Fiksi Mini #4: Padanya yang Mati


Padanya yang Mati
Franz Kafka. Source: Pinterest.

Rupanya Kafka telah menungguku. Sembari duduk di kursi di sudut ruangan, ia memainkan pena di tangannya. Kepalanya bersandar pada dinding dan dagunya ia topang. Aku mengetuk pintu kamarku yang sudah terbuka. Kafka gegas berdiri, merapikan jasnya.

"Ini bukan jadwal kunjunganmu." Ucapku sangsi. Aku meletakkan tas sekolah di atas kasur, membuka sepatuku sebelum memanggil Kafka untuk duduk di tepi ranjang bersamaku.

Kafka memasukkan penanya ke dalam saku.

"Kunjungan kali ini kulakukan semata-mata karena kau membutuhkanku lebih dari kapan pun. Aku rasa kau jelas menyadari gejolak aneh di dalam dirimu, benar?"

Kafka selalu datang membawa kejutan. Kali ini, ia datang membawa kejelasan perasaanku ke permukaan. Aku menghela napas.

"Kaf, pernahkah kau merasa lelah sekali bicara, padahal hanya satu kata yang kau ucapkan? Pernahkah kau merasa tiba-tiba saja tak ingin bicara? Bukan karena dirimu, tetapi karena sekelilingmu, karena orang-orang. Pernahkah kau mendapatkan dorongan untuk bungkam sepanjang waktu, bahkan berdoa agar Tuhan memberimu bisu? Pernahkah kau merasakannya? Aku hanya memiliki dua keinginan, yakni diam dan mematikan mereka yang bicara."

Saat melihat matanya, aku seperti terperosok ke dalam lubang dalam. Kafka tidak berbicara apa-apa, hanya diam di tempatnya, memandangku. Kemudian, tubuh kurusnya mendekapku.

"Kau dimatikan perlahan-lahan. Katakan kepadaku kau masih bisa bertahan."

Air mataku membasahi jasnya.

"Bicaralah denganku. Setiap waktu, aku akan selalu ada untukmu. Aku akan datang kapan pun kau menginginkannya, di setiap saat kau membutuhkanku. Sebentar lagi, sebentar saja, bertahanlah."

Aku tidak mengerti. Bagaimana bisa dia yang mati membuatku merasa didengarkan, merasa lebih nyaman, dan lebih aman? Mengapa mereka yang hidup hanya bisa menyulitkan pendengaranku? Apakah sebenarnya mereka yang hidup hanyalah tubuh-tubuh kosong tak berjiwa?