hidup bebas tanpa kekuasaan lebih tinggi, tanpa sistem yang tak jelas, tanpa serentetan momen Kafkaesque, benar-benar pantas diperjuangkan. Dan, diam-diam, aku baru saja mengajukan penawaran untuk menjadi anarkis kepadamu. Sekali lagi, anarkisme, bukan vandalisme. Terima kasih kalau setelah membaca ini, kau mencari artinya di KBBI daring.
Jujur saja, aku sedikit menyesal telah membawakan pidato tentang hak anak sewaktu kelas 9. Rasanya, aku menyerukan sesuatu yang sama sekali kosong. Aku juga menyesal karena seperti inilah nasib para pelajar negeri ini. Jelas sekali aku tidak bisa mengatakan bahwa semua orang muak dengan sistemnya atau bahwa sistem ini benar-benar payah sehingga tak menghasilkan satu orang pun dari generasi kami yang hebat dan berbakat. Tapi, secara umum, teman-teman sekalian—dan juga aku—sangat lelah. Ada suatu waktu ketika aku terjaga pada tengah malam. Aku bertanya pada diriku sendiri: sebenarnya, apa yang aku perjuangkan? Tidak bisa, ya, jika aku tidak pergi ke perguruan tinggi? Apakah tidak cukup jika aku mempelajarinya semuanya dari buku dan mencari jawaban dengan caraku sendiri? Apa benar-benar tidak akan bisa mendapat pekerjaan tanpa gelar setelah lulus strata 1? Kepalaku berdenyut. Jadi, aku memaksa diriku untuk tidur kembali. Secara de facto, aku mengalami masa kritis dan eksistensiku benar-benar terancam. Tapi, hal bagusnya adalah: untuk mempertahankan eksistensiku, tidak ada seorang pun yang bisa menentukan apakah suatu keputusan lebih baik dari yang lainnya bagiku. Hanya aku seorang yang bisa. Jadi, berhentilah menanamkan begitu banyak pemahaman yang tak ingin aku dengar. Kata orang, jangan kebanyakan bermimpi untuk hidup di negeri dongeng. Tidak akan tercapai. Sekarang, bacalah baik-baik. Jangan kebanyakan dengar apa kata orang di sekitarmu. Mereka tidak mengerti bahwa mengkhianati diri sendiri adalah kesia-siaan dan berusaha menjadi orang lain adalah hal konyol. Selain itu, berhentilah mengikuti jalan yang telah dibuat oleh pendahulumu. Jika kau ingin hidup bebas tanpa kekangan, tanpa rasa takut bahwa mungkin kau tidak akan sukses di masa depan hanya karena kau tidak mendapatkan gelar sarjana dari perguruan tinggi negeri, maka tinggalkanlah semua itu. Bukan maksudku membawamu ke suatu arah yang buruk atau apa. Tapi, yaampun, bahkan jika kau bukan bagian dari PTN tertentu, bukan berarti kesempatanmu untuk masuk Surga menjadi berkurang drastis, dan bukan berarti hidupmu akan hancur. Dalam artian, walaupun sesuatu itu dianggap penting dan berarti oleh orang lain—bahkan, jika mayoritas orang, hampir semuanya begitu—, bukan berarti kau harus mempercayai bagian itu juga. Belajarlah untuk menentang lingkungan sekitarmu. Seringkali, aku merasa kerdil karena lingkungan sekitarku. Dan, aku belajar untuk melepaskannya perlahan-lahan. Aku bilang kepada guruku bahwa aku tak suka belajar di bawah suatu sistem. Beliau mengatakan: ya sudah, belajarlah di atas sistem. Gagasan itu benar-benar mantap. Jadi, aku akan belajar di atas sistem. Jangan terlalu dipikirkan. Takut-takut kau akan memikirkannya saat mendirikan salat.
Tulisan ini dipublikasikan karena perasaan-perasaan yang bercampur aduk. Jelas bukan tulisan yang memotivasi. Ini semacam kepercayaan diri yang dikemas secara egois dan bersifat memaksa untuk didengarkan—dalam kesempatan ini, dibaca. Jangan terlalu dipikirkan. Serius.
Jadi, selamat berjuang!
P.s penulisan judul memang menyalahi aturan.
