BANÁN #2: “une combinaison inférieure de la nature humaine”
Judul di atas diambil dari Histoire Générale Et Système Comparé Des Langues Sémitiques-nya Ernest Renan yang dikutip dalam buku Orientalisme-nya Edward Said. Tulisan ini merupakan catatan bacaan. Status: hlm. 229/549.
***
Pertama-tama, ini waktu terlama yang kuhabiskan untuk menyelesaikan satu buku. Sudah lebih dari satu bulan, namun belum selesai juga. Selain karena terus dijeda oleh pengerjaan tugas, drama fangirl, dan kehidupan nyata, buku Orientalisme ini memang harus dicerna pelan-pelan. Sebagai makhluk stoopid tak terkira, aku merasa buku ini sangat rumit. Bukan hanya dari struktur kalimatnya yang rata-rata kompleks, tapi juga karena buku ini memuat banyak sekali nama penulis yang asing bagiku. Namanya saja sudah asing, apalagi tulisan dan ide-ide mereka. Itu sebabnya aku harus sabar dalam memahami apa yang Said coba sampaikan. Analisis dan penjabaran yang beliau berikan sangat jelas, tapi sebagai pembaca aku merasa Said kerap kali melompat dari satu bahasan ke bahasan lain—atau akunya saja yang lambat memahami?
![]() |
| Edward Said. Sumber gambar: Wikipedia. |
Said adalah salah seorang tokoh dari studi poskolonialisme. Orientalisme ini merupakan salah satu karya terbesarnya, yang juga paling populer. Secara singkat, orientalisme adalah penggambaran Timur oleh pihak Barat. Hal ini bermula saat orang-orang Barat mulai melakukan ekspedisi dan perjalanan ke dunia bagian lain.
Sebenarnya, catatan bacaan ini berfokus pada satu bab terakhir yang aku baca, yaitu “‘Sacy dan Renan: ‘Antropologi Rasional’ vs ‘Laboratorium Filologis’. Bab ini merupakan bagian kedua dari buku Said yang diberi nama “(Re)Strukturasi Orientalisme”. Sebagaimana judulnya, bab ini membahas kedua penulis tersebut serta peranan mereka dalam orientalisme abad ke-18 dan abad ke-19.
Antoine Isaac, Baron Silvestre de Sacy adalah seorang ahli bahasa dan orientalis asal Prancis yang lahir pada 21 September 1758.
Dalam bab ini, Said membahas Principes de Grammaire Generale-nya Sacy yang terbit pada 1799, di samping yang lainnya. Dapat dikatakan judul buku Sacy ini adalah satu-satunya hal yang akrab di telingaku mengenai Sacy. Itu juga entah karena apa. Awalnya kupikir karena entah semalam atau dua malam sebelum membaca bab ini, aku sempat menelusuri bunyi-bunyi dalam bahasa Arab sambil mendengarkan Shihab & Shihab di Youtube. Tapi saat aku lihat lagi halaman webnya, nama Sacy dan judul bukunya tidak dapat aku temui. Entahlah.
Ada beberapa hal yang dibahas Said mengenai Sacy yang menurutku menarik. Salah satunya adalah gaya penulisan Sacy yang bersifat pedagogik, seperti guru yang menjelaskan kepada muridnya dan memang begitulah Sacy menganggap para pembacanya, sebagai murid dan anaknya. Kusimpulkan, menurut Said, Sacy melakukan restrukturisasi orientalisme dengan mengenalkan Timur secara teratur artinya tersusun alih-alih sebagai sesuatu yang abstrak, sulit dipahami serta tak terjangkau—sebagaimana dalam orientalisme pada mulanya—melalui tulisannya yang bersifat pedagogik ini.
Said menulis, “disiplin pedagogik yang lebih bersifat efektif daripada menarik.” Sebetulnya yang menarik perhatianku adalah betapa betulnya hal ini dalam sistem pendidikan masa kini—sayangnya ini juga menunjukkan bahwa sistem pendidikan tidak benar-benar berubah. Pasalnya, selama sekian tahun mengenyam pendidikan, sedikit sekali materi yang aku anggap menarik. Tapi satu hal yang pasti, semua diajarkan dalam kelas atas dasar efektivitas. Entah mengapa efektif dan menarik seolah berada pada dua kubu yang bermusuhan, padahal menurutku, mereka bisa berada pada sisi yang sama. Satu-satunya masa belajarku yang benar-benar kusukai adalah tiga tahun belajar di sebuah kursus bahasa Inggris. Sisanya jarang sekali berkesan.
Selain membuat proses belajar membosankan, sistem ini juga membuat semuanya seolah mudah dan sederhana. Ini pula yang diupayakan oleh Sacy. Dia menjadikan Timur sebagai sesuatu yang seolah dapat digenggam. Dia menyederhanakan Timur melalui kumpulan karya sastra dan menghilangkan bagian ke-Timur-annya dengan alasan bahwa hal-hal tersebut tak terjangkau bagi orang-orang Barat yang katanya telah berpikiran lebih maju (walaupun sebetulnya tidak sesederhana ini, aku memahami—atau berusaha mengingatnya—seperti ini).
Penghilangan unsur ke-Timur-an ini terjadi pada karya-karya Rumi seperti dapat dilihat pada utas ini atau artikel ini. Unsur ke-Timur-an ini seringkali berkaitan dengan Islam, Abrahamic faiths lainnya, dan eksotisnya Timur. Dalam kasus Rumi, unsurnya berupa Islam. Aku sempat berkenalan dengan Rumi, namun tidak sampai selesai membaca bukunya yang berisi kasidah. Tulisan Rumi sarat akan unsur ilahiyah dan rujukan pada Alquran. Untuk memahami satu puisi dari pujangga ini aku perlu membuka Alquran berkali-kali dan tentu saja tidak serta-merta langsung memahaminya hanya dengan membaca terjemahan. Singkatnya, bagiku Rumi adalah penyair luar biasa yang karyanya tidak bisa disederhanakan menjadi kutipan-kutipan bijaksana sebagaimana salah seorang penerjemah menerjemahkannya untuk orang-orang Barat seperti yang dibagikan dalam utas terlampir. Ini baru satu contoh. Jika penerjemahan dan interpretasi terhadap karya-karya Timur telah berlangsung sejak lama, berapa banyak dari karya tersebut yang unsur ke-Timur-annya dihapuskan?
Rasanya sangat tidak adil dan menyebalkan bukan main karena sebagai mahasiswa aku terus dipaksa membaca dan memahami karya sastra Barat, khususnya Inggris, tanpa ada pengurangan atau penghilangan unsur apa pun. Jika sulit dipahami, ya terus saja berusaha memahami. Karena ini pula, representasi mereka jauh lebih dekat dengan kenyataan, sehingga tidak menimbulkan kesan tertentu yang merugikan dan sangkaan tak berdasar. Sementara itu, orang-orang Barat memahami karya Timur yang disederhanakan. Hal ini merepresentasikan Timur menurut pemahaman sang interpreter atau penerjemah yang seringkali berujung pada kesalahpahaman dan kumpulan sangkaan. Karena ini pula orang-orang Timur masih terus bergulat dengan stereotip-stereotip.
Selain Sacy, Said juga membahas tentang Renan. Ernest Renan (1823 - 1892) adalah seorang ahli bahasa sekaligus merupakan tokoh bidang biblika (biblical) dan dia pula berkecimpung di dunia keagamaan. Dari sekian banyak hal yang dipaparkan Said, yang membekas benar-benar di kepalaku adalah dikotomi Indo-Eropa/Semit dan organik/anorganik.
Pembahasan Renan tentang cabang bahasa Semit ini bersifat komparatif yang melibatkan perbandingan antara satu bahasa dengan bahasa yang lain. Renan berasal dari Prancis alias dunia Barat yang bahasanya termasuk dalam rumpun Indo-Eropa, sementara cabang bahasa Semit lekat hubungannya dengan Timur. Bahasa yang dianggap organik adalah bahasa dari rumpun Indo-Eropa, di sisi lain bahasa Semit adalah bahasa anorganik. Dikotomi organik/anorganik ini merujuk pada sifat generatifnya atau kemampuan bahasa tersebut untuk beregenerasi atau berkembang.
Perbandingan antara dua bahasa dari kedua rumpun di atas dapat dilihat pada halaman Wikipedia mengenai bunyi-bunyi dalam bahasa Arab yang sempat kubaca sebelumnya. Perbandingan ini berkesan kompetitif. Begini katanya:
In case you mistakenly think that Arabic has more sounds than English, the following sounds do not exist in Arabic, with the sounds that are usually substituted for them in borrowed words.
Kalimat ini mendahului daftar bunyi yang hanya ada dalam bahasa Inggris. Selain sebagai pengenalan bagian baru, kalimat di atas juga berfungsi sebagai pelurusan dan pembuktian bahasa mana yang punya bunyi lebih banyak seolah-olah ada kompetisi antar dua bahasa tersebut. Bahasa Inggris sebagai bagian dari rumpun Indo-Eropa dinilai lebih superior karena memiliki bunyi yang tidak ada dalam bahasa Arab. Tapi, mengapa sebetulnya hal seperti ini terjadi?
Seingatku, tidak ada bahasa yang lebih unggul atau primitif sebagaimana tidak ada budaya yang good atau bad, “It is what it is,” begitu kata bahan bacaan kelas Reading dua semester lalu. Penilaian Renan mengenai orang-orang Timur—yang kujadikan judul unggahan ini—sesungguhnya konyol.


