BANÁN #1: Aku menulis ini untuk berkeluh-kesah dan meluapkan emosiku.

Tahun ini dibuka dengan rumor Perang Dunia III. Jika bukan karena buku How I Live Now-nya Meg Rosoff, aku mungkin sudah gila sekarang (terima kasih, buku). Walaupun relatif functional, aku tidak henti-hentinya mendapati pikiran negatif dan skenario apokaliptik tumbuh dan hidup di kepalaku.

Waktu bertemu dengan beberapa teman dari masa SMP—kecuali aku dan satu orang lainnya, mereka adalah mahasiswa bidang ilmu eksak—aku berusaha membicarakan kegelisahanku. Aku tanya, “Semisal kamu jadi ahli nantinya, apa kamu akan mendengarkanku atau saran dari teman-teman humaniora lainnya?” (bahasanya tentu diperhalus, tidak mungkin aku bicara seperti ini). Ini pertanyaan iya-atau-tidak, tapi tidak dijawab dengan pilihan yang ada. Masalahnya adalah, sama seperti para ilmuwan bidang kesehatan selama masa pandemik di Indonesia, kebanyakan ahli di bidang humaniora tidak didengarkan. Sama seperti ahli di bidang lingkungan, para aktivis, bahkan mungkin juga orang-orang sejarah.

Dosenku bilang begini, “Kalian masih mending ada humanioranya di jurusan ini. Seenggaknya kalian bisa sadar betapa jahatnya kalian sebagai manusia.” Dari kesadaran ini, muncullah gerakan perjuangan untuk mencapai kesama-rataan dan keadilan, mengenai perlindungan hak, dan pengawasan—bahkan perlawanan terhadap—pemerintah sebagai garda depan jalannya suatu negara—demokrasi? Hm.

Perjuangan ini tidak berhenti di tengah pandemik Covid-19. Artinya memang ada ketimpangan, kesenjangan, dan kesegala-macaman yang mencederai hak sesama manusia. Hal ini terjadi di mana-mana. Karena pandemik dan kebijakan social distancing, beberapa aksi digelar secara daring—misalnya aksi #MigranJugaManusia yang dicanangkan oleh Amnesty Internasional Indonesia, meskipun tidak sedikit juga yang dilakukan secara langsung. 

Salah satu yang menjadi sorotan adalah isu terkait kondisi ekonomi, masalah kaya dan miskin. Contoh yang paling jelas adalah negara kapitalis Amerika Serikat. Beberapa temanku di Twitter kehilangan pekerjaan, beberapa berubah statusnya menjadi essential worker tanpa tambahan upah tapi jam kerja yang lebih, dan beberapa lainnya menjadikan pekerjaan sampingan mereka menjadi pekerjaan utama—kebanyakan adalah seniman (artist). Di kala banyak yang menderita, para pengusaha justru meraup pemasukan berlebih, hingga salah satunya Jeff Bezos—CEO Amazon Inc.—dikatakan dapat menjadi trillionaire pertama di dunia. Pekerja Amazon akhirnya melakukan strike pada May Day 2020 (ini aku sederhanakan).

Masih berkaitan dengan sistem ekonomi, banyak yang memuji Kuba karena menerima British cruise ship yang penumpangnya terpapar Covid-19. Selain Kuba, ada pula Cina dan Vietnam yang berhasil menanggulangi pandemik ini dengan luar biasa. Ketiganya adalah negara komunis. Karena ini, terjadi perdebatan: negara dengan sistem ekonomi manakah yang menanggapi pandemik ini lebih baik? Apakah kapitalis atau komunis? Bagaimana dengan Indonesia yang sistem ekonominya adalah ekonomi Pancasila?

Katanya Indonesia itu bukan kapitalis, bukan juga komunis. Ambil baiknya, begitu. Tapi, melihat Omnibus Law dan bagaimana undang-undang Minerba disahkan pada 12 Mei 2020 lalu, serta ada saja pihak dalam negeri yang menggoreng paham komunisme beserta PKI—yang terus dibingkai sedemikian rupa hingga menurutku menjadi hantu dari masa lalu yang berperan nyaris serupa dengan peristiwa 9/11 bagi Amerika, sepertinya aman mengatakan bahwa Indonesia menjadi negara yang agaknya kapitalis—atau memang? 

Banyak usaha kecil yang tutup, pedagang kaki lima banyak yang tidak mendapatkan penghasilan, pekerja diberhentikan, perubahan status menjadi essential workers, dan sebagainya merupakan dampak dari pandemik Covid-19 ini. Masalahnya adalah most of us are not financially secure. Idealnya, negara menjamin keberlangsungan hidup rakyatnya. Bukan hanya berupa asuransi kesehatan, tapi juga memberikan subsidi, serta perlindungan dan tempat singgah bagi kawan-kawan tunawisma—sebagaimana New Zealand melakukannya. Sudah tidak ada perasaan aman secara finansial dan terkait kesehatan, Indonesia juga tidak memiliki sumber data dan informasi yang jelas. Penyebaran informasi benar, tidak simpang-siur, tidak saling bertabrakan, dan akurat berdasarkan data terbukti membantu dalam menanggulangi Covid-19, contohnya adalah Jerman dan Australia. Sudah tidak jelas begini, di Indonesia juga tidak ada massive dan aggresive testing seperti yang dilakukan Korea Selatan. Ada tes yang dilakukan di stasiun, terminal, pelabuhan, dan tempat sejenisnya. Akan tetapi, tes ini dilakukan kepada orang secara acak dan tidak menyeluruh. Sudah tidak ada tes massal, rakyatnya pun banyak yang melanggar kebijakan social distancing dan keluar rumah untuk hal yang tidak penting. Tuhan, lelahnya aku. Sudah diingatkan bahwa tenaga medis kewalahan dan beberapa di antaranya tumbang, malah dikatai tak ingin kerja dan maunya makan gaji buta. Sudah pemerintahnya sekumpulan badut, banyak pula rakyatnya yang tolol. Pusing.

Katanya, di rumah saja, jaga jarak dan terapkan protokol kebersihan guna mencegah penyebaran Covid-19 agar kurvanya melandai. Piye? Kurvanya saja Indonesia tidak punya. Bukannya menggandeng ilmuwan dan mengikuti arahannya, pemerintah malah menggandeng aparat kepolisian dan militer. Boro-boro menerapkan New Normal karena negara ini belum mencapai titik puncak—tidak ada aggresive testing, jadi yang ketahuan terkena Covid-19 sedikit—yang ada ini negara kembali ke New Order.

Covid-19 tidak hanya menonjolkan kesenjangan ekonomi dan sosial, tapi juga memperburuk rasisme. Trump menyebut Covid-19 “Chinese Virus”. Hal ini berdampak pada Asian-American folks di Amerika. John Cho—aktor yang memerankan Sulu di Star Trek—menulis esai di Los Angeles Times, mengatakan “Our belonging is conditional.” Warga Asian-American di sana mendapat perlakuan semena-mena: diguyur air, diludahi, diteriaki, dihina, dan lainnya. Sentimen ini juga ada di Indonesia. Ada saja yang menyebut Covid-19 ini dengan “Virus Cina” dan menyudutkan warga keturunan Tionghoa. Tak hanya itu, virus ini juga digunakan sebagai bahan banyolan oleh Mahfud MD yang mengatakan, “Virus Korona seperti istri.” Duh, misoginis.

Aku sudah berulang kali berusaha menyusun paragraf mengenai kasus pembunuhan George Floyd oleh seorang polisi bernama Derek Chauvin dan inilah hasil akhirnya. Pembunuhan ini salah satu kasus berbasis rasisme di Amerika Serikat, diskriminasi terhadap black folks. Pembunuhan ini pula yang menggiring orang berkulit hitam melakukan aksi protes di sana. Isu rasisme ada sejak lama dan diskriminasi dihadapi oleh people of color setiap harinya. Veronica Koman mengatakan, ini hanyalah puncak gunung es yang mengkristalisasi kemarahan, sama seperti tindakan rasis terhadap orang-orang Papua di Surabaya waktu lalu. Rasisme juga ada di Indonesia. Betul. Di samping melawan diskriminasi, orang-orang Papua juga berjuang untuk kemerdekaan mereka. Selain rasis, Indonesia juga penjajah. Begitu. Paragraf ini aku akhiri dengan #BlackLivesMatterfuck racism, dan screw the police. Aku juga mau bilang #ImmigrantLivesMatter.

Anyway, di Twitter sempat trending LGBT dan Tuhan di saat yang bersamaan. Begini, kalau kamu tidak setuju, silakan diam saja. Kalau kamu menerima mereka dan mendukung, silakan suarakan dukunganmu. Tidak perlu memberitahu anggota komunitas LGBT bahwa mereka berdosa, menyalahi aturan Tuhan, melanggar ini dan itu. LGBT folks ada dan hidup di dunia nyata. Mereka bukan hanya karakter yang kamu baca di buku dan kamu tonton di media. Jangan jadikan mereka fetish, apalagi kamu bilang “tidak apa dong aku ship mereka karena mereka lucu” atau “engga apa-apalah kalau nge-ship, kan cuma di film/drama” atau "aku dukung, tapi cuma di film/drama." Either you support them or you don’t. Jangan bilang hanya buat senang-senang. Begitu menurutku.

Seperti kataku, aku menulis ini untuk berbagi keluh-kesah dan meluapkan emosiku—entah emosi yang mana. Semua yang kutulis ada sumbernya dan bisa ditemukan di internet. Oh, ya, semua hal di dunia ini tidak ada yang sederhana. Semuanya rumit dan saling berhubungan, jadi sabarlah. 

Sebagai penutup, aku mau bilang hidup memang melelahkan. Sangat wajar jika kebingungan serta kekhawatiran menyerangmu, tapi tolong jangan putus asa. Putus asa itu berat, kamu tak akan kuat, biar aku saja.

Terima kasih orang-orang baik,
salam dariku,
Kafka’s.