Fiksi Mini #1: Garis Takdir yang Tak Bersinggungan

Garis Takdir yang Tak Bersinggungan


The Art is Christian Schloe’s.

***
Saat embun hinggap diantara gugusan ilalang yang melambai, tertiup sejuk udara pagi yang membelai lugu, terpantul bayangmu pada beningnya yang menentramkan.

Saat hujan membasahi bumi, deras dan memilukan; seolah ia menghapus jejak sepi pada kerontangnya hati. Hadirlah hangat mentari yang menemani, lengan kasihmu mengulur rangkul ringkihnya tubuhku.

Saat bulan menyapa, berkelip manja sebab cinta mentari yang tak ingkar janji, bintang-gemintang turut bahagia, cahayanya memancar tak kenal arah; berpendar ramah layaknya senyum manis nan tulus di bibirmu.

Saat dedaunan runtuh dari tangkainya, bergemirisik ricuh, mengusik telinga; burung-burung meninggalkan sangkar yang terpaut pada himpunan dahan, mencari pelarian yang mendamaikan. Setelah ribuan malam yang dilalui, saat dedaunan menjadi perlindungan nan memberi kenyang dan bahagia nan di damba, saat semuanya terasa indah, malam-malam itu berlalu; tergantikan oleh siang yang menyayat dan memilukan. Burung pergi mencari rindang yang lain, melupakan sangkar dan runtuhan dedaunan dari pohon yang menghidupinya. Dengan setiap semut yang berbaris rapih sebagai saksi, ia berpaling, selayaknya dirimu.

Fana. Kamu fana; mudah membahagiakan. Pun, dengan ringan menguburku dari benakmu yang dulu menyimpanku, dari hatimu yang dulu mengikatku, dari setiap memori yang terukirkan, dari garis takdir yang tak bersinggungan.