Hamlet and Kafka
Hamlet and Kafka
***
In what way is Shakespeare’s Hamlet modern?
Hello, this is a continuation of my answer to the question for Survey of English Literature class. If you read my answer on Live, yes, it’s so bad. It’s unfinished. I’ve been having trouble with formal communication and sophisticated words. I can’t even use formal language when I deliver a presentation and/or when I teach. Although these lines are written in English, I doubt you will see the content of this post in English.
***
Pengakuan: aku belum selesai baca Hamlet.
Update: aku sudah selesai baca Hamlet ketika tulisan ini diunggah ulang.
Update: aku sudah selesai baca Hamlet ketika tulisan ini diunggah ulang.
Sejujurnya, ini pertama kalinya aku benar-benar menikmati Shakespeare. Sebelumnya aku membaca Shakespeare karena terpaksa; Taming of the Shrew, Sonnet 18, Sonnet 73, Sonnet 116. Pengecualian, Sonnet 116 seru karena ada fan fiction yang ditulis berdasarkan itu. Tapi Hamlet menarik. Ada sesuatu dari Hamlet yang familiar buatku. Ternyata, setelah dibaca lebih jauh, Hamlet mengingatku akan Kafka—aku selalu mencari kepingan Kafka di setiap hal yang kubaca. Karya-karya Shakespeare lebih dahulu lahir di dunia ini. Mungkin aku seharusnya bilang, “Kafka mengingatku akan Shakespeare,” tapi ini hanya masalah New-Given information. Aku kenal Kafka sebelum aku mengenal Shakespeare. Hubunganku dengan kedua penulis ini berantai. Kafka penggemar Shakespeare, aku penggemar Kafka, sedangkan Shakespeare tidak mengenal kami. Begitulah.
Kafka penulis Jerman. Karya-karyanya ditulis dalam bahasa Jerman. Apa bisa nyambung dengan Shakespeare dari Inggris? Bisa. Karya-karya Kafka tidak memiliki latar yang spesifik. Cerita-cerita Kafka berlaku secara universal.
-
Yang aku mengerti setelah mengikuti kelas Survey hari Kamis adalah bahwa karya modern ini lahir setelah perang dunia pertama dan kedua, lalu lanjut sampai sekarang. Era modern juga menyangkut revolusi industri. Ini yang aku mengerti soal modern. Intinya, modern adalah lawan dari tradisional. Tapi Shakespeare tidak berasal dari era ini. Dia Elizabethan, bukan?
Dalam literatur, yang dianggap sebagai tradisional adalah yang mengikuti konvensi, mengikuti pola, mengikuti aturan, mengikuti tradisi. Penggunaan ini dikomentari oleh Virginia Woolf dalam tulisannya, “Modern Fiction.” Woolf menyebut penulis yang mengikuti apa yang disebutnya sebagai method sebagai slave karena menurutnya, penulis seharusnya menjadi manusia bebas dan semua cara menulis itu proper. Contoh karya yang merombak konvensi dan sudah pernah aku baca adalah Howl-nya Allen Ginsberg. Dari mana aku tahu? Well, semester dua lalu, aku mengajukan draft untuk makalahku terkait Howl, tapi ditolak karena, “Howl mengubah konvensi puisi,” dan dia terlalu panjang. Tapi penulis puisi angkatan Ginsberg tidak disebut sebagai modernist. Mereka disebutnya The Beat. Setelah semua ini, apakah Hamlet masuk ke pengertian modern ini? Menurutku tidak karena karya-karya Shakespeare original. Jika dia mengubah konvensi . . . konvensi mana yang dia ubah dan tradisi yang diangkat oleh siapa? Setahuku, karya-karya Shakepeare-lah yang mempelopori karya besar lainnya. Sok tahu itu diperlukan supaya bisa percaya diri.
Jadi, di mana letak modernnya?
-
Aku mengerti modern melalui karya-karya Kafka beserta analisisnya yang ditulis oleh orang lain. Apa hubungannya antara Kafka dan modern? Hm. Kafka salah satu penulis besar era modern. Jadi, jika Hamlet mengingatkanku akan karya-karya Kafka yang termasuk modern, maka Hamlet juga modern. Sebetulnya, tidak hanya remind me of karya-karya Kafka, namun juga of Kafka. Tapi, bagian mana tepatnya yang membuatku berpikir demikian?
Hamlet is deeply affected by his father’s death. Pertama, father. Kedua, Jika Hamlet bisa sampai ‘gila’ karena kematian Ayahnya, berarti dia dekat dengan Ayahnya. Kafka sering menggunakan hubungan antara Ayah dan anak laki-laki dalam ceritanya. Setelah itu, aku teringat The Judgment dengan Georg sebagai protagonisnya. Perbedaannya, hubungan Father-Son dalam Hamlet positif, sedangkan dalam The Judgment, hubungannya negatif. However, keduanya merana karena hubungan ini dan mereka sama-sama mencari ketenangan dalam kematian. Georg bunuh diri setelah ‘dijatuhi’ hukuman mati oleh Ayahnya, sementara Hamlet terus mengharapkan kematian. Sayangnya, Hamlet didatangi Ghost dan dititah untuk membalas kematiannya. Dia galau. To be or not to be?
Setelah berulang kali membaca Hamlet mengharapkan kematian, aku merasa dia sebenarnya sudah tidak berdaya. Dia bingung. Dia tidak tahu apa yang sebaiknya dia lakukan. Bukankah dia seharusnya menjadi raja? Tapi posisi itu diambil oleh Paman yang kemudian menikahi Ibunya. A fucked up family. Setelah kematiannya Ayahnya, Hamlet ingin kembali ke Wittenberg untuk sekolah, tapi ditolak oleh Ibunya. Escape yang dimilikinya justru lenyap. Dia tidak bisa ke mana-mana. Perasaannya untuk Ophelia tidak mempan juga. Sudah begitu, anggota keluarga dan orang-orang di dekatnya tidak mengerti. Mereka menganggap Hamlet gila. I feel bad for him. Selama membaca, aku ingin membawa pergi Hamlet, mengajaknya berlibur, membalutnya dengan selimut. Entahlah, apapun, asal dia bisa merasa lebih baik. Aku juga merasa begini waktu membaca karya Kafka, khususnya The Metamorphosis. Baik Hamlet maupun Gregor Samsa dikasihani, tapi tidak sepenuhnya dimengerti. Sudah tidak ada yang bisa mengerti, karakter-karakter ini juga tidak bisa melarikan diri. Mati segan, hidup tak mau.
Selain itu, kemunculan Ghost membuatku bingung. Horatio mengatakan Hamlet sudah kehilangan akal waktu Hamlet bilang Ghost melambai dan mengajaknya bicara. Padahal, Horatio melaporkan dia juga melihat Ghost. Bagaimana kalau Ghost memang ada, tapi dia tidak bicara? Bagaimana kalau pembalasan dendam itu tidak datang darinya, tapi dari alam bawah sadar Hamlet yang sudah terlalu terpuruk? Hamlet sudah berkabung hampir dua bulan dan pada akhirnya dia tidak lagi tahu waktu, lihat percakapannya dengan Ophelia. Kebingungan serupa juga menyerangku saat aku membaca The Metamorphosis untuk pertama kalinya. Mana mungkin seorang manusia terbangun dari tidurnya sebagai kecoak? Tak peduli seberapa anehnya itu, cerita tetap berlanjut.
Dalam soliloquy-nya, Hamlet menyebutkan people in power atau, hm, birokrat? Dia juga menyebutkan tidak efisiennya hukum. Efficiency. Dari caranya bicara, dia mengindikasikan rasa muak terhadap semua ini, sampai lebih baik mati saja dengan tusukan pisau daripada harus menyaksikan kelaliman birokrat. Hal-hal ini amat sangat biasa ditemukan dalam cerita Kafka. Ketika membaca bagian law’s delay, aku teringat Before the Law-nya Kafka. Di samping itu, bagian ini mengingatkanku pada pembukaan adaptasi The Trial (1962) dir. Orson Welles, mengutip Louis Chauvet, “Starting with a relatively simple idea, Kafka plunges us into an incoherent, absurd and surreal world. The idea is this: Bureaucrats, the system of administration and its power crush the individual.” Salah satu karakteristik literatur era modern adalah individualisme.
Kesimpulannya, aku tidak tahu persis mengapa Hamlet modern. Menurutku, Hamlet modern karena ceritanya berfokus pada karakter dan perasaannya serta bagaimana dia mengambil keputusan berdasarkan hal itu. Hamlet juga modern karena dia mengindikasikan pergulatan terhadap birokrat, entah mengapa this sounds too much like Kafka. Selain itu, menurutku, Hamlet berusaha melarikan diri dari The Inescapable which is impossible. Resistance is futile. Mungkin karena sudah menyerah, gairah untuk membebaskan diri dari apapun itu yang menjeratnya, Hamlet merespon dengan, “Yaudahlah, jalanin aja.”