BANÁN #3 Representasi Perempuan dalam Star Trek: The Original Series’s “Elaan of Troyius”


“Elaan of Troyius” adalah salah satu episode Star Trek: The Original Series yang aku anggap tidak pernah ada. Episode ini membuatku merasa tidak nyaman. Banyak bagiannya yang membuat keningku berkerut bukan karena patut dipikirkan, tetapi lebih karena kelewat aneh dan beberapa lebih pantas dikatakan sebagai serangan tak terduga. 

Awalnya, perasaan tidak nyaman ini hanya sesaat. Saat layar berhenti menampilkan episodenya, perasaan itu hilang. Namun saat dilihat lebih jauh, alasan ketidaknyamanan ini begitu kuat terasa worth untuk dibahas. Ketika mengetahui France Nuyen—aktris yang memerankan karakter Elaan—merupakan orang Perancis berketurunan Vietnam (Vietnamese-French), aku mulai bertanya, “Apakah ada sindiran terhadap budaya Timur di sini?” Yang aku maksud dengan budaya Timur di sini adalah kebiasaan makan dengan tangan, kecenderungan perempuan untuk “malu-malu” mengenai seks, dan ta’aruf. Jawabannya, mungkin saja. 

Dugaanku ini berbasis pada teks atau segala yang dapat dibaca dalam episodenya dan pada mulanya tanpa memperhatikan intertekstualitas. Tapi, sebelum membahas ini dan masuk ke bagian intertekstualitas dari “Elaan of Troyius”, aku ingin membahas sesuatu yang sifatnya lebih universal, yaitu representasi perempuan dalam episode ini. 

*** 

Sinopsis Elaan of Troyius 

Elaan adalah seorang dohlman atau ratu dari Elas. Dia diceritakan akan dinikahkan demi kepentingan politik dan persatuan dua planet yang bersangkutan, yaitu Elas dan Troyius. Karena pernikahan ini, seorang ambassador dari Troyius yang dalam kesempatan ini berperan sebagai guru hadir untuk “mengajarkan” customs planetnya kepada Elaan. Selain itu, demi perdamaian antara kedua planet yang apabila gagal akan menyebabkan catastrophe bagi Federation, kru Enterprise diminta mengawal dan menjadi penengah dalam urusan ini. 

*** 

Representasi Perempuan dalam “Elaan of Troyius” 


Walaupun mengakui keragaman yang diwakilkan oleh slogan Vulcan, “Infinite Diversity in Infinite Combination” atau singkatnya IDIC, ternyata dalam episode ini diverse universe tidak terbebas dari prejudice. Bedanya, sangkaan ini di-sains-kan alias berbasis penelitian dan diakui. Hal ini dapat dilihat dari cara Spock bicara tentang the Elasians yang juga merupakan indirect characterization melalui dialog tokoh. 

SPOCKSounds typical of the Elasians. The scientists who made the initial investigation reported the men were vicious and arrogant. 

Penggunaan “the scientists” termasuk ke dalam Functionalization menurut teori Representing Social Actor-nya Van Leeuwen. Akibatnya adalah pernyataan Spock dan dengan demikian perkataan para ilmuwan mengenai orang-orang Elas ditampilkan sebagai kebenaran. 

Dari episodenya, dapat dipahami bahwa ini pertama kalinya kru Enterprise bertemu dengan Elasians. Akan tetapi, Spock menggunakan “typical” dalam ujarannya. Menurut kamus daring Cambridge, typical memiliki arti “showing all the characteristics that you would usually expect from a particular group of things.” Artinya Spock sudah menduga karakteristik tersebut yang dimunculkan atau diperkenalkan pertama kali melalui voice karakter lain, yakni Uhura yang men-decode transmisi dari Elas. Dugaan ini berasal dari perasaan akrab dengan yang dibicarakan, padahal baru pertama kali akan bertemu. 

MCCOYThat's just the negative part, Mister Spock. I've been over those records. Now the women, they're supposed to be something very special. They're supposed to have a kind of subtle, mystical power that drives men wild. 

Ucapan Spock di atas ditanggapi oleh McCoy. Dalam line keduanya dapat ditemukan generalisasi bagi orang-orang Elas yang dibagi dalam dua kelompok besar berdasarkan gender, yaitu “the men” dan “the women”. Para perempuannya digambarkan sebagai objek. Penggunaan pronomina “they are” merujuk pada “the women” yang merupakan makhluk hidup yakni person dalam bentuk jamak. Mereka kemudian ditampilkan sebagai objek dengan pronomina “something”. Selain itu, mereka juga digambarkan dengan menonjolkan atribut yang mereka punya, “a kind of subtle, mystical power”. Selanjutnya, “supposed to be” menandakan bahwa hal ini dipercayai banyak orang, belum terbukti dan diragukan oleh pembicara atau penulisnya. Dari ekspresi McCoy, dapat dilihat bahwa dia excited untuk menemukan apakah dugaan tersebut benar atau tidak. 

Penggambaran perempuan Elas yang diwakilkan oleh Elaan sebagai objek juga dapat ditemukan pada line berikut: 

PETRIThat creature, Elaan, is to be the wife of our ruler to bring peace. Our two warring planets now possess the capability of mutual destruction. Some method of co-existence must be found. 

Elaan dikenalkan dengan “that creature” dahulu sebelum namanya, Elaan. Selain ditampilkan sebagai objek, Elaan juga ditampilkan sebagai burden dan masalah yang harus diperbaiki, sebagaimana dapat dilihat pada line: 

PETRIYes. But slowly, Captain. I will need time. Before we reach there, she must be taught civilised manners. In her present condition, my people would never accept her. 

KIRKAnd you are to be her teacher? 

PETRIThose are my orders. I must ask you and your crew to respect, or at least tolerate, their arrogance. Friction must be kept at a minimum. 

Perbedaan budaya antara Elas dan Troyius menggiring Elaan yang berstatus sebagai ratu untuk dibina agar sesuai dengan budaya calon suaminya. Perbedaan ini setara dengan good vs. bad di mana Elaan menempati posisi bad. Dengan “she must be taught civilised manners”, Elaan digambarkan kebalikan dari civilised alias uncivilised yang karenanya ia harus diajarkan oleh seorang guru (laki-laki). Saking parahnya manners Elaan sampai-sampai mereka yang sebentar lagi akan menjadi rakyatnya tidak ingin, tidak akan menerimanya. 

Satu hal lain yang menarik perhatianku adalah bahwa urusan manners Elaan dan pernikahannya ini menjadi misi resmi dari Federation. Aku mengerti bahwa yang menjadi fokus Federation adalah bersatunya planet Elas dan Troyius. Tapi jika menyimak line di bawah ini, yang menjadi hal paling penting dari misi ini bukanlah persatuan itu, melainkan Elaan. 

PETRIAnother thing you should understand, Captain. You have as much at stake as I have. Your superiors made the statement that failure of this mission would be as catastrophic for Federation planning as it would be for our two planets. To gain peace at the price of accepting such a queen is no victory. I will take her the official gifts I bear. Perhaps that will soften her mood. 

Dapat dikatakan bahwa misinya adalah persatuan dan perdamaian, namun visi yang harus dicapai adalah perbaikan tata krama Elaan dan pernikahannya dengan raja dari Troyius. Walaupun bisa dicapai dengan pernikahan segera, mereka memilih untuk tidak melakukannya karena, “To gain peace at the price of accepting such a queen is no victory.” Penggunaan “such a queen” menekankan betapa buruknya kelakuan Elaan dan betapa tak pantasnya ia sebagai queen, sehingga ia harus diperbaiki. Salah satu jalan yang ditempuh untuk membujuk Elaan adalah dengan memberikan hadiah. Lihat pula hadiah macam apa yang diberikan: official gifts. Dalam hal ini, hadiah-hadiah itu berarti pemberian resmi dari Troyius untuk Elaan dari Elas. Dengan kata lain, pemberian formal. 

Elaan dipandang sebagai petinggi planetnya—sebagai ratu—namun karena dia sebegitu blangsaknya, dia harus diajari mengenai tata krama sehingga ia bisa menjadi ratu yang sebenarnya. Sebegitu mengerikannya Elaan sampai Kirk harus berkata frontal di hadapannya, “Then act in a civilised fashion.” Tak hanya itu, Petri sang guru pun sampai menyerah. Dia memilih kembali pulang ke planetnya dan membahayakan misi penting ini. 

PETRICaptain, I wish to contact my government. I cannot fulfil my mission. It would be an insult to our ruler to bring this incorrigible monster as a bride! 

Tidak tanggung-tanggung, adjektiva yang dipilih untuk nomina “monster” adalah “incorrigible” yang menurut Cambridge memiliki arti, “An incorrigible person or incorrigible behaviour is bad and impossible to change or improve.” Masih mending definisi Cambridge yang menggunakan nomina person dibandingkan teks di atas yang menggambarkan Elaan sebagai monster

Masih berusaha untuk mengubah Elaan, Petri yang merasa ingin membunuh Elaan ketika ada di sekitarnya mendengarkan peringatan Kirk untuk bersikap ramah. Akan tetapi, saat Petri mengatakan bagaimana jika Elaan tidak mendengarkan, Kirk menjawab dengan line di bawah ini: 

KIRKThen make her listen, Ambassador. Use a different approach. Stop being so diplomatic. She respects strength. Go in strong. 

Satu di antara beberapa hal yang aku pelajari mengenai “make” adalah bahwa dalam penggunaannya ada unsur ketidak-suka-relaan atau bersifat involuntary atau bahkan paksaan. Menurutku, contoh di atas memuat unsur yang ketiga, yaitu paksaan. Jika pendekatan halusnya tak bekerja, maka gunakan pendekatan lain yang lebih kuat, yang dapat membuat Elaan mendengarkan. Apa yang berseberangan dengan diplomatic, yang sifatnya kuat atau dalam hal ini keras, yang dapat membuat Elaan mendengarkan Petri? 

Semua ini berkaitan dengan gender Elaan. Karena dia perempuan, maka untuk berperilaku sebagaimana ia berperilaku tidaklah pantas dan dianggap tidak wajar. Jika Kapten Kirk seperti dalam episode “The Enemy Within” melakukan hal-hal menyimpang, contohnya sexual assault dan bersikap keras serta kasar justru dianggap sebagai hal yang attractive. Tentunya hal ini berbasis pada gender male Kirk. Karena dia laki-laki, maka wajar jika dia bersikap, bertindak demikian. 

Kembali ke Elaan. Bahkan sewaktu Elaan seorang ratu pun, lingkungannya tidak dapat memisahkan Elaan dari gendernya. Hal ini memunculkan penilaian-penilaian yang merendahkan. Misalnya stereotip bahwa perempuan bukanlah pemimpin yang baik karena terlalu emosional dan karena dia tidak mengerti tentang kewajiban dan tanggung jawab. 

Yang pertama dapat dilihat melalui pemberian hadiah yang bersifat formal dan sepenuhnya terpisah dari perasaan dan kelembutan. Walaupun sikap Elaan tergolong keras, dia memiliki perasaan dan keinginan untuk dicintai, tapi tak seorang pun di luar planetnya yang memahami hal itu. Dia mengeluh, “That's all you men of other worlds can speak of, duty and responsibility.” Selain menunjukkan sisi vulnerable atau malah "bawaan gender" Elaan, line ini juga seolah ada untuk menunjukkan bahwa inilah yang terpenting bagi Elaan, yaitu untuk mencintai dan dicintai. Dengan kata lain, meskipun seorang ratu, dia tak terpisahkan dari emosinya, sehingga dia derailed dari kewajibannya.

Sementara itu, yang belakangan dapat ditemukan dalam dialog dalam episode ini. Contoh pertama adalah ketika Elaan dan Kirk bicara tentang mereka dan well, feelings are involved—sederhananya. Kirk mengatakan, “We have a duty to forget what happened.” Merupakan duty karena mereka tidak bisa bersama. Elaan telah dijodohkan dengan orang lain. Penggunaan “duty” bukan saja menandakan hal tersebut, namun juga mengingatkan Elaan bahwa dia punya andil dalam menjalankan duty ini. Dengan kata lain, Elaan dinilai tidak serius dalam menjalani kewajibannya dengan menjadikan hubungan mereka yang dianggap distraksi sebagai fokus utama. Pada dasarnya, inilah yang menjadi masalah utama dalam episode ini: mengenai keseriusan dan kedewasaan Elaan yang seorang perempuan dalam memimpin dan mengemban tugasnya. Oleh karena itu, resolusi yang ditampilkan adalah Elaan yang seolah-olah tersihir tiba-tiba pasrah dinikahkan dengan raja dari planet lain yang merupakan musuh besarnya, membuang perasaannya untuk Kirk, dan menjadi kalem. Kemudian Elaan berpamitan dengan ujarannya, “I have only responsibilities and obligations. Goodbye.” Bahkan dalam judulnya—“Elaan of Troyius”—pun Elaan tidak ditampilkan sebagai dirinya, yaitu Eaan of Elas, tetapi sebagai siapa dia seharusnya. Elaan hanya punya tanggung jawab dan kewajiban, seolah-olah untuk menjadi pemimpin yang baik, seorang perempuan harus meluruhkan identitasnya. 

Hal di atas menguatkan anggapan bahwa perempuan tidak pantas menjadi pemimpin. Itu sebabnya baik Petri maupun kru Enterprise “mendidik” Elaan mengenai kepemimpinan. Dalam kehidupan nyata, kejadian seperti ini mewujud sebagai peremehan kemampuan perempuan dan mansplaining. Selanjutnya, entah karena apa, sepertinya tata krama atau manners perempuan diawasi dengan ketat sampai-sampai harus cepat-cepat diluruskan dan diatur sedemikian rupa (contohnya, orang banyak berlomba dalam mengingatkan bahwa perempuan wajib menggunakan hijab untuk menutupi aurat, tapi nyaris tidak ada yang memberitahu bahwa aurat laki-laki itu sampai ke lutut, tapi mereka seenaknya saja memakai celana bokser. Batas atasnya sampai pusar, tapi yang lelaki malah asik memamerkannya. Heran). Entah dengan alasan apa, pria dan golongan sejenisnya merasa berkuasa untuk mengatur perempuan dan memberi contoh—pokoknya mah, perempuan itu pasif dan pantasnya menerima saja. Entah kenapa pula pria merasa begitu berkuasa dan merasa harus menjadi pihak yang mendominasi (memang pria dan perempuan diciptakan tidak sama, tapi bisa setara, bukan?). Sayangnya, bahkan di dunia Star Trek yang dinilai progresif ini, perempuan masih ditampilkan sebagai pihak inferior. 

Alasan mengapa harus perempuan yang menjadi contoh dan mengapa harus ditampilkan demikian perlu untuk dilihat lebih jauh. Itulah maksud tulisanku ini. Kira-kira begitulah bagian pertama dari unggahanku menyangkut “Elaan of Troyius”.